Sunday, November 18, 2018

Inilah Daftar Lengkap Pemenang Festival Teater Pelajar 2018




KOMUNITAS teater pelajar di Kudus baru saja menggelar hajatan besar. Hajatan itu bernama Festival Teater Pelajar (FTP) 2018. Festival yang rutin digelar setiap tahun oleh kelompok Teater Djarum itu tahun ini memasuki tahun ke-11.


Tahun 2018 ini, FTP ke-11 diikuti oleh 22 kelompok teater pelajar se-Kabupaten Kudus, terdiri dari 10 teater pelajar tingkat SMP dan 12 teater pelajar tingkat SMA yang telah melalui babak penyisihan pada 15 – 19 Oktober 2018.

Tim juri seleksi teater pelajar tingkat SMP/MTs/Sederajat, antara lain: Teresa Rudiyanto (Teater Djarum) dan Nur Sam (praktisi teater dari Pati) yang akhirnya memutuskan empat kelompok yang maju ke final, yakni: Teater NSA SMP 3 Gebog, Teater Bobot SMP 1 Kudus, Teater Espero SMP 2 Kudus dan Teater Ukur MTs NU Maslakul Falah.

Untuk tingkat pelajar SMA, juri yang terdiri dari Andreas Teguh Prayoga (Teater Djarum) dan Yogi Swara Manitis Aji (praktisi teater dari Solo) memutuskan empat finalis, yakni: Teater Jangkar Bumi MA Qudsiyyah, Teater Patas SMA 1 Bae, Teater Apotek SMK Farmasi Duta Karya, dan Teater Ramarsaku SMK Raden Umar Said.

FTP merupakan salah satu agenda rutin dari Teater Djarum, yang konsisten membina kerja sama dengan seniman, komunitas kesenian, budayawan, dan berbagai pihak untuk mengembangkan jaringan kerja seni dan membuka ruang ekspresi dan apresiasi masyarakat di bidang seni teater.

Tak tanggung-tanggung, final FTP 2018 menghadirkan tiga orang juri yakni Ruth Marini, pemeran Sinto Gendeng, guru bela diri Wiro Sableng, Aktris Sita Nursanti, dan Sutradara Yogi Swara Manitis Aji.

Berikut adalah daftar lengkap pemenang Festival Teater Pelajar 2018 Tingkat SMP

Teater Terbaik 1 Teater Bobot - SMP 1 Kudus

Teater Terbaik 2 Teater Negeri Satu Atap (NSA) - SMP 3 Satu Atap Gebog

Teater Terbaik 3 Teater Ukur - MTs NU Maslakul Falah

Teater Terbaik 4 Teater Espero - SMP 2 Kudus

Sutradara Terbaik Sugiarto dari Teater Bobot - SMP 1 Kudus

Aktor Utama Terbaik Richo Veri Setiawan sebagai Soleman dalam naskah TUK (Mata Air) - Teater NSA - SMP 3 Satu Atap Gebog

Aktris Utama Terbaik Ika Lestariana sebagai Mbah Kawit dalam naskah TUK  (Mata Air) - Teater NSA - SMP 3 Satu Atap Gebog

Aktor Pendukung Terbaik Anggih Prabowo sebagai Bibit dalam naskah TUK (Mata Air) - Teater NSA - SMP 3 Satu Atap Gebog

Aktris Pendukung Terbaik Putri Wulan Puspita Sari sebagai Mbok Dhe Jemprit dalam naskah TUK (Mata Air) - Teater NSA - SMP 3 Satu Atap Gebog

Penata Set Panggung dan Lampu Terbaik Rahmat Eko dari Teater NSA - SMP 3 Satu Atap Gebog

Penata Rias dan Busana Terbaik Anika Novianti dari Teater Ukur - MTs NU Maslakul Falah

Penata Musik Terbaik Eko Purnomo, S.Pd, M.Pd dari Teater Bobot - SMP 1 Kudus



Berikut adalah daftar pemenang Festival Teater Pelajar 2018 Tingkat SMA

Teater Terbaik 1 Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah

Teater Terbaik 2 Teater Patas - SMA 1 Bae

Teater Terbaik 3 Teater Ramarsaku - SMK Raden Umar Said

Teater Terbaik 4 Teater Apotek - SMK Farmasi Duta Karya

Sutradara Terbaik M. Nur Kholis - Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah

Aktor Utama Terbaik Dino Hendriansyah sebagai Dukun dalam naskah Dukun- dukunan - Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah

Aktris Utama Terbaik Eka Retno Diana Putri sebagai Ibu dalam naskah Ayahku Pulang - Teater Patas - SMA 1 Bae

Aktor Pendukung Terbaik M. Ja'far Munta'arif sebagai Anak dukun dalam naskah Dukun-dukunan - Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah

Aktris Pendukung Terbaik Vanni Fierputeri sebagai Maimun dalam naskah Ayahku Pulang - Teater Patas - SMA 1 Bae

Penata Set Panggung dan lampu Terbaik Arif Chasanul Muna - Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah

Penata Rias dan Busana Terbaik M. Rizal Muhaimin - Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah

Penata Musik Terbaik M. Fatihatur Rohman - Teater Jangkar Bumi - MA Qudsiyyah




Thursday, October 25, 2018

Kereta Pelangi Mendidik Anak dengan Sampah



JARUM jam sudah menujuk angka delapan malam, namun pos kamling di pinggir jalan RT 02 RW IV Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu justru kian ramai dengan celoteh anak.

Sesekali orang tua mereka datang. Bukannya menyuruh pulang, para orang tua justru datang dengan senyum lebar sembari membawakan baju bekas dan sampah plastik untuk anak-anak mereka.

Yanti (45), salah satu orang tua, datang sembari menggengam pakaian bekas yang dibawanya dari rumah. Baju itu disodorkan anaknya Yohan (5). “Untuk kostum nanti pentas 17-an. Nanti dihiasi dengan aneka sampah plastik agar lebih menarik,” katanya, Sabtu (11/8) malam.

Pos kamling di pinggiran jalan Dusun Kauman Kidul itu bukan pos kamling biasa. Oleh Amalia Zulfiana Rochman (23), pos kamling itu disulap menjadi Kereta Pelangi. Lia, begitu ia akrab disapa menyebut Kereta Pelangi merupakan akronim Kreasi Tangan Peduli Anak Negeri.

“Setiap malam Minggu anak-anak berkumpul, belajar sambil bermain. Kadang mendongeng. Bulan ini kami punya hajatan pentas 17 Agustus mengenakan kostum yang dibuat dari sampah seperti botol atau koran bekas,” kata Lia.

Lia menginisiasi Kereta Pelangi setelah lama berkecimpung di komunitas Kresek (Kreasi Sampah Ekonomi Kota) Kudus. Sejak terbentuk 27 September 2015, Kresek fokus pada kegiatan edukasi daur ulang sampah yang menyasar satuan pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi.

Kresek dibentuk oleh Faesal Adam (25) dan sekelompok relawan yang ingin andil mewujudkan program Indonesia bebas sampah 2020. Selain membuat bank sampah, Kresek aktif membuat pelatihan kreatif pengolahan sampah ke satuan pendidikan mulai TK, SD, SMP, hingga SMA.

Akhir Juli lalu, mereka mengajak anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) Sunan Muria Dawe, Kudus berkreasi dengan sampah. Kresek yang kini memiliki relawan sebanyak 30 orang mengajak siswa berkebutuhan khusus membuat celengan berbentuk kucing dari botol bekas.

Program kelas kreasi ini menjadi lanjutan dari program serupa di SLB Purwosari Kecamatan Kota. “Setelah enam pertemuan yang kami gelar selama tiga bulan di SLB Purwosari, kami mulai Juli lalu memulai kelas kreasi ke SLB Dawe. Tak hanya murid, para guru pun antusias mengikuti kelas kreasi,” kata Lia.

Selain mendorong anak mencintai lingkungan, kegiatan kelas kreasi itu juga dinilai meningkatkan kepercayaan diri siswa SLB. Pasalnya dengan segala keterbatasannya, mereka mampu berkarya dengan bahan sampah. “Program kelas kreasi di SLB Dawe masih berlanjut. Antusiasme guru dan murid di sana cukup bagus,” katanya.

Antusiasme serupa juga terlihat saat Kresek menggagas wisata berbasis sampah dengan ecobrick, akhir tahun lalu. Ecobrick dibuat dari botol plastik bekas yang diisi sampah-sampah plastik. Setelah sampah dipadatkan didalam botol plastik bekas minuman kemasan, botol ecobrick dirangkai menjadi monumen replika Menara Kudus.

Pembuatan ecobrick melibatkan ribuan pelajar hingga orang dewasa. Mereka menggelar pelatihan ecobrick di sekolah-sekolah hingga arena car free day di Alun-alun Kudus, setiap Minggu. Hasil kreasi ekobrick itu masih bisa dinikmati warga yang berkunjung ke Taman Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

“Melalui ecobrick kami ingin menunjukkan kepada masyarakat jika sampah jika ditangani secara benar, bisa menghasilkan karya yang bisa dinikmati. Di sejumlah tempat ecobrick bahkan bisa disulap menjadi bangunan seperti rumah,” katanya.

Belakangan, kreasi ecobrick dilirik sejumlah sekolah di Kabupaten Jepara. Kresek kerap diundang sekolah di Jepara untuk mengajari cara membuat ecobrick, hingga kerajinan daur ulang sampah.

Menular

Kiprah Kresek mendidik pelajar lewat sampah menular hingga ke Surakarta, setelah Lia (23) berkuliah di UNS. Bersama rekan-rekan kuliahnya, Lia, panggilan akab Amalia Zulfiana Rochman, mendirikan Kresek Solo, 9 April 2016.

Setelah lulus, Lia kembali bergabung dengan rekan-rekannya di Kresek Kudus. Semangat Lia berlipat setelah ia dipersunting Faesal Adam, yang tak lain koordinator Kresek. Berdua mereka menggawangi komunitas Kresek mengedukasi pelajar agar mau mendaur ulang sampah.

Adam mencontohkan, produksi sampah di Kabupaten Kudus mencapai 147 ton per hari. Jika tidak ada upaya pemilahan dan daur ulang, maka sampah hanya akan menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo yang hanya seluas 5,6 hektare.

“Jika ditangani secara benar, sampah tidak hanya menumbuhkan kreatifitas. Sampah juga memiliki nilai ekonomis,” katanya.

Di Kereta Pelangi misalnya, pasangan suami istri itu merintis program sedekah sampah. Orang tua yang anak-anaknya belajar di Kereta Pelangi bisa menyetorkan sampah seperti botol plastik, kardus, koran bekas, hingga peralatan dapur yang sudah tidak terpakai.

Selain disulap menjadi kerajinan, mereka sering menjual langsung barang bekas. “Uang hasil penjualan sampah kami putar untuk kegiatan di Kereta Pelangi. Seperti misalnya untuk pembuatan kostum pementasan perayaan kemerdekaan ini,” katanya.

Pendirian Kereta Pelangi tak lepas dari permintaan para orang tua, setelah melihat relawan Kresek kerap menggelar pelatihan daur ulang sampah di sekolah-sekolah. Melihat keduanya aktif, tetangga Lia meminta agar anak-anak mereka juga dilibatkan dalam proses kreatif tersebut.

Jadilah Kereta Pelangi menumpang pos kamling tak jauh dari rumah keluarga Lia. Adam menuturkan, Kresek masih akan terus berkampanye pengurangan sampah dengan cara pemilahan daur ulang ke sekolah-sekolah.

Menurutnya, posisi sekolah cukup strategis untuk mengajak anak mencintai lingkungan. “Sampah bisa menjadi barang berguna, sekaligus sarana pendidikan. Tentunya menyenangkan jika anak-anak bisa membuat bahan ajar baik di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Meski tidak ada sokongan dana dari pemerintah, Adam yakin bisa menghidupi komunitasnya berbekal sampah daur ulang. Selain program bank sampah dan sedekah sampah, Kresek menggalang dana melalui penjualan pin hingga gantungan kunci buatan sendiri.

Konsistensi Kresek berkampanye lingkungan di sekolah diapresiasi Viena, guru SLB Purwosari Kudus. Meski program Kresek di sekolahnya sudah rampung, anak didiknya kini masih mempraktikkan keterampilan daur ulang sampah atau barang bekas.

“Kami terus berkomunikasi dengan komunitas Kresek. Mungkin perlu sesekali mereka kami undang lagi untuk mengenalkan kreasi baru atau ilmu baru apa pun tentang daur ulang barang bekas,” katanya.



*) Tulisan ini tayang di harian Suara Merdeaka, Senin, 13 Agustus 2018



Sunday, October 21, 2018

Inilah Daftar Juara Kudus Relay Marathon


BARU digelar untuk pertama kalinya, Kudus Relay Marathon diserbu ribuan orang pelari dari dalam dan luar negeri. Lomba yang digelar di Alun-alun Kudus, Minggu (21/10) pagi diikuti sebanyak 5.500 orang pelari.


Tim Jatim Fighter keluar sebagai juara kategori utama Relay Marathon. Tim Jatim Fighter beranggotakan Sri Wahyuni (Surabaya), Dedy Yusuf (Lumajang), Ivon Solihin (Situbondo), dan Ari Marsudi (Mojokerto).

Mereka melahap rute sejauh 42,195 kilometer dengan catatan waktu 2:53:55. Catatan waktu terbaik ini membuat mereka mendapatkan hadiah utama senilai Rp 25 juta. Relay marathon menjadi nomor paling bergengsi di ajang yang bertajuk tiket.com Kudus Relay Marathon (TKRM) 2018.

Kudus menjadi tuan rumah kejuaraan relay marathon. Kategori utama adalah Relay Marathon sejauh 42,195 kilometer, lomba lari estafet beregu empat orang yang lebih dulu populer di Jepang.

Di nomor ini, setiap tim beranggotakan empat orang. Satu orang berlari mulai garis start, tiga orang lainnya menunggu di titik transisi yang sudah ditentukan. Sebagai penanda, setiap pelari menggunakan selempang (tasuki) untuk di oper ke pelari berikutnya.

Relay Marathon terinspirasi dari Ekiden, kata Eki yang artinya stasiun kereta dan Den yaitu menyampaikan. Ekiden pada tahun 1917 digunakan oleh sistem kurir pos di Jepang untuk menyampaikan barang secara berantai (relay) antar stasiun atau pos yang telah ditentukan.

Menyusuri rute yang melewati berbagai tempat dengan keunikan budaya khas Kudus, tiket.com Kudus Relay Marathon diikuti sebanyak 5.500 pelari di lima kategori race yakni Relay Marathon (42,195 kilometer), Half Marathon (21,1 kilometer), 10K, 5K, dan Kids Fun Run.

Kondisi cuaca yang cerah, trek yang mengedepankan keamanan pelari, serta ketersediaan water station yang melimpah, ikut memudahkan para peserta sukses menembus garis finish yang berada di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Dukungan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Kudus juga memiliki andil besar dalam kesuksesan dan kemeriahan tiket.com Kudus Relay Marathon perdana ini.

Berikut ini para juara tiket.com Kudus Relay Marathon 2018.


RELAY MARATHON

1. Jatim Fighter (104)              2:53:55

2. Jakarta RM-2 (137)             3:13:56

3. Run with Dondon (107)      3:26:32



HALF MARATHON MALE

1. Hadi Firmansyah (2164)             01:23:05

2. Sutomo (2307)                            01:25:05

3. Yudha Mega (2215)                    01:33:26



HALF MARATHON FEMALE

1. Laura Bee (2301)             01:40:29

2. Ira Chrysanti (2216)         02:00:24

3. Dwi Puji Lestari (2296)    02:16:29



10K MALE

1. Lamek Lamek Yunias Banu (3421)             00:35:32

2. Tono Martono (3425)                                   00:35:55

3. Sudiar (3818)                                               00:38:43


10 FEMALE
1. Sharfina Sheila Rosada (4055)                   00:43:20

2. Risa Wijayanti (3331)                                 00:45:06

3. Yanti Waliyanti (3723)                                00:45:11


5K MALE
1. Erwin Beke (5177)                       00:16:52

2. Candra Irawan (7924)                  00:17:18

3. Bambang Oktovianus (5339)       00:17:30


5K FEMALE
1. Qurrotul Farida (5357)                                     00:22:54

2. Azranaysha Pandya Adhita (443)                     00:25:21

3. Nadia Pritasari (444)                                         00:27:25


KIDS FUN RUN

1. Arta (9139)                             

2. Mahsa (9029)                             

3. Alberto Nicholas Raharjo (9015)





Friday, October 19, 2018

Mobil Eks Pejabat Ini Dijual Rp 1 Miliar



SIAPA yang mau membeli mobil yang sudah mangkrak tak terurus, berselimut debu, seharga Rp 1 miliar. Memang harga segitu bukan untuk satu unit mobil saja. Ada 20 unit kendaraan. Sebanyak 19 unit mobil dan satu unit kendaraan.


Semua kendaraan itu eks pejabat di lingkungan Pemkab Kudus. Sudah dua kali dilelang. Tapi gagal terjual. Lelang terakhir, 20 mobdin bekas dijual sepaket itu dijual seharga Rp 1,58 miliar. Kini nilainya diturunkan seharga Rp 1,26 miliar.

Meski harga sudah turun, lelang ketiga diperkirakan batal lagi. Ada sejumlah penawar, namun ketika melihat rupane kendaraan eks dinas, mereka mundur teratur. Dari mobdin yang bakal dilelang, ada Toyota Fortuner eks Wabup Kudus Abdul Hamid yang meninggal dunia, 2015 lalu. Sejak itu, mobil pun diparkir sembari menunggu tuannya yang baru.

Selain mobdin eks wabup, ada juga dua unit Toyota New Corolla, tiga unit Honda Civic, empat unit Toyota Corolla Altis, satu unit Nissan X Trail, lainnya jenis Toyota Kijang dan Avanza, serta satu unit motor Honda Supra.

Dua kali gagal lelang membuat geleng-geleng wakil rakyat. Anggota Komisi A M Nur Khabsyin meminta mekanisme lelang ditinjau ulang. “Jangan dilelang per paket. Dilelang saja per unit. Mobil diservis dulu, dicuci yang bersih. Siapa juga yang mau membeli mobil rusak, berdebu lagi,” katanya.

Meski sudah turun harga, ia ragu mobdin bekas itu laku terjual. Sejumlah wakil rakyat sebenarnya juga ada yang sempa melirik mau membeli. Namun ketika lihat barangnya, mereka pun mundur teratur.

Dengan harga sebesar itu, hanya pedagang yang mampu membeli. Itu pun dengan pertimbangan hitungan untung rugi. Selain sudah menurunkan harga, Pemkab sebenarnya sudah memiliki opsi lain.

Jika tak laku, mobdin akan dipinjam pakaikan ke instansi lain seperti Badan Narkotika Kabupaten, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus, dan instansi lain yang mau meminjaminya.

Tapi lagi-lagi, siapa yang mau meminjam mobil yang sudah lama mangkrak. Ongkos perbaikannya pasti tak sedikit. “Kami sudah melapor ke Bupati. Kami masih menunggu arahan bupati. Sebab ada wacana untuk meminjam pakaikan kendaraan dinas ke instansi lain,” kata Eko Djumartono, Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus Eko Djumartono.

Hingga tulisan ini dibuat, sebanyak 20 unit kendaraan dinas eks pejabat di lingkungan Pemkab Kudus masih mangkrak di areal perkir sebelah timur Pendopo Kabupaten Kudus. Mobil yang dibeli dari uang rakyat itu menunggu tuannya yang baru.



Sunday, October 14, 2018

Tiga Kerajinan Kece Ini Cocok Untuk Hadiah Pacar Kamu

  

MEMBERI hadiah pacar atau pasangan kamu tak perlu harus merogoh kocek dalam-dalam. Dengan bujet minimalis, tiga kerajinan kece ini pasti berkesan bagi pasangan kamu. apa aja?


1. Siluet Kayu Pinus


Kerajinan ini dibuat oleh Widya Kurniawan, atau yang akrab disapa Iwan. bentuknya unik. Gambar wajah kamu akan diukir dengan metode siluet pada selembar papan kayu pinus. Biar lebih elegan dan terkesan mahal, ukiran siluet ini dibungkus dengan pigura kayu dengan tambahan kaca di sisi depannya.

Tak hanya satu wajah saja, Iwan juga kerap membuat pesanan siluet dengan dua gambar wajah pasangan muda-mudi. Karya Iwan juga cocok dihadiahkan pada pasangan kamu saat mau wisuda.

Iwan menjual karyanya mulai harga Rp 140 ribu. Harga itu untuk ukiran satu wajah saja ya. Jika ingin ada dua wajah dalam satu bingkai, harganya bisa lebih mahal. Sejak merintis usahanya April 2017, karya Iwan semakin nge-hits di kalangan anak-anak muda.

Pesanan Iwan sudah terbang hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga Papua. Penasaran dengan kaya Iwan, cek saja di akun instagramnya @iwanart_kudus. Iwan rajin menggunggah karya-karyanya di akun tersebut. Kamu bisa melihat-lihat dulu sebagai referensi mau memesan model yang seperti apa.

Kamu juga bisa melihat langsung proses pengerjaannya di bengkel kerja yang sekaligus rumah Iwan di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

2. Kerajinan Pyrography 


Berbeda dari Iwan yang mengolah papan kayu pinus, kerajinan satu ini cukup unik karena diolah dari kayu sisa limbah pabrik. Cara pengerjaannya pun cukup unik. Kerajinan ini dibuat oleh Heru Suprayitno di Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Pyrography adalah seni melukis di atas kayu menggunakan solder yang sudah dipanasi. Dengan modal selembar papan kayu limbah, tangan kreatif Heru “menari” menggoreskan solder listrik.

Tak sampai satu hari, goresan tangan Heru sudah membentuk wajah sesosok pria. Saat berkunjung ke rumahnya, Heru tengah mengerjakan “lukisan” dengan wajah legenda bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi.

Harga kerajinan pyrography karya Heru dijual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu-an. Harga bertambah mahal tergantung kesulitan dan detal wajah yang dipesan. Mayoritas pemesan datang dari pasar online. 
Kamu bisa intip karya-karya heru melalui akun instagramnya @herusuprayitno123. Selain pyrography, Heru juga mengerjakan seni ukir tiga dimensi. (3D). Harganya lebih mahal, bisa mencapai jutaan rupiah. Namun melihat hasilnya, harga segitu cukup sepadan.

3. Sandal Ukir 


Kerajinan satu ini tak kalah unik. Wajah kamu akan diukir di atas sandal karet (japit). pembuatnya adalah Hartono, warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Penasaran dengan keunikan karya Hartono, cek aja akun instagramnya di @harsandalukir. Karya Hartono dikenal luas saat ia dengan kreatifitasnya mengukir maskot Asian Games.

Karyanya diliput sejumlah media cetak hingga televisi. Namanya pun melambung. Ia mulai membuat kerajinan sandal ukir sejak empat tahun lalu. Sebelumnya, Hartono merupakan perajian pisau mengikuti jejak kerabatnya yang lain.

Jejak kreativitas Hartono juga terlihat dari sandal jepit ukir dengan gambar wajah tokoh terkenal seperti Presiden RI Jokowi hingga Soekarno, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta karakter animasi seperti Doraemon dan Hello Kitty.

Ia juga membuat ukiran bermotif wajah sesuai pesanan konsumennya. Hartono juga menyulap sandal jepit menjadi jam dinding ukir dengan motif aneka rupa. Harga sandal ukir buatannya cukup terjangkau. Sandal ukir dibandrol mulai Rp 25 ribu – Rp 50 ribu.

Jika pemesan ingin sandal ukir dibuat menjadi jam dinding lengkap dengan pigura, harganya melonjak hingga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.