Jumat, 18 Oktober 2019

Inilah “Nganten Mubeng”, Tradisi Pengantin Baru di Masjid Wali

omonganem.com nganten mubeng

MENIKAH bagi warga Desa Loram Kulon tak cukup hanya dengan prosesi akad dan pesta akbar. Ada ritual yang pantang untuk ditinggalkan. Namanya “Nganten Mubeng”. Tradisi ini turun temurun dilestarikan oleh warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Nganten berarti pengantin. Pasangan muda-mudi yang baru mengikrarkan janji sehidup semati. Mubeng berarti berkeliling. Singkatnya, nganten mubeng berarti tradisi yang dilakukan oleh pengantin baru dengan berjalan berkeliling.

Apa yang dikelilingi?

Siang itu cuaca panas terik. Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Empat jam sebelumnya, Budi Santoso (26) mengikat janji suci mempersunting Linda Agustin (23). Budi tinggal bersama keluarganya di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati. Sementara Linda berdomisili di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota.

Usai akad nikah sah di depan penghulu, ayah Budi mengingatkan tradisi turun-temurun keluarganya yang berasal dari Loram Kulon. Ya, Nganten Mubeng.

Setelah urusan prosesi akad rampung, tetamu beranjak pulang, Budi dan Linda ditemani keluarganya meluncur ke Masjid At Taqwa Desa Loram Kulon. Gaun putih tebal membuat Linda kegerahan. Keringat mengucur dari keningnya.

Meski panas siang itu terasa menyiksa, Linda menuruti suaminya untuk menjalani tradisi nganten mubeng. Digandeng Budi, Linda berjalan mengelilingi gapura kuno yang berada persis di depan Masjid Wali, sebutan beken Masjid At Taqwa.

Dipandu Afroh Aminuddin, juru pelihara gapura kuno, keduanya berjalan mengitari gapura kuno yang berdiri gagah di depaan masjid. Satu kali putaran rampung, keduanya kemudian berfoto mengabadikan hari bersejarah itu.

“Alhamdulilla lancar,” kata Budi sembari tersenyum kepada keluarganya yang menjadi saksi ritual tersebut.

Nganten mubeng adalah tradisi berjalan mengitari gapura kuno di depan Masjid Wali Loram Kulon yang masih lestari hingga kini. Tradisi itu dijalani oleh pasangan pengantin warga maupun keturunan dari Desa Loram Kulon.

Meski, Linda dan Budi bukan warga asli Loram Kulon, keduanya memegang teguh tradisi keluarga. Jika dirunut, kakek Budi asli Loram Kulon. Memiliki darah dari penduduk desa itu, Budi pun tak ingin meninggalkan tradisi leluhurnya.

Menurut Afroh Aminuddin, tidak hanya pasangan asli Loram Kulon saja yang masih menjalani tradisi ini. Banyak keturunan warga yang kini tinggal di luar desa maupun luar daerah yang tetap menjalankannya.

Baru-baru ini bahkan ada pasangan dari Purwokerto yang datang dengan menyewa bus, khusus untuk menjalani tradisi ini. Setelah ditanya, salah satu di antaranya masih keturunan warga Desa Loram Kulo.

Banyak mitos yang berkembang. Jika warga keturunan Loram Kulon tidak menjalani ritual ini. Mulai dari keluarganya tidak tentram, terkena penyakit aneh, hingga sulit mempunyai keturunan. Afroh enggan mengomentari mitos yang berkembang itu.

Terlepas itu mitos atau bagaimana, dia menyerahkan sepenuhnya pada niat masing-masing yang menjalaninya. “Yang penting niatnya baik,” kata Afroh.

Tradisi nganten mubeng tetap dilestarikan selain karena selain peninggalan leluhur, juga diyakini memiliki nilai-nilai moral. Tradisi itu menanamkan pentingnya kesetiaan dan peran suami sebagai pemimpin keluarga. Itu disimbolkan dengan menggandeng pasangannya keliling gapura.

Tradisi itu diyakini sudah ada sejak era Sultan Hadlirin menyebarkan Islam di wilayah Loram Kulon. Menurut catatan, gapura itu dibangun tahun 1596. Setahun kemudian, masjid di sebalah barat gapura dibangun.

Pembangunan gapura yang lebih dulu, lanjut Afroh, menjadi siasat Sultan Hadlirin dalam menyebarkan Islam di wilayah yang mayoritas warganya saat itu memeluk agama Hindu. Sekilas, gapura itu bentuknya mirip dengan pura. Mungkin karena itu lah, Islam dulu lebih mudah diterima di tempat itu.

Sayang, bangunan Masjid Wali kini sudah tidak lagi sebagaimana bentuk aslinya. Bangunan masjid dipugar dengan bentuk arsitektur yang modern tahun 1990. Gapura sempat dipugar tahun 1996. Namun karena yang memugar adalah Pemerintah Pusat, keaslian bentuknya dipertahankan.

Gapura Masjid Wali At Taqwa kini sudah tercatat sebagai situs benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Desa Loram juga telah ditetapkan menjadi desa wisata oleh Pemkab Kudus.



1 komentar:

  1. Wah masih ada yah tradisi seperti ini. Meski bukan warga aseli situ, setidaknya ikut menghormati tradisi setempat... Selama tidak menganggu akidah sih, sah-sah aja, ya nggak??!

    BalasHapus