Rabu, 12 Juni 2019

Bulus, Duku, dan Seruan Jaga Lingkungan dari Tradisi Bulusan

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com


SYAWALAN tahun ini kembali berkesempatan mendokumentasikan Tradisi Bulusan. Tradisi di Dusun Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus ini menarik karena mengangkat isu lingkungan dan kerukunan.

Tradisi ini dirayakan pada tanggal 8 Syawal, atau H+7 setiap tahun. Tahun ini, puncaknya pada hari Rabu (12/6/2019). Meski begitu, keramaian di Dusun Sumber sudah terasa sejak hari pertama Lebaran.

Para PKL memadati jalan di Dusun Sumber, mulai pinggir jalur Pantura hingga makam Mbah Dudo. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal Dusun Sumber sekaligus penyebar Islam sezaman dengan Sunan Muria.

Malam hari, Dusun Sumber bermandi cahaya dari pasar malam yang menyuguhkan aneka permainan mulai dermolen (bianglala), ombak banyu, kolam pancing, hingga kebun binatang mini.

Hewan bulus dan buah duku menjadi ikon Dusun Sumber. Setiap Tradisi Bulusan, kedua ikon itu muncul menjadi pengingat untuk selalu menjaga lingkungan. Pada gebyar festival budaya Bulusan, kali ini, warga tak ketinggalan mengarak patung bulus berukuran besar dikawal dua pohon duku yang juga berukuran besar.

Kedua ikon itu dikirab bersama gunungan hasil bumi lainnya. Tua-muda, besar dan kecil warga Sumber sengkuyung mengikuti kirab. Mereka berdandang dengan aneka kostum. Sekelompok warga mengenakan kostum ikonik pemuka berbagai agama.

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
peserta kirab mengenakan pakaian berbagai pemuk agama
Senyum dan gelak tawa mereka menjadi simbol untuk terus menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Di halaman makam Mbah Dudo, gunungan hasil bumi itu diperebutkan ratusan warga yang memeriahkan tradisi tahunan setiap Syawal itu.

Tradisi Bulusan dilestarikan warga hingga kini. Sejumlah pejabat di Kudus mulai Bupati dan Wakil Bupati Kudus HM Tamzil dan H Hartopo, Sekda Kudus Sam’ani Intakoris, hingga jajaran pejabat Forkompida lainnya hadir di tengah ribuan warga yang memadati Tradisi Bulusan.

Pada tradisi itu, Bupati membuka festival dengan memberi makan Bulus di makam Mbah Dudo. Ketiga Bulus itu diberi makan lepet, penganan dari ketan berbentuk lonjong yang dibungkus janur (daun kelapa yang masih muda).

Duku Sumber menjadi tanaman yang hampir ada di halamam rumah warga. Hingga 1980-an, populasinya masih cukup banyak. Setiap musim panen tiba, warga memetik untung dari pohon yang memiliki batang besar itu.

Buah Duku Sumber terkenal karena memiliki rasa yang manis dengan ukuran yang cukup besar. Buah duku Sumber bahkan menjadi incaran warga hingga luar daerah. Sayang populasi tanaman duku di Sumber jauh menurun, saat ini. 

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Warga membawa maskot patung pohon duku salah satu ikon Dusun Sumber
Sementara kehadiran Bulus erat kaitannya dengan cerita rakyat yang berkembang di kalangan warga Sumber. Tradisi Bulusan tak lepas dari sosok Mbah Dudo, yang diyakini sebagai seorang alim cikal bakal Dusun Sumber.

Setiap Tradisi Bulusan, selalu digaungkan seruan untuk menjaga sungai dan lingkungan. Dengan menjaga sungai, habitat bulus, diharapkan lingkungan bebas banjir. Ikan dan hewan lainnya pun terjaga. Namun, seruan itu harus lebih giat digaungkan. Tak hanya saat tradisi Bulusan berlangsung.

Ihwal Bulus yang dikematkan di Dusun Sumber, banyak versi cerita yang berkembang di Masyarakat. Namun yang paling populer seperti dikisahkan Sirajudin, juru kunci makam dan punden Mbah Dudo, tradisi itu tak lepas dari cerita turun temurun yang mengaitkan Mbah Dudo dan santrinya, dengan Sunan Muria.

Dikisahkan, Mbah Dudo memiliki dua orang santri Umara dan Umari. Pada Bulan Ramadan keduanya lembur “ndaut” mencabut bibit padi hingga malam hari. Pada malam peringatan Nuzulul Quran, Sunan Muria datang hendak menyebarkan Islam. 

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Bupati memberi makan Bulus Sendang Makam Mbah Dudo

Mendengar bunyi “kecipak-kecipik” Umara dan Umari yang mencabuti bibit padi, Sunan Muria pun berujar : “Malam Nuzulul Quran tidak mengaji kok malah berendam di sawah seperti bulus saja,”

Syahdan, keduanya pun berubah menjadi bulus. Melihat kejadian itu, Mbah Dudo pun datang meminta maaf atas kesalahan kedua santrinya. Sayang, semua sudah terjadi. Sunan Muria yang membawa tongkat kayu “adem ati” kemudian menancapkannya ke tanah dan muncul sumber.

Sunan pun berujar, kelak akan banyak warga keturunan yang mendatangi sumber itu untuk menghormati bulus tersebut. Sumber itu lah yang saat ini diyakini sebagai Sumber Bulusan tepat di sebelag punden Mbah Dudo.

Terlepas dari benar tidaknya kisah itu, warga Bulusan terus memegang teguh sampai saat ini. Kisah itu pula yang mendasari terus dilestarikannya tradisi Bulusan. Selain menggelar kirab, tradisi Bulusan tahun ini juga dimeriahkan dengan lomba mancing, lomba rebana, malam tirakatan, hingga pentas musik dan wayang kulit. 

Tradisi Bulusan juga menjadi berkah bagi para PKL yang menggelar pasar malam di sepanjang jalan Dusun Sumber. 

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Pasar malam tradisi Bulusan
Tradisi Bulusan menjadi magnet wisata Syawalan yang mampu menyedot pengunjung dari Kabupaten Kudus mapun kabupaten tetangga lainnya. Produk-produk lokal warga Hadipolo, terutama Sumber, juga laris diburu pengunjung. 

Syawalan bagi warga Dusun Sumber, adalah momentum memetik berkah dari tradisi yang terus dilestarikan, sekaligus menguri-uri budaya warisan leluhur. Bulus dan Duku, diharapkan terus terjaga kelestariannya. 


tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Anak-anak mengusung patung bulus


Senin, 10 Juni 2019

Mengeksplor Sisi Lain Borobudur dari Eksotisme Balkondes

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism

BANGUNAN joglo dengan halaman cukup luas itu berdiri anggun dikelilingi pepohonan yang rindang. Penampakan aslinya tak jauh berbeda dari foto-foto di sebuah situs wisata Magelang, yang saya lihat seminggu sebelum menginjakkan kaki di tempat itu.

Berawal dari niat menikmati Borobudur dan Kota Magelang dari sisi yang lain, saya pun rajin menggali informasi dengan berselancar di dunia maya. Kebetulan, saya dan lima rekan berencana menikmati akhir pekan dengan berlibur di Magelang, akhir Maret lalu.

Kota itu kami pilih karena tak begitu jauh dari Kudus, tempat tinggal kami. Kebetulan juga, ada agenda organisasi yang digelar di Magelang. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Sembari ada undangan, juga berpetualang di kawasan Borobudur ala-ala millennial tourism.

Tak susah mengakses informasi wisata Borobudur di internet. Informasinya banyak berserakan di situs-situs wisata hingga media sosial. Kemudahan informasi ini semakin memanjakan dalam menyusun rencana hingga menentukan lokasi mana yang hendak dikunjungi.

Maklum, waktu liburan tak panjang, harus dimanfaatkan betul-betul. Hidup di era milenial memang memudahkan dalam hal apa pun. Termasuk merencanakan wisata ala-ala milenial. Selain mengeksplor kawasan Borobudur, rafting di Sungai Elo masuk dalam daftar wajib kunjungan kami.

Hingga akhirnya, webiste www.balkondesborobudur.com mencuri perhatian saya. Akronim Balkondes ternyata kepanjangan dari Balai Ekonomi Desa. Menarik...! Membaca ada “Ndes-ndes-nya” saya yakin pasti pelayanannya akan berbau yang “Ndeso-ndeso”. Ternyata perkiraan saya tidak meleset.

Ini lah yang saya cari. Sejak ada niat ingin berwisata ke Borobudur, hotel saya coret dari daftar menginap. “Harus ada pengalaman lain,” batin saya. Sejumlah nomor homestay di internet saya hubungi. Sayang, homestay incaran sudah tidak ada kamar tersedia. Maklum, akhir pekan banyak wisatawan berkunjung ke Borobudur.

Namun saran pengelola homestay terakhir yang saya hubungi membuat saya tenang. "Tenang mas, di sini banyak homestay. Pasti ada kamar tempat menginap," katanya. Kami pun tak lagi pusing memikirkan penginapan. Bismillah saja....

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Suasana eksotis di Balkondes Ngaran Borobudur

Balkondes Borobudur terletak di Dusun Ngaran, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tak sulit mencari tempat wisata ini. Lokasinya persis di sebelah selatan Candi Borobudur.

Bangunan joglo nan eksotis menyambut setiap tamu yang mampir di tempat ini. Di bagian belakang joglo utama ada rumah-rumah panggung yang difungsikan sebagai mushola dan penginapan. Di sebelah timur ada bangunan joglo lagi untuk tempat makan pengunjung.

Di sebelahnya, ada rumah kayu jati yang dijadikan etalase oleh-oleh khas Borobudur. Mau berburu cobek batu, topeng kayu, hingga kaos bergambar candi Borobudur, semua lengkap dijajakan di sana. Pepohonan hijau menambah kerasan hingga berlama-lama di bangunan ini.

Secangkir kopi Menoreh yang menjadi suguhan tak tergantikan di tempat ini, cukup untuk mengusir penat setelah berjam-jam berkendara. Cocok sebagai mood booster, modal untuk menikmati eksotisme Borobudur yang tersohor itu.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Secangkir kopi Menoreh
Dari Agus Budi Santoso (38) pengelola Balkondes Borobudur, saya mendapat cerita unik dibalik berdirinya Balai Ekonomi Desa (Balkondes) ini. Agus menuturkan, lokasi Balkondes Borobudur sebelumnya adalah tempat pembuangan kotoran gajah milik Taman Wisata Candi Borobudur.

Ide mendirikan Balkondes muncul ketika Pemerintah Pusat melalui Kementerian BUMN menyalurkan dana CSR percepatan pariwisata di sekitar Borobudur. Dusun Ngaran mendapat kucuran dana sekitar Rp 1 miliar dari PT Taman Wisata Candi Borobudur.

Dana ini sebesar Rp 750 juta digunakan untuk proyek fisik Balkondes. Selebihnya untuk aktivasi, modal kerja, gaji karyawan, hingga pembelian mebeler. Balkondes Borobudur mulai dioperasikan 2016.

Kemudahan akses digital memudahkan pengelola berpromosi. Bersama sebanyak 19 Balkondes lainnya di kawasan Borobudur, foto-foto dan agenda Balkondes Borobudur dipajang di website resmi Balkondes.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Joglo utama Balkondes Ngaran Borobudur
Alasan kami ngebet ingin ke Balkondes Ngaran, Borobudur, sederhana. Selain lokasinya dekat dengan Borobudur, penataan tempatnya juga unik. di Balkondes ini juga terdapat penginapan dengan 20 kamar.

Menariknya lagi, dengan berjalan kaki sekitar 200 meter ke arah barat, kita bisa melihat puncak bangunan Candi Borobudur. Lokasinya juga tidak jauh dari objek wisata lain seperti Candi Mendut, Sungai Elo, museum kamera (Camera House Borobudur), Gereja Ayam, Puthuk Setumbu, dan objek wisata instagramable lainnya.

“Jika ingin melihat Borobudur langsung dari Balkondes, bisa coba menginap di Balkondes Tuksongo, Wanurejo, atau Karanganyar,” saran Agus yang tak pelit berbagi informasi mempromosikan Balkondes lainnya.

Namun, lagi -lagi tempat yang disarankan juga sudah penuh pengunjung. Melihat eksotisme Balkondes ngaran, saya bersama rombongan pun berniat menginap di tempat ini. Tapi lagi-lagi keinginan itu harus kami pendam dalam-dalam.

“Wah maaf mas, sudah penuh. Kalau ingin penginapan alternatif bisa menginap di homestay jaringan kami,” saran Agus yang langsung saya iyakan saja.

Duh... Saat musim Liburan, penginapan di Balkondes penuh. Menyesal juga mengapa saya tidak langsung booking saat menemukan website mereka. Alternatifnya, kita bisa menginap di homestay atau di rumah warga yang disewakan. Biasanya mereka berjejaring dengan pengelola Balkondes.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Pengunjung berburu oleh-oleh di Balkondes Borobudur
Selain lewat website, Agus juga memanfaatkan Instagram untuk berpromosi. "Kepoin" saja akun instagram Balkondes Borobudur di sini.

Sudah sampai Balkondes, jangan lewatkan paket wisatanya. Mau berkeliling Borobudur dengan berkendara mobil VW “camat” (Safari), naik andong andong, atau bersepeda menikmati pemandangan desa. Moda transportasi itu bisa langsung dipesan di pengelola Balkondes, atau website resminya.

Bagi yang suka memacu adrenalin, jajal saja paket tour off-road di pegunungan Menoreh, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur. Mau rafting di Sungai Elo juga bisa mendapatkan harga miring jika memesan lewat Balkondes.

Gagal menginap di Balkondes Borobudur justru membawa pengalaman baru. Kami menginap di homestay milik warga. Pak Gani namanya. Pemilik homestay tempat saya menginap ini memiliki mobil klasik VW Safari warna putih yang biasanya disewakan bagi pengunjung. Karena menginap di rumahnya, saya pun diperbolehkan menjajal kemudi kendaraan klasik itu.

Pak Gani juga menawarkan harga miring untuk menikmati rafting di Sungai Elo. Tapi karena kami sudah terlanjur booking lewat penyedia jasa rafting Citra Elo yang kami pesan lewat website-nya.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Menjajal Kemudi VW Safari
Menikmati pinggiran Borobudur via Balkondes sebagai pintu masuknya sungguh di luar dugaan kami. Banyak informasi menarik yang kami dapat. Terutama bagaimana mereka bisa menggerakkan ekonomi warga melalui potensi yang ada, memanfaatkan kunjungan wisatawan yang tidak putus-putusnya.

Selain itu, objek wisata buatan pun tumbuh subur di kawasan Borobudur. Semua itu bisa kita jelahi berbekal riset kecil-kecilan dari informasi yang banyak berserakan di dunia maya. Dari pengalaman menikmati eksotisme Borobudur dari sisi yang lain itu, ada sejumlah tips yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan hendak kemana kita berlibur.

Apa saja, berikut lima tipsnya :

1. Perencanaan

Di dunia yang serba digital saat ini, tidak sulit untuk melakukan riset objek wisata yang layak dikunjungi. Kita bisa meluangkan waktu dengan mengintip unggahan tempat wisata dengan tagar populer.

Catat tempat-tempat yang menarik perhatian itu. Lihat di peta, apakah lokasi-lokasi itu berada dalam jalur kunjungan yang mudah ditempuh.

Cari tempat penginapan yang pas dengan isi kantong. Semakin banyak referensi, semakin mudah menentukan pilihan. Jangan takut menghubungi nomor yang tercantum di setiap website atau akun penyedia jasa wisata untuk sekedar menggali lebih banyak informasi.

Dengan bekal informasi yang cukup, akan memudahkan dalam memutuskan akses transportasi yang hendak dipilih. Dengan perencanaan yang matang, biaya wisata pun bisa lebih dihemat.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Keseruan rafting di Sungai Elo
2. Booking Tempat

Setelah mendapat tempat menginap yang diincar, segera lah melakukan pemesanan. Saat puncak kunjungan wisata, bisa jadi tempat-tempat populer di instagram atau media sosial lainnya, juga diincar oleh wisatawan yang lain.

Semakin cepat semakin baik. Memesan jauh-jauh hari juga memungkinkan untuk mendapatkan potongan harga dari penyedia jasa.

3. Go Get Lost

Ada jargon yang keren di kalangan milenials penggila wisata : Go Get Lost. Jargon ini seolah menawarkan tantangan tersendiri. Dengan tidak merencanakan apa pun, pengalaman baru penuh kejutan bisa didapatkan. Namun di sisi lain, dengan perencanaan yang minim itu kita harus siap-siap dengan pengeluaran tak terduga. Ada plus dan ada pula minusnya.

4. Siapkan Alat Dokumentasi

Berwisata tanpa meninggalkan jejak foto kurang lengkap di era millennials tourism saat ini. Foto-foto kece di tempat wisata selain menjadi dokumentasi yang penting bagi kita, juga bisa menjadi referensi penting bagi kawan-kawan kita yang lain.

Dengan mengunggah foto-foto atau video di tempat wisata, kita juga sekaligus mempromosikan keindahan alam dan budaya Indonesia.

5. Bijak Saat Berbelanja

Berwisata tanpa berbelanja juga aneh rasanya. Namun, jangan sampai kalap. Menghabiskan semua tabungan di tempat wisata juga rasanya kurang bijak. Belanjakan uang hanya untuk hal-hal yang penting. Membelikan oleh-oleh untuk kawan atau keluarga di rumah juga harus cermat agar tidak menguras kantong dalam-dalam.

Dengan perencanaan yang matang, sepertinya kita tidak akan membuang-buang waktu dan biaya untuk hal-hal yang tidak perlu. Selamat berwisata....!

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Susana eksotis di Balkondes Borobudur




Selasa, 21 Mei 2019

Top 10 Oleh-oleh Khas Kudus


oleh oleh khas kudus omonganem

MUDIK lebaran identik dengan oleh-oleh. Memang sih, kehadiran kita di tengah keluarga adalah yang utama. Tapi aneh kan rasanya kita pulang mudik, atau balik lebaran dengan tangan hampa.

Berikut top 10 oleh-oleh Lebaran khas Kudus yang dirangkum oleh Omonganem Dot Com.

Jika kamu mengenal oleh-oleh khas Kudus adalah jenang, kamu sama sekali ndak salah. Penganan legit ini memang sudah lengket dengan Kota Kretek. Tapi ketahuilah, oleh-oleh Khas Kota Kudus tak hanya jenang Kudus. Lebih lengkapnya, simak satu persatu daftar top 10 oleh-oleh Khas Kudus berikut ini.

1. Jenang Kudus



top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Rasanya tak afdhol menempatkan penganan yang diolah dari tepung beras ketan dan gula jawa ini pada daftar teratas oleh-oleh khas Kudus. Setiap orang yang singgah di Kota Kretek, tentu langsung mengincar penganan manis legit ini.

Di Kudus, banyak sekali perusahaan rumahan yang mengolah jenang kudus. Mulai dari jenang dengan cita rasa jadul yang konvensional hingga jenang kekinian yang diolah dengan aneka rasa yang menggoda selera.

BACA JUGA :
8 KEDAI NGOPI ASYIK DI KUDUS
JELAJAHI MUSEUM KRETEK DITEMANI GUIDE VIRTUAL

Pusat oleh-oleh Jenang paling banyak tersebar di Jalan Sunan Muria. Jenang Mubarok adalah merek ternama penganan ini. Popularitasnya berada di peringkat atas dari seluruh merek jenang yang ada.

Merek jenang sinar 33 adalah merek jenang Kudus yang sudah melegenda. Paling mudah mencari produk jenang Mubarok yakni di Museum Jenang di Jalan Sunan Muria.

Museum jang ini menempati bangunan berlantai tiga di pinggir jalan Sunan Muria. Lantai satu untuk etalase produk jenang dan aneka oleh-oleh khas Kudus lainnya. Sementara di lantai dua digunakan untuk museum jenang.

Kita bisa berbelanja aneka macam jenang, dodol jenang, brownies jenang, sekalian berwisata di museum yang berada di lantai dua.

Selain di Museum Jenang, banyak deretan jenang produk usaha rumahan di pinggir Jalan Sosrokartono di Desa Kaliputu. Lokasinya berada di pinggir jalan Kudus – Colo Desa Kaliputu. Sejumlah merek terkenal yang direkomendasikan yakni Jenang Menara, Asia Aminah, Kenia, Karomah. Sina Fadhil, dan lan-lain.

2. Madumongso

top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Sekilas, madumongso mirip dengan jenang. Bedanya jika jenang diolah dari tepung ketan, madumongso diolah dari beras ketan hitam sebagai bahan dasarnya. Rasanya asam bercampur manis.

Pasalnya, ketan diolah dulu menjadi tapai melalui fermentasi, sebelum diolah menjadi madumongso. Setelah menjadi tapai, kemudian diolah lagi dengan menambahkan bahan-bahan lain seperti gula dan santan. Ada yang menambahkan buah nanas untuk cita rasa yang khas.

Madumongso biasanya dibungkus dengan kertas minyak warna-warni. Penganan ini bisa didapat di sejumlah tempat oleh-oleh Khas Kudus yang banyak tersebar di seantero wilayah Kabupaten Kudus.

3. Keciput


top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Keciput adalah sejenis onde-onde kecil. Bedanya, ukuran keciput lebih kecil dari onde-onde. Bedanya lagi, keciput termasuk kue kering. Keciput berbentuk bulat, ada juga yang lonjong. Kesamannya, kue keciput dibalut dengan biji wijen di seluruh bagian.

Keciput dibuat dari bahan tepung terigu, telur, margarin, dan adonan perasa. Setelah seluruh adonan dicampur dan diaduk dengan merata, adonan dibiarkan mengembang hingga sedikit mengeras.

Adonan kemudian dipotong kecil-kecil dan dibentuk bulatan kecil atau juga lonjong. Setelah ditaburi dengan wijen, adonan kemudian digoreng. Rasa keciput biasanya manis dan gurih dengan kerenyahan biji wijen.

4. Kopi Muria

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Popularitas kopi muria empat tahun terakhir pelan tapi pasti terus menanjak. Komunitas pecinta kopi di Kudus berperan penting dalam mengangkat popularitas kopi muria.

Kopi muria diolah dari biji kopi yang dipanen dari wilayah lereng muria. Kopi Muria mudah didapat di kedai -kedai kopi ternama di Kudus. Dengan aroma dan cita rasa yang khas, kopi muria sepertinya wajib masuk dalam daftar oleh-oleh khas Kudus.

5. Sirop Parijoto


top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Bagi yang sering berziarah di makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, buah parijoto sudah tentunya sudah tidak asing lagi. Buah parijoto kerap diburu bagi pasangan yang baru menikah.

Konon buah ini bisa menyuburkan kandungan. Bagi yang sudah hamil, ada mitos jika mengkonsumsi buah merah berukuran kecil dengan rasa asam ini, maka kelak anaknya akan berparas tampan atau cantik.

Belakangan, pelaku UMKM di Desa Colo mengolah parijoto menjadi sirop. Sirop parijoto banyak diburu oleh para peziarah maupun wisatawan yang mampir ke Kota Kudus.

6. Keripik Pakis

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Masih dari lereng Muria. Daun pakis sudah lama dikenal sebagai menu kuliner khas di Lereng Muria terutama di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di kaki Muria tak jauh dari makam Sunan Muria, terdapat warung makan dengan menu utama pecel pakis yang melegenda.

Oleh tangan-tangan kreatif anak muda di lereng Muria, pakis diolah menjadi keripik. Idenya mungkin berasal dari keripik bayam, atau keripik daun-daunan yang lain.

Melihat keunikan keripik daun pakis, rasanya sayang jika penganan ini tidak masuk dalam daftar oleh-oleh khas Kudus yang wajib dibawa saat nanti balil libur Lebaran ke kota asal.

7. Parijoto Chips

top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Lagi-lagi kreatifitas pelaku UMKM di lereng Muria menyumbang kreatifitas mengolah penganan yang berkelas. Setelah sukses mengolah parijoto menjajdi sirop, anak-anak muda di Colo juga mengolah buah parijoto menjadi penganan semacam keripik.

Mereka menamainya Parijoto Chips. Dengan kemasan yang menarik, penganan ini mulai mendapat tempat dihati para wisatawan. Jangan sampai ketinggalan mencicipi penganan keripik yang satu ini.

8. Getuk Nyimut Kajar

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Gethuk nyimut telah lama menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke Muria. Gethuk ini mudah dijumpai di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Namanya gethuk, penganan ini diolah dari bahan baku utama singkong. Bentuknya bulat dengan tambahan gula merah di bagian tengah. Gethuk goreng ini menjadi favorit pesepeda yang gowes ke Muria di Minggu pagi.

Belakangan, pelaku usaha rumahan di Lereng Muria berkreasi mengolah gethuk nyimput menjadi lebih kekinian. Cek saja akun instagram Kang Singkong. Gethuk ini kini “Naik kelas” dengan tambahan cita rasa yang mengundang rasa penasaran.

9. Keripik Kulit Pisang Tanduk

top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Pisang tanduk adalah buah khas yang menjadi buah tangan dari lereng Muria. Pisangnya berbentuk lebih panjang dibanding pisang lainnya. Peziarah atau wisatawan kerap membeli pisang tanduk yang masih segar, atau sudah direbus. Rasanya manis.

Oleh tangan-tangan kreatif warga Kudus, tak hanya daging buah pisang yang bisa dicicipi. Kulitnya pun bisa diolah menjadi keripik yang membuat orang ketagihan.

Ihwal munculnya keripik kulit pisang ini, diinisiasi oleh mahasiswa asal salah satu universitas di Semarang yang menggelar KKN di salah satu desa di lereng Muria. Anak-anak muda ini melihat potensi kulit pisang untuk diolah menjadi keripik.

Dengan kemasan menarik, keripik ini mulai dilirik menjadi salah satu oleh-oleh Khas Kudus.

10. Kecap THG

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Ehm.... oleh-oleh tak melulu soal makanan kan? Boleh kan memasukkan kecap legendaris asal Kota Kudus yang satu ini dalam daftar oleh-oleh yang patut dibawa. Konon, makan makanan khas Kudus tanpa kecap THG bak makam sayur tanpa garam.

Sebut saja mau makan Soto Kudus, Nasi Pindang, atau Nasi Tahu khas Kudus, kecap yang satu ini tak boleh ketinggalan.

Kecap THG sudah menjadi klangenan cah Kudus yang sudah merantau ke luar daerah.

Itu tadi penganan yang masuk Top 10 oleh-oleh khas Kudus versi Omonganem Dot Com yang perlu dipertimbangan untuk diborong saat nanti libur mudik Lebaran. Yang penting lagi untuk diperhatikan tentunya, perlu lah kita bijak dalam membelanjakan uang. Jangan kalap dalam berbelanja. Sok bijak dikit boleh kan....



top 10 oleh-oleh Khas Kudus







.

Minggu, 19 Mei 2019

Di Mana Jejak Bekas Sujud Itu?

masjid tanpa sujud anis sholeh baasyin


MENURUT kalian, apa itu sujud? Menempatkan kepala di tempat terendah (tanah) untuk menyembah yang Esa? Lantas, di mana jejaknya?

Pertanyaan demi pertanyaan ini mengusik akal sehat hingga memaksa untuk memaknai arti sebenarnya tentang sujud. Kelompok teater Gerak 11 mengajak penonton “mencari” makna sujud dalam pementasan lakon “Masjid Tanpa Sujud” di Gedung O FKIP Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (18/5) malam.

Naskah “berat” karya Habib Anis Sholeh Ba’asyin terasa semakin berat karena dialog penuh pertanyaan yang setiap jawabannya, melahirkan kembali pertanyaan : Apa makna sujud?

Berkutat pada dua tokoh utama yang diperankan Luluk Karima dan Kholizul Azizi, lakon Masjid Tanpa Sujud melakukan pencairan makna sujud sejati. Kehadiran dua tokoh bernama sama, Abdullah, menggiring penonton memaknai sujud.

Abdullah yang satu, mengaku datang dari timur hendak ke barat, sementaa Abdullah yang lain datang dari barat hendak ke timur. Keduanya membawa benang merah makna sujud.

Dengan sering bersujud penuh kesadaran, akan mengantar manusia menjadi tawadhu’. Menjadikan manusia sebagai sosok yang rendah hati. Namun sayang, konsep sujud itu justru seakan dilupakan dalam berperadaban.

Orang-orang justru sibuk membuat kelompok dan “tenda-tenda” di dalam masjid. Satu sama lain saling mengagungkan diri dan kelompoknya. Mengecilkan yang lain. Menyalahkan kelompok yang lain.

Inilah yang kerap menjadi sumber kekacauan. Sebab, sejak awal orang kerap gagal bersujud. Ia bersujud kepada selain Allah. Sujudnya lebih pada remeh-temeh kepentingan duniawi.

Bukankah semua yang terhampar ini adalah masjid?Pantaskah berjalan di dalam masjid dengan beralas kaki?

“Seandainya orang bodoh atau tidak berilmu tidak berbicara, tentulah tidak ada kekacauan. Namun yang terjadi justru banyak orang yang tidak punya ilmu justru sering berbicara dengan keras,” kata tokoh Abdullah.

Tak salah Sutradara Sutrimo Astrada “memaksakan” Masjid Tanpa Sujud ini dipentaskan di Bulan Ramadan. Meski baru lima minggu mengakrabi naskah, Sutrimo menilai pesan naskah ini tepat disuguhkan di bulan Ramadan.

Momentum Ramadan, dinilai menjadi saat yang tepat untuk kembali mendalami nilai-nilai agama. “Memang masih banyak kekurangan dalam pementasan ini. Akan kami perbaiki di pementasan selanjutnya,” katanya.

Kelompok tetater PMII Kudus itu menyuguhkan tata panggung yang sederhana. Kain putih berbingkai warna hitam mendominasi di latar belakang. Pohon dengan ranting mengering diapit oleh bebatuan besar di tengah panggung.

“Kain warna putih kami maknai sebagai kesuciaan atau kelahiran, yang kemudian menjadi gersang (disimbolkan pohon dengan ranting mengering – Red),” katanya.

Pementasan dibuka dan ditutup oleh penampilan kelompok seni terbangan dan penari sufi. Selawat asnawiyah di akhir pementasan seolah mengajak penonton mendoakan bangsa agar tetap aman di tengah karut marut akibat tensi politik yang memanas belakangan ini.,

Kelompok teater Gerak 11 berencana mementaskan lakon ini di lima kota. Pati dan Jogjakarta telah dipilih. Tiga kota lainnya masih digodok. “Kami ingin mementaskan naskah ini di Pati, sebab Habib Anis berasal dari Pati. Kami ingin mendengar respons penonton di sana,” katanya.





.

Rabu, 15 Mei 2019

Gubug Warna Semai Budaya Literasi Keluarga


BAGAS langsung duduk bersila, berbaur dengan puluhan anak lainnya di halaman sebuah rumah di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Minggu (12/5) sore. Bocah sepuluh tahun itu awalnya terlihat malu-malu karena datang terlambat.

Namun setelah mendengar ajakan temannya untuk segera duduk, ia pun tak canggung segera bergabung. Sore itu, Bagas dan anak-anak Desa Karangmalang terlihat gembira mengikuti acara Ngabuburead.

Kegiatan kreatif itu digagas Komunitas Gubug Warna. Ngabuburead diambil dari gabungan dua kata ngabuburit (sore menunggu berbuka) dan “read” bahasa inggris yang berarti membaca.

Ngabuburead secara khusus digelar untuk mengisi kegiatan anak-anak menjelang bedug magrib di bulan Ramadan. Selain membaca buku, anak-anak diajak bermain kreatif membuat sapu tangan celup warna-warni, kreasi bunga, menari tari kretek, dan permainan akustik.

Keseruan anak-anak Minggu sore itu hanya bisa dihentikan oleh bedug diiringi kumandang azan magrib tanda berbuka puasa tiba. “Ayo saatnya berbuka. Jangan berebut, semua pasti mendapat,” seru Hendro Wibowo (28), pengagas Gubug Warna.

BACA JUGA :

Komunitas Kereta Pelangi Daur Ulang Sampah untuk PendidikanPerangi Perang Dengan Lagu

Komunitas Gubug Warna berdiri sekitar Juni 2017. Gubug Warna kini menjadi tempat bermain dan belajar anak-anak Desa Karangmalang. “Bermain memang kami utamakan, termasuk dalam belajar. Dengan bermain anak-anak bisa lebih betah dan menangkap isi pelajaran yang diberikan,” katanya.

Gewol, panggilan akrab Hendro Wibowo menggagas Gubug Warna setelah lama aktif bersama komunitas Omah Aksi (OA) Kudus. Di saat berkecimpung di dunia literasi, sosial, dan pendidikan anak bersama OA itulah, Gewol membayangkan kenapa tidak membuat komunitas serupa di desanya.

“Saat itu saya berfikir jika hanya bersama OA, maka anak-anak di sekitar lingkungan OA yang mendapatkan manfaatnya. Mengapa saya tidak pulang dan mendirikan komunitas serupa di desa saya,” katanya.

Niat itu didukung relawan OA lainnya. Bahkan, sejumlah relawan OA lainnya juga tertarik mendirikan komunitas serupa di desanya masing-masing. Dengan mendirikan komunitas literasi di desa masing-masing, lanjut Gewol, manfaatnya akan semakin banyak, jejaring pun semakin luas.

Mengajak sejumlah teman dan tetangganya, mulailah Gewol mendirikan Gubug Warna dengan memanfaatkan rumah warga untuk “gubug” bermain. Setiap berkegiatan, Gewol tak lupa melibatkan komunitas-komunitas anak muda di Kudus.



Dengan saling berjejaring, anak-anak muda di lintas komunitas itu pun saling gotong royong setiap menggelar kegiatan. Tak hanya soal dana untuk kegiatan, mereka pun saling membantu untuk mengumpulkan donasi seperti buku bacaan hingga perlengkapan untuk permainan anak. Saling bantu ini sudah menjadi hal yang biasa.

Pada acara Ngabuburead itu misalnya, Gubug Warna menggandeng mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muria Kudus (PGSD UMK), komunitas Pustaka Jalanan, serta komunitas musik kenalannya.

Biaya

Gewol dan rekan-rekannya tak terlalu memusingkan hal pembiayaan. Ia yakin, uang ada di mana-mana. Buktinya saat akan menggelar kegiatan seperti Ngabuburead itu, banyak rekan yang secara sukarela membantu baik uang, tempat, maupun makanan.

“Setiap kegiatan, kami tekankan uang donasi harus habis dimanfaatkan untuk kegiatan. Jangan sampai ada sisa uang kas,” katanya.

Gubug Warna semula bermarkas di sebuah rumah berarsitektur joglo di Karangmalang. Namun karena belum lama ini rumah itu kembali digunakan oleh pemiliknya, Gewol dan rekan-rekannya pun berinisiatif menggunakan rumah-rumah warga.

Ide itu direspons positif warga Karangmalang. Jadilah setiap kegiatan, warga yang memiliki rumah dengan halaman luas, dijadikan tempat bermain dan belajar anak-anak komunitas Gubug Warna.

Secara tidak langsung, kegiatan dari rumah ke rumah warga itu juga sekaligus menebar virus budaya literasi keluarga. “Karena berpindah-pindah tempat, muncul kesadaran orang tua untuk mendukung aktivitas anak dalam belajar, sekaligus mendampingi anak-anaknya,” katanya.

Tak hanya asyik dengan kegiatannya, Gubug Warna juga sering dilibatkan Pemerintah Desa Karangmalang. Terutama untuk kegiatan kreatif anak-anak muda. Adi (47), warga Karangmalang mengapresiasi kegiatan komunitas itu.

“Di saat anak-anak sering sibuk dengan ponsel, kegiatan kreatif apalagi untuk meningkatkan minat baca perlu digalakkan. Saya sebagai orang tua mengapreasiasi anak-anak muda Gubug Warna yang peduli pada pendidikan anak di desa kami,” katanya.


Aktivitas Komunitas Gubug Warna itu memberikan pengalaman baru bagi Sofi Famala (20). Mahasiswi PGSD UMK itu semula mau bekerjasama dengan Gubug Warna sebatas untuk memenuhi tugas kuliah.

“Kami tertarik setelah melihat dokumentasi kegiatan mereka di media sosial. Melihat antusiasme anak-anak, sepertinya kami akan sering-sering terlibat di kegiatan Gubug Warna,” katanya.



*) tulisan ini tayang di halaman Kudus Suara Merdeka, Senin (13/5/2019)