Saturday, December 31, 2016

Ayunan Membuai dengan Musik Putis


MUSIK dengan lirik romantis selalu digandrungi kawula muda. Ditambah lirik yang puitis dalam balutan genre musik swing jazz, membuat penikmatnya terbuai dalam imajinasi tanpa batas.

Musik dan lirik puitis ini lah yang menjadi pilihan Ayunan saat membuai penggemarnya. Digawangi Chilmi (vokal), Aji Kojek (gitar), Sulton (gitar), Tommy (Bass), Munajad (cajon), dan Najib (harmonika), kelompok musik Ayunan terbentuk tahun 2014.

Nama Ayunan diambil dari mainan untuk berayun-ayun atau bandulan. “Ayunan juga bisa berarti ayu tenan (sangat cantik – Red). Sebab vokalis kami perempuan yang ayu tenan,” canda Tommy saat pentas pagelaranan sastra bulanan Fasbuk di auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu malam, akhir pekan lalu.

Ayunan tampil sebagai band utama pada malam itu. Mereka tidak tampil sendiri. Ayunan mengajak awak teater Tigakoma Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK untuk tampil di atas panggung.

Ayunan menjadi bagian tak terpisahkan dari Tigakoma, kelompok teater FKIP. Personel Ayunan tak lain anggota Tigakoma yang memiliki kegemaran sama dalam bermain musik. Mereka kemudian didaulat sebagai pengisi ilustrasi pentas teater Tigakoma.

Berangkat dari situlah, lirik romantis dan puitis terlahir. Lagu bertajuk Bulan Purnama, Sepasang Merpati, Aconite, Cinta Imajinasi, Everlasting Flower, dan Pemuda Nihil Batas, menjadi tembang andalan Ayunan dalam membuai penontonnya.

Bermodal lagu sendiri itu lah, Ayunan laris diundang mengisi pelbagai acara di kafe, hotel, gathering perusahaan, hingga mengisi hiburan pesta pernikahan. Ayunan juga menjadi band pembuka konser Adera (2014) dan Payung Teduh (2016) di Kudus.

Kreator Ayunan Saiful Anam menuturkan, Ayunan memainkan genre swing jazz karena pilihan dan kesamaan visi bermusik personelnya. Payung Teduh sepertinya menjadi panutan Ayunan dalam bermusik.

Rekam Album


Terlebih sama halnya dengan kelompok yang populer dengan tembang “Angin Pujaan Hujan” itu, Ayunan juga lahir dari kelompok teater kampus. “Di kelompok teater Tigakoma kami dipertemukan. Bisa diibaratkan Tigakoma adalah rahim Ayunan,” kata Anam.

Memiliki lagu sendiri ditambah basis penggemar yang mulai bermunculan, Ayunan berkeinginan menelurkan album rekaman sendiri. “Kami tengah menjajaki kemungkinan membuat album musik kami sendiri,” katanya.

Ayunan, lanjut Anam, masih asyik dengan lirik-lirik yang berangkat dari sajak puisi. Seperti sepenggal bait puisi “Bulan Purnama” yang juga menjadi salah satu judul lagu andalan Ayunan berikut. Seketika lelap terbangun/Sepotong mimpi telah mencuri lamun/Ku tetap tak terbagi apa-apa/ Selain yakin yang menuntun/

“Sastra, teater, dan puisi, merupakan benang merah musik kami. Ayunan tak akan jauh-jauh dari ketiga elemen tersebut,” kata Anam.

terbit di Suara Merdeka (3/11/2016)

0 komentar:

Post a Comment