Minggu, 10 Februari 2019

Dua Tempat Nongkrong Lesehan Malam Hari Paling Populer di Kudus


NONGKRONG bagi anak muda adalah kebutuhan. Ibarat makan mi instan tanpa nasi. Rasanya ada yang kurang. Di Kudus, banyak tempat kongkow lesehan malam hari yang tak perlu menguras isi dompet terlalu dalam.


Di Kudus dua tahun terakhir memang menjamur kafe denga menu aneh-aneh. Mulai warung normal hingga yang upnormal, dari yang menyajikan menu rumahan hingga ala-ala barat. Tapi namanya kafe, tentu harganya kadang tidak bisa diajak kompromi.

Solusinya, dua tempat kongkow lesehan malam hari ini layak dicoba saat “kanker” menyerang. Dari yang sekian banyak itu, ada dua tempat kongkow lesehan favorit anak muda yang tak pernah sepi sejak senja mengirim matahari ke belahan bumi yang lain. Tapi ingat, jangan pernah ke tempat ini sendirian.

Ajak teman ngobrol biar seru, sembari menikmati kuliner yang ditawarkan para padagang di tempat ini. Tak perlu berpanjang lebar, Ini dia dua tempat nongkrong lesehan paling populer di Kudus pada malam hari.

1. Jagung Bakar Taman Krida

Kesibukan di tempat ini mulai terlihat pada pukul 16.00 WIB. Para pedagang sibuk menata pemanggang, arang, jagung bakar, dan aneka cemilan pelengkap lainnya.

Salah satu pedagang jagung bakar di Taman Kirda Kudus

Ada puluhan pedagang jagung bakar di deretan kios yang menempel bagian belakang Taman Krida Kudus. Tak sulit untuk menemukan tempat ini. Cari saja di google map sudah. Menu andalan di tempat ini tak lain tak bukan adalah jagung bakar.

BACA JUGA :
8 KEDAI KOPI ENAK DI KUDUS
SATU-SATUNYA, MENU SATE RUSA ADA DI WARUNG INI

Uniknya meski hampir semua pedagang kompak menjajakan jagung bakar di tempat ini, semua warung selalu ramai pada malam hari. Bisa jadi, bumbu jagung bakar racikan masing-masing pedagang memiliki penggemarnya sendiri.

Itu lah mengapa semua warung jagung bakar di tempat ini selalu ramai pada malam hari. Satu tempat yang menjadi jujukan pengunjung adalah jagung bakar Paini. Sama hal nya pedagang lainnya, Mak Paini juga menawarkan menu utama jagung bakar. Ya iyalah, namanya saja Jagung Bakar Paini

Deretan kios yang menjajakan menu andalan jagung bakar
Cara penyajiannya juga memanjakan pengunjung. Jagung dengan olesan mentega yang sudah dibakar, diserut disajikan di piring. Jagung kemudian diguyur kuah bumbu. Level pedasnya tergantung selera.

Untuk pelengkap, para pedagang menambahkan kerupuk. Pengunjung juga bisa memesan bakwan jagung, sate bakso, bakso tahu, sate usus, atau aneka gorengan lainnya. Tentunya aneka penganan pelengkap itu lebih nikmati disantap setelah dibakar dan diguyur bumbu pedas. 

Aneka penganan pelengkap menu jagung bakar
Sejarah Taman Krida sebagai pusat jagung bakar Kudus sudah berlangsung sejak lama. Uniknya lagi, jika pedagang menjual jagung bakar pada malam hari, tempat itu berubah menjadi sentra lenthog tanjung khas Kudus pada pagi hari.

2. Alun-alun Kudus

Puas meyantap jagung bakar di Taman Krida, bergeserlah ke Alun-alun Kudus. Banyak PKL yang menjajakan aneka makanan di jantung kota Kudus ini. Mulai dari jus buah, aneka gorengan, angkringan, siomay, hingga makanan berat seperti nasi goreng.

Tak ada yang lebih spesial di tempat ini selain karena Alun-alun Kota menjadi tempat berkumpul paling ramai pada malam hari. Selain itu lokasinya juga paling mudah dicari. Jangan khawatir, kamu sekalian bisa menghabiskan malam di Alun-alun, bahkan hingga dini hari.

Alun-alun Kudus

Sabtu, 26 Januari 2019

3 Kuliner Langka Khas Kudus yang Nyaris Punah



omonganem kuliner langka

JIKA anda mengenal kuliner Kudus hanya sebatas soto, sate kerbau, lentok tanjung, dan garangasem, itu hal yang lumrah. Namun jika anda mengenal betul tiga kuliner langka khas Kudus yang nyaris punah ini, selamat...! Anda layak masuk jajaran pecinta sejati kuliner Kudus.


Apa saja tiga kuliner langka Khas Kudus tersebut? Yang satu menjadi rebutan warga dari berbagai daerah setahun sekali. Tepatnya setiap buka luwur makam Sunan Kudus. di luar momen itu, tak banyak yang mencari kuliner ini. Padahal ada pedagang yang menjualnya.

Satu kuliner lainnya jarang sekali didengar. Bahkan oleh cah Kudus sekali pun. Saya sendiri baru mengenalnya saat ada acara di Menara Kudus. Kuliner ini saya temui kali kedua saat ada acara peresmian gedung baru Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus.

Yang terakhir, nanti akan diulas di tulisan ini. Biar tidak tambah penasaran, ini lah tiga kuliner khas Kudus yang sudah terbilang langka. Jarang sekali orang yang menjual. Sedikit pula yang setia mencicipinya.

Melalui tulisan ini, saya berharap ketiga kuliner ini kembali populer. Banyak peminatnya dan menjadi ikon kuliner khas Kabupaten Kudus.

1. Nasi Jangkrik

omonganem kuliner langka

Jangan kaget dulu. Nasi jangkrik bukan berarti nasi dengan lauk serangga jangkrik. Ini hanya istilah saja. Kenyataannya, nasi jangkrik adalah nasi dengan lauk daging kerbau yang sudah dibumbui.

Nasi jangkrik menjadi menu wajib saat acara buka luwur makam Sunan Kudus. Pengelola Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) memasak ribuan bungkus nasi jangkrik.

Nasi jangkrik yang dibungkus dengan daun jati itu dibagikan kepada para pengunjung. Tak hanya dari Kudus, pengunjung datang dari berbagai daerah tetangga seperti Pati, Rembang, Blora, Demak, Jepara, bahkan ada yang secara khusus datang dari Jawa Timur.

Warga pun berbondong-bondong mengantre sejak dini hari, demi sebungkus nasi jangkring yang konon diyakni penuh berkah. Di luar tradisi tahunan itu, mencari nasi jangkrik butuh usaha ekstra.

Satu-satunya warung yang berani memasang menu utama nasi jangkrik hanya ada di sebelah barat perempatan Menara Kudus. Lokasinya mudah dicari. Warung makan ini persis berada di selatan jalan. Berseberangan dengan kantor YM3SK.

Dari arah perempatan jember (barat), warung sederhana ini berada sebelum klinik kecantikan Muntira. Lokasinya berada di selatan jalan. Di warung sederhana ini, ada menu nasi jangkrik. 

OMONGANEM KULINER LANGKA


Di warung ini, lauk daging kerbau tak sendirian. Ada tahu yang dimasak dengan kuah sayur kothokan (santan) yang menemani daging kerbau beradu dengan nasi. Satu porsi nasi jangkrik di warung ini dijual seharga Rp 15 ribu.

Saya sarankan, membeli nasi jangkrik untuk dibawa pulang atau dibungkus. Kondisi warung kurang “proper” untuk pengunjung, apalagi wisatawan luar kota yang biasa makan di resto mahal.

Namun jika anda suka suasana lesehan pinggir jalan, sah-sah saja menyantap nasi jangkrik di warung ini. Mau dibawa pulang atau makan di tempat, nasi jangkrik tetap saja “juangkrik.....!” uenak tenaaan.

2. Kothokan Puli

omonganem kuliner langka


Pernah menyantap lentog tanjung? Nah, kothokan puli sekilas tampilannya mirip dengan lentog tanjung. Menu lentog tanjung berisi nasi lontong dengan guyuran sayur gori (tewel) dan tahu.

Sekilas, kothokan puli juga mirip dengan lentog tanjung. Bedanya adalah penggunaan puli. Puli sama-sama terbuat nasi. Namun, rasanya berbeda dengan lontong nasi. Proses pembuatan lontong dan puli pun berbeda. cek aja di youtube. Banyak video cara membuat puli.

Sepiring kothokan puli terdiri atas potongan puli yang diguyur sayur kothok tahu, sayur tewel (gori). Biasanya ditambah potongan daging ayam sebagai lauknya. Di Kudus, menu ini hanya dijual di kawasan Menara Kudus.

Tepatnya di sebelah selatan perempatan Sucen. Cari saja warung Bu Mahmudah. Warung itu menyajikan menu andalan kothokan puli. Hati-hati saat menyantap menu yang satu ini. Saya khawatir anda sampai ketagihan dan sering-sering makan menu yang satu ini. Tapi ga papa sih. Idep-idep melestarikan menu langka yang nyaris punah ini.

3. Intip Ketan

omonganem kuliner langka

Camilan intip ketan termasuk kuliner khas Kudus langka yang nyaris punah. Paling mudah mencari penganan ini yakni saat digelar tradisi Dhandhangan setiap menyambut Ramadan.

Menu ini juga sulit dicari. penganan ini terbuat dari bahan utama ketan. Apa dan bagaimana intip ketan bisa dibaca lengkap di sini.

Itu tadi tiga kuliner langka khas Kudus yang nyaris punah dan semakin sulit dicari. Bahkan bagi warga Kudus sekalipun, ketiga nama kuliner itu banyak yang geleng-geleng kepala saat ditanya. Sebelum benar-benar punah, segera saja cari dan cicipi ketiga kuliner langka ini. Yuk lestarikan makanan tradisional di sekitar kita





.

Kamis, 17 Januari 2019

Hoax Pemilu dan Peran Penting Relawan Demokrasi

omonganem hoax pemilu


Perkembangan dunia teknologi dan informasi tak selamanya memberi dampak positif untuk masyarakat. Dampak negatif penggunaan teknologi informasi kerap dirasakan, salah satunya melalui penyebaran hoax pemilu dan ujaran kebencian.


Hoax dan ujaran kebencian biasanya kian marak saat musim hajatan pemilu mau pun pilkada. Kecanggihan piranti telekomunikasi dan informasi melalui layanan aplikasi internet menjadi “media andalan” untuk menyebarkannya.

Dampak hoax pemilu dan ujaran kebencian jika berkaca dari pengalaman Pilpres 2014 dan 2018, sangat memilukan. Masyarakat benar-benar “terbelah”. Tidak hanya dalam dunia maya tapi juga dunia nyata. Bahkan masuk ke ruang-ruang sosial kemasyarakatan yang berdimensi “sakral”. Kondisi ini masih terus berlangsung hingga kini.

Tahun ini hingga 2019 mendatang, Indonesia punya hajatan besar demokrasi. Yakni Pemilu Umum untuk memilih anggota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/kota, DPD dan bahkan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Potensi munculnya hoax dan ujaran kebencian oleh pihak tak bertanggung jawab sangat besar sekali seiring hajatan besar demokrasi tersebut. Dan pihak yang paling rawan menjadi korban hoax dan ujaran kebencian adalah pelajar, mahasiswa dan generasi muda pada umumnya.

Dari sisi usia, kalangan muda adalah kelompok yang kerap bersinggungan dengan internet maupun medsos dengan segala sisi baik maupun buruknya. Mendekati Pemilu 17 April 2019, penyebarluasan hoax diperkirakan semakin marak.

Bahkan penyebarnya tak menyadari jika informasi yang disebarluaskan melalui media sosial adalah kabar hoax. Contoh nyata yakni kabar tujuh kontainer berisi 70 juta surat suara yang telah dicoblos untuk kolom pasangan calon presiden dan wakil presiden, baru-baru ini.

Beruntung KPU cepat tanggap dengan mengecek langsung ke Tanjung Priok, lokasi yang disebut tempat penyimpanan kontainer. Meski KPU sudah menegaskan kabar tersebut hoax, namun tak sedikit warga yang sudah terlanjur percaya atas kabar tersebut.

Jika hoax terus bermunculan, maka dikhawatirkan kepercayaan publik terhadap KPU bakal menurun. Di sini lah peran penting edukasi pemilih untuk tak serta merta mempercayai informasi yang diterimanya.

Perlu langkah kongkrit sebagai upaya pencegahan agar hajatan Pemilu tahun 2019, khususnya di Kabupaten Kudus berjalan demokratis, berintegritas tanpa hoax dan ujaran kebencian.

Upaya pencegahan harus dikedepankan untuk menangkal munculnya konten negatif yang berpotensi memicu konflik sosial dan memecah belah elemen masyarakat. Pencegahan munculnya hoax dan ujaran kebencian pada tahun politik ini dilakukan sejak dini maka dampak negatifnya juga bisa diminimalisir dengan maksimal.

Hoax dan ujaran kebencian tak hanya berpotensi mengganggu pelaksanaan Pemilu yang berkualitas. Penyebarluasan hoax dan ujaran kebencian juga dikhawatirkan mampu merongrong persatuan dan kesatuan NKRI.

KPU bulan ini merekrut ribuan relawan demokrasi Pemilu 2019 se-Indonesia. Relawan dibentuk dalam 10 basis pemilih berbeda, antaranya basis keluarga, basis pemilih pemula, basis pemilih perempuan, penyandang disabilitas, keagamaan, komunitas, dan basis warga internet (netizen).

Masing-masing basis terdiri atas lima orang relawan. Metode sosialisasi yang digunakan bisa melalui simulasi, bermain peran, diskusi kelompok, ceramah, hingga sosialisasi ke media sosial.

Diliriknya basis warga internet (netizen) ini patut diapresiasi. Apalagi syarat utama calon relawan yang mendaftar di basis pemilih ini minimal memiliki seribu pengikut di akun media sosialnya.

Relawan demokrasi ini tentunya bakal menjadi ujung tombak dalam sosialisasi kepemiluan. Salah satunya menjadi kepanjangan tangan KPU dalam memberikan informasi yang benar kepada masyarakat di basis relawan.

KPU memang menyediakan honor Rp 750 ribu per bulan bagi relawan. Namun, honor itu seharusnya tidak menjadi motif utama bagi para pendaftar. Pasalnya, beban dan tanggung jawab dalam mensosialisasikan Kepemiluan tentunya harus diutamakan.


Dengan penyampaian informasi yang benar secara masif, diharapkan masyarakat semakin melek informasi. Ancaman disintegrasi atas wabah hoax wajib ditangkal. Keutuhan bangsa tetap terjalin di tengah panasnya suhu politik pelaksanaan Pemilu. 

Melalui komunitas, peran penyebarluasan berita yang benar dan bertanggung jawab bisa ditingkatkan. Ujungnya, hajatan demokrasi Pemilu 2019 berkualitas.




Minggu, 30 Desember 2018

Shalat di Masjid Ini Pahalanya Setara Ibadah Umroh

omonganem masjid quba


SIAPA pun yang bersuci (mandi/wudlu) di tempat tinggalnya kemudian datang ke Quba dan shalat (shalat apa saja) di Masjid Quba, bagi dia adalah pahala Umroh. Itu lah keistimewaan Masjid Quba seperti sabda Nabi Muhammad SAW.

Masjid Quba lokasinya sekitar 4 kilometer sebelah selatan Masjid Nabawi. Untuk menuju ke sana, bisa naik bus kota dengan tarif SR 2 (atau sekitar Rp 8.000 kurs Rp 4000/SR). kita juga bisa menggunakan taxi dengan tarif sekitar SR 10.

Umumnya, jamaah umroh menggunakan bus carteran karena ingin ke sana bersama-sama. Namun tidak ada salahnya, kita saat berada di Madinah meluangkan waktu untuk menunaikan shalat di masjid Quba.

Tak perlu harus selalu datang berombongan dengan jamaah umroh yang lain. Yang penting izin dulu sama pendamping agar tidak dicari-cari. Jangan lupa bawa paspor dan tanda pengenal biro untuk berjaga-jaga jika ada urusan terkait administrasi. Arsitektur masjiq Quba sangat indah, megah, anggun, dan unik. 

omonganem masjid quba


Masjid yang mampu menampung jamaah hingga 25 ribu orang ini dilapisi granit dan marmer anti panas. Di bagian dalam ada areal terbuka dengan atap tenda raksasa. Di bagian atapnya dibentangkan kain-kain, sehingga sinar matahari tetap bisa masuk ke areal masjid. Kain-kain ini pun menambah cantiknya masjid yang dibangun Nabi dan sahabat.

Masjid ini menjadi tempat singgah Nabi saat hijrah dari Mekah menuju Madinah. Masjid ini istimewa karena Nabi selalu datang di hari Sabtu untuk menunaikan shalat.

Perlu dicatat, Masjid Quba ditutup satu jam setelah Isya dan dibuka lagi satu jam sebelum azan Subuh. Jadi jangan sampai niat kita mau shalat malam di masjid ini, sudah jauh-jauh ke sana, eh masjidnya di tutup. Shalat malam di masjid Nabawi saja Lur. Lebih sahdu karena dekat dengan makam Nabi.

omonganem masjid quba

Masjid quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhamamd SAW pada tahun 1 Hijriyah (622 Masehi). Masjid ini memiliki 19 pintu, tiga di antaranya adalah pintu utama dengan pintu yang besar. Dua pintu untuk masuk jamaah laki-laki, satu pintu utama khusus diperuntukkan bagi jamaah perempuan.




.

Sabtu, 29 Desember 2018

Semangat Zero Waste dari Kampung Bulakan


omonganem bulakan asri


TRAGEDI kematian paus sperma karena menelan 5,9 kilogram sampah plastik di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, membuka mata kita pentingnya mengelola sampah rumah tangga.

Tak hanya memicu bencana alam seperti banjir karena sampah menyumbat sungai atau saluran air, hingga dampak lingkungan lainnya, sampah juga ternyata mengancam nyawa makhluk hidup lainnya. Greenpeace Indonesia menyebut Indonesia sudah darurat sampah.

Masyarakat menghasilkan sampah organik sekitar 70 persen, sisanya adalah sampah anorganik seperti botol plastik, kantong plastik, hingga styrofoam. Untuk meminimalkan dampak sampah plastik, Gerakan “zero waste” melalui manajemen pengelolaan sampah pun kembali digalakkan.

Jauh sebelum Pemerintah gembar-gembor kampanye gerakan zero waste melalui sejumlah kementerian baru-baru ini, warga di Kampung Bulakan, Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, sudah lebih dulu menerapkan manajemen pengelolaan sampah rumah tangga.

Lewat program kampung iklim (Proklim) warga secara mandiri memilah dan memanfaatkan sampah. Hasilnya, sampah rumah tangga organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, hingga energi terbarukan (biogas). Sampah anorganik disulap menjadi kerajinan kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Proklim menjadi ikhtiar warga Bulakan untuk turut serta dalam melakukan upaya penguatan kapasitas adaptasi perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca. Proklim sendiri adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kegiatan pertanian organik yang dirintis sejak 2007 menjadi embrio terbentuknya Kampung Proklim Bulakan Asri. Setelah sekian tahun bergelut di pertanian organik, warga mulai serius memecahkan persoalan sampah, tahun 2013.

Program itu tak serta merta dijalankan seluruh elemen warga. Kehadiran PT Pamapersada Nusantara (Pama), anak perusahaan PT United Tractors Tbk (Astra Group) yang memfasilitasi pendampingan hingga peralatan pengolah sampah melalui Kampung Berseri Astra (KBA) Proklim Cilongok, tahun 2013 pun, tak lantas membuat seluruh warga tergerak.

Mengubah kebiasaan warga memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Program itu mengalami pasang surut. Pada masa awal program digulirkan, hanya sedikit warga yang mau aktif terlibat karena memang yakin betul sampah memiliki nilai ekonomis.

Ketekunan sebagian warga yang aktif di program itu pelan tapi pasti mulai menggugah kesadaran warga yang lain. Program itu mulai mendapat tempat di masyarakat secara luas setelah adanya reformasi kepengurusan proklim, tahun 2017.

Taufiqurrahman yang ditunjuk sebagai koordinator Proklim Bulakan Asri mengajak rekan-rekannya melakukan pemetaan potensi desa, hingga studi banding ke daerah lain yang memiliki program serupa.

Taufiq menuturkan, potensi sampah di kampungnya cukup besar. Keberadaan Pondok Pesantren Nurul Huda yang memiliki sekitar seribu santri salah satunya. “Dari ponpes banyak dihasilkan sampah baik organik mapun anorganik. Begitu juga dari warung-warung di sekitar ponpes, banyak dihasilkan sampah plastik makanan maupun minuman kemasan,” katanya.

Dari diskusi internal, pengurus proklim pun sepakat mengolah sampah tersebut. Mereka membentuk Bank Sampah Kampoeng Iklim Bulakan Asri. Lewat bank sampah, warga bertekad mengubah sampah menjadi berkah, sekaligus melestarikan lingkungan bebas dari sampah.

Berbagai macam sampah rumah tangga dipilah menurut jenisnya. Warga juga guyub menggelar kegiatan Ahad bersih untuk menjaga lingkungan agar Bulukan menjadi kampung yang aman, sejahtera, Ramah, dan Indah (ASRI).

Akronim Asri itu lah yang sengaja disematkan pada nama Proklim Bulakan Asri, agar warga selalu ingat sekaligus menjadi motivasi bersama untuk mewujudkan lingkungan kampung yang diidam-idamkan itu.

omonganem bulakan asri
Kampung Bulakan menuju kampung berdikari

Sampah organik seperti sisa sayuran yang terkumpul dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biogas. Dari biogas tak hanya dihasilkan energi terbarukan, namun juga menghasilkan pupuk cair dan kompos.

Karena kapasitasnya terbatas, hanya sekitar 2 kilogram, gas yang dihasilkan baru bisa dimanfaatkan dua tempat. Satu disalurkan ke Bank Sampah, satu lainnya ke rumah warga yang berada di dekat instalasi.

Sementara sampah anorganik didaur ulang melalui bank sampah. Sampah plastik bekas kemasan makanan atau minuman yang dikumpulkan baik dari program tabungan maupun sedekah sampah, disulap menjadi kerajinan seperti karpet, tas, hingga dompet.

Yang tidak bisa didaur ulang dijual ke pengepul. Lebaran lalu, tabungan warga di Bank Sampah bahkan ada yang mencapai Rp 370 ribu per orang.

omonganem bulakan asri
Kerajinan kreatif yang diolah dari sampah plastik


Meski sudah melakukan pemilahan dan daur ulang sampah, Taufiq menuturkan masih ada sekitar dua truk sampah yang dikirim ke TPA setiap minggu. Sampah yang terbuang percuma ini lah yang kini sedang dicari bagaimana cara pemanfaatannya.

Ada gagasan mengolah sampah terbuang menjadi paving block. Pengurus Bank Sampah dan Proklim sudah belajar ke Purbalingga. Namun karena produksi paving block menghasilkan asap pekat, Taufiq mengaku masih pikir-pikir menerapkannya di Bulakan.

“Khawatir kalau asap nanti mengganggu warga hingga muncul protes. Jika asap bisa diminimalkan, kami tertarik. Kami masih mencari model yang tepat untuk pemanfaatan sampah terbuang,” katanya.

Semangat dan kreatifitas warga membawa efek domino bagi kegiatan ekonomi warga. Terlebih, Bulakan dianugerahi tanah yang subur. Tanaman kelapa, durian, dan kopi tumbuh subur. Jika kelapa sudah lama dimanfaatkan untuk memproduksi kopra, gula semut, hingga serabutnya dimanfaatkan untuk sapu dan keset, lain halnya nasib kopi di Bulakan.

Kopi yang sebelumnya dianggap tanaman liar, baru digarap serius belakangan ini. Budaya “ngopi” warga perkotaan mendorong Warga Bulakan mengolah kopi secara serius. Hasilnya, mereka kini memiliki produk unggulan Kopi Iklim.

Tak berhenti disitu, warga menata mimpi Bulakan sebagai sentra penghasil bunga. Tanah Bulakan yang subur kerap menjadi incaran pedagang tanaman. Mereka membeli tanah Bulakan sebagai media tanam.

Melihat potensi itu, kampung Proklim Bulakan menggagas unit usaha pemanfaatan tanah sebagai media tanam, sekaligus mengembangkan usaha di bidang tanaman hias. “Semua usaha ekonomi itu kami garap untuk mewujudkan Bulakan sebagai kampung berdikari,” katanya.

Taufiq mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. “Kami bersyukur tak sendirian dalam mewujudkan mimpi Bulakan menjadi kampung berdikari. Selain dukungan pemerintah, juga ada dukungan pihak lain seperti dari Astra yang terus mendampingi dan ikut mengedukasi warga,” katanya.

Tak mudahnya mengubah kebiasaan warga terutama dalam mengelola sampah diamini CSR Section Head PT Pamapersada Nusantara Head Office Pangarsa Budi Utama, yang melakukan pendampingan di Bulakan. Hanya saja, kerja pendampingan di Bulakan relatif lebih ringan karena ada warga yang memiliki visi sama melalui proklim. 

omonganem bulakan asri
Pemanfaatan sampah organik untuk biogas

Budi mencontohkan, melalui program CSR perusahannya pernah memasang komposter komunal yang mengolah tinja sebagai energi terbarukan (biogas). Komposter komunal yang dibangun secara hitung-hitungan sudah menghasilkan biogas. Namun, warga keberatan memanfaatkannya karena alasan tertentu.

“Mungkin karena mereka melihat bahan bakunya yang berasal dari tinja manusia. Karena mereka tak mau memanfaatkannya untuk memasak, ke depan kami wacanakan untuk penerangan kampung,” katanya.

Program Kampung Berseri Astra (KBA) Cilongok di Dusun Bulukan, Desa Langgongsari, berjalan cukup baik karena peran serta masyarakatnya. Sejak awal, lanjut Budi, program ini memang hanya memfasilitasi kampung yang masyarakatnya aktif. 

“Kami tidak ingin menyuapi, namun memberi kail. Mereka yang membuat kelompok, melakukan pemetaan, programnya seperti apa, kamii hanya memfasilitasi,” katanya.

Sampah menjadi isu utama di Bulukan. Semangat warga mendaur ulang sampah telah menghasilkan kerajinan kreatif. Saat ini, produk kerajinan warga Bulakan sudah nampang di galeri kami di Bandara Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, bersama produk-produk desa binaan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Setelah sampah, potensi air menjadi program yang bakal serius digarap ke depannya. Warga Bulakan telah membuat biopori di pekarangan rumah agar air bisa terserap ke tanah. “Sekarang sedang didiskusikan bagaimana memanfaatkan air agar tidak terbuang percuma,” katanya.





*)Sumber foto : Fanpage Facebook Proklim Bulakan Asri