Minggu, 08 September 2019

KPAI Jangan Tanggung-Tanggung



Peringatan hari olahraga nasional 9 September tahun ini terasa sangat Istimewa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan kado termanisnya untuk pecinta bulu tangkis Indonesia.

Apalagi kalau bukan “kekalahan” Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum Kudus yang akhirnya memutuskan mengakhiri audisi umum beasiswa bulu tangkis tahun ini. Pengumuman penghentian audisi umum beasiswa bulu tangkis oleh Djarum jadi headline di mana-mana

Bisa jadi, final Audisi di Kudus 20-22 November 2019 menjadi akhir dari audisi umum beasiswa bulu tangkis PB Djarum yang bergulir sejak 2006.

1-0 untuk KPAI.

Lantas, apakah Djarum benar-benar akan “pamit” dari dunia bulu tangkis? Tenang saja. orang-orang klub Djarum tidak secetek itu. Mereka orang-orang bermental kuat. Sudah kenyang kalah menang di lapangan tepok bulu.

Saya yakin, mereka orang-orang yang tulus mengembangkan bulu tangkis. Menyalakan api semangat bulu tangkis ke pelosok negeri, begitu istilah Program Direktur Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin pada suatu kesempatan.

Sebagai warga aseli Kudus yang memantau audisi sejak 2014, saya yakin PB Djarum tetap akan ngopeni atlet-atletnya.

Jadi.. KPAI Tenang saja.... Kalian sudah bekerja dengan baik.

Urusan pembinaan olahraga sejatinya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Syukur-syukur KPAI mau buat sekolah pembinaan olahraga featuring yayasan Lentera. Apalagi KPAI adalah sekumpulan orang yang paling paham tentang anak-anak agar tidak tereksploitasi. Pasti punya metode dan kurikulum yang lebih pro-anak.

KPAI tenang saja... Kalian sudah bekerja dengan baik.

PB Djarum punya banyak metode merekrut atlet. Selain dari audisi umum, mereka rajin memantau talenta-talenta muda berbakat lewat kejuaraan. Istilah PB Djarum rekrut atlet via “Audisi Khusus”.

Jika dirunut sejak 2006, siapa sih atlet PB Djarum yang sukses di level dunia, yang betul-betul lahir dari audisi umum? Paling cuma Kevin Sanjaya Sukamulyo seorang. Untuk saat ini.

Dari ribuan atlet yang mendaftar audisi umum dari berbagai pelosok daerah, yang betul-betul keterima sampai tahap karantina rata-rata 40-an anak. Yang diterima di tahap selanjutnya, rata-rata tak lebih 24 orang...!

Kemana mereka yang lain. Tenang KPAI, di Indonesia banyak klub bulu tangkis besar lainnya.

Lim Swie King, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Ivana Lie juga bukan jebolan audisi umum. Toh mereka kini jadi legenda bulu tangkis Indonesia asal Klub Djarum Kudus.

Sekali lagi. Jika membaca berita-berita yang beredar, yang dihentikan itu audisi umum. Jika tiba-tiba Djarum “pamit” dari bulu tangkis, itu baru geger. Ada apa dengan Djarum?

KPAI tenang saja... Kerja jangan tanggung-tanggung...!

Jangan berhenti hanya menyoroti audisi umum saja. itu kejuaraan-kejuaraan daerah sampai sekelas sirkuit nasional (sirnas) bulu tangkis banyak disokong Djarum. Sapu saja semua. Bersihkan olahraga dari branding perusahaan pengolah tembakau.

KPAI tenang saja... Kerja jangan tanggung-tanggung...!

Infonya Djarum juga peduli dengan pendidikan. Googling saja. Berapa sekolah yang sudah dibangun, difasilitasi, didampingi. Sebagian lulusan SMK “binaan” Djarum kini sudah merintis kerja di luar negeri. Ada yang kerja di kapal pesiar, koki hotel, hingga desainer. Bayarannya gede. Orang tua mereka bangga bukan main.

Jangan tanggung-tanggung dong KPAI....!

Tau kan program penghijauan Pantura yang diekspose besar-besaran di media cetak, online, hingga televisi. Bahaya lho...! anak-anak kita menghirup udara dari pohon yang ditanam perusahaan rokok. eh..

KPAI jangan tanggung-tanggung...!

Emang hanya bulu tangkis saja yang menikmati manisnya duit rokok. Kita sedang bahas anak-anak kan? Bersihin semua... Bersihin...!


.

Kamis, 22 Agustus 2019

Semangat Perjuangan Film Dokumenter Anak “A Ba Ta Macane”



DESA Piji hujan peluru. Desa di lereng Muria Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang semula tenang berubah mencekam. Penjajah Jepang yang menduduki Indonesia mengambil alih desa. Warga melawan. Mereka melancarkan perang gerilya.

Jauh di seberang samudera, tentara Amerika menjatuhkan bom atom Amerika di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, 6 Agustus 1945. Serangan itu membawa angin segar di Tanah Air. Rakyat bangkit. Mereka melucuti tentara Jepang.

Sejumlah tentara Jepang yang masih tersisa menjadi tawanan. Euforia kebangkitan pun dirasakan rakyat bersama para pejuang kemerdekaan di lereng Muria. Ketika para pejuang berhasil melucuti tentara penjajah, suasana desa pun kembali damai. Petani kembali menggarap sawah, anak-anak mulai tenang mengaji.

Indonesia kembali bergejolak saat tentara Sekutu yang dipimpin Jenderal TED Kelly mendarat di Indonesia, 9 Oktober 1945. Tentara NICA yang membonceng Sekutu berusaha merebut kembali senjata yang disita tentara Merah Putih.

Rakyat kembali mengangkat senjata. Di Piji, seorang kiai memimpin rakyat melawan tentara Belanda. Perjuangan rakyat tak sia-sia. Mereka berhasil mengusir tentara penjajah dari desa tanah kelahirannya.

Adegan heroik itu merupakan sekelumit kisah dalam film dokumenter perjuangan “A Ba Ta Macane”, garapan anak-anak Desa Piji. Di bawah arahan Sutradara A Ba Ta Macane M Ulul Azmi (Kak Citul), anak-anak dengan segala keluguannya berakting sebagai tentara merah putih, petani, hingga tentara Belanda.

Film dokumenter dengan durasi sekitar 30 menit itu diputar pada malam tirakatan 17 Agustus lalu di perempatan kampung Piji Wetan RT 4 RW 3 Desa Piji. Semua warga kampung khusyuk menyimak setiap adegan anak-anak. Warga spontan tertawa saat ada adegan lucu, atau ketika ada tokoh yang lupa dialognya.

Film yang dibalut dengan animasi untuk mendramatisasi peperangan itu mendapat samputan hangat dari warga. A Ba Ta Macane ini adalah film kedua. Saat perayaan HUT Kemerdekaan tahun lalu, anak-anak Piji juga membuat film dokumenter dengan tema yang sama. Semua pemainnya juga anak-anak.


Membuat film dokumenter, seolah telah menjadi tradisi tak terlewatkan bagi anak-anak Desa Piji. Azmi, pemuda Desa Piji yang juga pegiat teater di Kudus itu terlihat membebaskan anak asuhnya dalam berakting. Dalam film itu, sejumlah anak yang terlihat tersenyum malu saat seharusnya beradegan serius dibiarkan saja.

Pun dengan gambar-gambar yang “bocor” seperti munculnya sebuah kendaraan bebek keluaran terbaru dalam frame film tak diedit. Meski begitu, pembuatan film indie itu layak diparesiasi.

Film itu dibuat untuk mengenang jasa para pejuang, sekaligus hendak menggugah semangat cinta tanah air bagi anak-anak di desa kami. Karena itu, cerita yang diangkat tak jauh-jauh dari tema nasionalisme dan perjuangan. Setting lokasi yang semuanya di Desa Piji membuat anak-anak lebih dekat dengan semangat perjuangan para pahlawan.


Meski semua pemerannya anak-anak, campur tangan para orang tua tergambar dalam setiap adegan film. Para orang tua secara sukarela menyediakan rumah-rumah mereka untuk pengambilan gambar. Azmi mengatakan, semua warga terlibat dalam penggarapan film ini.

Semua warga teribat karena. Ini sejalan dengan semboyan HUT ke-74 Kemerdekaan yang diusung warga desa, yakni “Sing cilik ngrameni, sing enom nyengkuyungi, sing ibu-ibu njangani, sing bapak nyemanagti, sing sepuh dongani”.

Dalam Bahasa Indonesia, semboyan itu kurang lebih berarti yang kecil (anak-anak) meramaikan, yang muda (remaja) saling membantu, yang ibu-ibu masak menyiapkan makanan, yang bapak memberi semangat, yang tua ikut mendoakan – Red).

Usai diputar perdana dengan menggelar nobar (nonton bareng – Red) pada malam tirakatan, film A Ba Ta Macane itu diunggah Azmi di kanal Youtube “Ruji Pilm” yang dikelolanya. Film-film dokumenter garapan anak-anak Piji Wetan yang sudah dirilis juga diunggah di akun itu.


Sabtu, 17 Agustus 2019

Mengintip Lima Klub Bulu Tangkis di Kudus Batu Loncatan ke PB Djarum

omonganem dot com


SENYUM mengembang dari wajah mungilnya menemani Jesslyn Carrisia (10), naik ke podium kejuaraan bulu tangkis Kretek Cup 2019, Sabtu malam, 4 Agustus 2019. Jesslyn naik ke podium juara usai menumbangkan Neina Zora Aji Ramadhani dua gim langsung dengan 21-7 dan 21-8.

Tak mudah bagi Jesslyn naik podium di kejuaraan yang digelar di GOR Djarum Kaliputu Kudus itu. Sebagai unggulan ketiga di kelompok usia dini putri madya, atlet binaan PB Efrance Kudus ini harus melewati para unggulan lainnya di kelompok itu.

Gelar juara ini melengkapi pencapaian Jesslyn di dunia bulu tangkis usai dini, tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, ia harus “terbang” ke Bandung untuk mewujudkan mimpinya bergabung di PB Djarum Kudus.

Klub yang sedang menjadi perbincangan setelah menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu menggelar audisi beasiswa bulu tangkis di Bandung, akhir Juli lalu. Atas restu orang tuanya, Jesslyn harus menempuh perjalanan sejauh 500 kilometer lebih dari rumahnya di Pati Jawa Tengah menuju Bandung.

Pilihan itu tak salah. Bakat Jesslyn menarik perhatian para legenda bulu tangkis Indonesia yang menjadi pemandu bakat PB Djarum. Ia pun meraih super tiket final audisi yang digelar di Kudus, awal November 2019.

Jesslyn adalah satu dari ribuan atlet cilik yang bermimpi menjadi penerus Lilyana Natsir, legenda bulu tangkis Indonesia jebolan PB Djarum. Nama tenar lainnya yang kini masih berkiprah antara lain Kevin Sanjaya Sukamulyo, Tantowi Ahmad, Mohammad Ahsan, dan Praveen Jordan.

Jauh sebelum itu, PB Djarum juga melahirkan juara dunia seperti Lim Swie King, duo Arbi Hastomo Arbi dan Hariyanto Arbi, hingga Maria Kristin. PB Djarum adalah pintu masuk menuju prestasi bulu tangkis dunia.

Pelatih jempolan, pola latihan yang baik, dan kesempatan turun di turnamen bergengsi di dalam dan luar negeri menjadi alasannya. Terlebih atlet yang bisa menembus ketatnya audisi bakal diganjar beasiswa bulu tangkis penuh. Segala kebutuhannya mulai asrama, hingga perlengkapan bulu tangkis kualitas terbaik dipenuhi klub yang bermarkas di Kudus itu.

Demi lolos audisi PB Djarum, tak sedikit orang tua yang “menitipkan” anaknya untuk berlatih di klub-klub lokal di Kudus. Klub itu menjadi batu loncatan untuk menembus ketatnya audisi.

Menimba ilmu bulu tangkis di Kudus adalah pilihan tepat. Terlebih di Kudus rutin digelar kompetisi reguler setiap tahun. Selain rutin berlatih, para atlet pun bisa mengasah kemampuannya di ajang kejuaraan tersebut. Para pelatih pun bisa mengevaluasi perkembangan anak didiknya.

Tak hanya atlet dari Kudus saja. Banyak atlet dari sejumlah daerah di Pulau Jawa, bahkan luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi banyak tercatat sebagai anak asuh klub-klub lokal di Kudus. Belakangan, atlet dari mancanegara pun rela terbang ke Kudus untuk menimba ilmu olahraga tepok bulu itu.

Di Kudus ada puluhan klub bulu tangkis. Namun, saya hanya akan me-review enam klub saja. Alasannya, enam klub itu banyak melahirkan juara di kejuaraan lokal yang digelar secara reguler di Kabaten Kudus. Simak berikut ini.


omonganem dot com

1. PB Efrance

PB Efrance diambil dari gabungan nama Evelyn, Fran, dan Cella. Klub berdiri sejak 1996 di Kota Kudus. Tunuannya untuk pembinaan dan pembibitan atlet bulu tangkis sejak usia dini.

Tak ada tujuan selain utnuk menjadi batu loncatan calon atlet dunia untuk bisa bergabung di klub bulu tangkis besar, seperti PB Djarum.

Klub yang bermarkas di Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini menerima anak didik yang mempunyai tekad dan keinginan untuk menjadi juara dunia di cabor bulu tangkis, atau bagi mereka yang menjajaki dunia bulu tangkis. Simak aktivitas mereka di akun Instagram salah satu pemiliknya @fio.evelyn. Di klub itu mereka menerima semua anak-anak yang ingin berlajar bermain bulu ttangkis.

PB Efrance mengajarkan teknik dasar mulai cara pegang raket yang benar, sampai ke teknik-teknik lainnya. Tak hanya dari Kudus, banyak atlet PB Efrance yang berasal dari luar pulau seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.

Oia, Pendiri PB Efrance juga salah seorang pelatih di PB Djarum. Informasi lebih lengkap tentang PB Efrance bisa langsung menghubungi nomor

2. PB Masters Badminton Club


PB Masters Badminton Club juga menjadi favorit para orang tua yang bercita-cita menjadikan anaknya sebagai atlet bulu tangkis. Klub ini bermarkas di Perumahan Muria Indah, Bae Kudus.

Mereka rutin berlatih di GOR Hastomo Arbi. Baru-baru ini, ada atlet cilik asal Taiwan yang ikut berlatih di PB Masters Badminton Club Kudus itu.

3. PB Anugrah Solid Taurus (AST)

Klub ini didirikan oleh salah seorang pelatih di PB Djarum. Semula bernama PB Taurus. Klub ini sempat mengalami pasang surut, beberapa tahun lalu. Namun belakangan, klub ini kembali berkibar dan berganti nama menjadi PB Anugrah Solid Taurus.

Klub ini memiliki GOR sendiri di Desa Tanjung, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus

4. PB Raja

Anak-anak PB Raja juga tak kalah berprestasi. Ketua Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) Kabupaten Kudus Eddy Prayitno menaruh harapan besar pada klub ini agar bisa melahirkan talenta-talenta muda berbakat.

PB Raja menggelar latihan di aula SD 2 Dersalam, Bae, Kudus dan GOR Simangu Desa Pasuruhan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

5. PB Teratai Mejobo


Klub Teratai Mejobo menggelar latihan di GOR Kaliputu Kudus, setiap hari Jumat. Tak hanya dari Kudus, sebagian atletnya juga banyak yang berasal dari Pati. Mereka yang berasal dari Pati mengikuti latihan rutin di Pati. Setiap Jumat bergabung dengan anak-anak dari Kudus berlatih di GOR Kaliputu Kudus.


Lima klub itu hanya sedikit dari belasan klub bulu tangkis yang berserakan di Kabupaten Kudus. Klub-klub lokal itu ibarat menjadi kawah candradimuka talenta cilik bulu tangkis, sebelum beradu bakat dan keberuntungan menembus ketatnya audisi PB Djarum Kudus yang digelar setiap tahun.

omonganem dot com

Jumat, 02 Agustus 2019

Anjas Sang “Hefaistos” dan Mimpinya di Amerika

anjas omonganem.com


HEFAISTOS dalam mitologi Yunani dikenal sebagai dewa teknologi. Putra Zeus dan Hera itu adalah dewa yang (maaf) pincang. Tapi, perannya sangat penting sebagai “arsitek” persejataan bagi para dewa.

Sosok Heafaistos itu lah yang dikagumi seorang Anjas Pramono Sukamto. Seorang difabel berprestasi asli Kudus yang telah menciptakan lima aplikasi. Hebatnya, lima aplikasi yang dibuatnya untuk memudahkan sesama difabel itu memenangi kompetisi internasional. Prestasinya sudah banyak diliput oleh media. Kisah hidupnya sangat inspiratif.

Tak berlebihan jika Anjas mengidolakan Hefaitos. Bukan semata karena mereka berdua difabel. Pria 22 tahun yang masih tercatat sebagai mahasiswa semester VII Teknik Informatika Universitas Brawijaya Malang itu juga menggemari hal-hal yang berbau teknologi informasi.

Itu lah alasannya ia menggunakan nama Hefaistoo untuk akun Instagramnya. “Hefaitos, dewa teknologi menginspirasi saya untuk menunjukkan jika penyandang disabilitas juga bisa berbuat lebih,” katanya.

Saya bertemu anjas dua kali, sebelum belakangan ia sibuk “roadshow” bertemu sejumlah menteri. Lewat akun Instagramnya, Anjas memamerkan pertemuannya dengan Menpora Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, dan Menkominfo Rudiantara.

Melihat segala kelebihannya, layak jika Anjas diundang Gus Deddy Corbuzier untuk acara talkshow Hitam Putih.

Kali pertama saya bertemu Anjas saat dia hadir di acara Jagong Pelataran yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Rabu 24 Juli 2019 malam. Di hadapan Bupati Kudus HM Tamzil, yang dua hari kemudian kena OTT KPK itu, Anjas berbicara lantang menyuarakan hak-hak difabel pada fasilitas pedestrian di Kota Kudus.

Kamis siangnya, saya kembali bertemu dia di cafe Susu Muria. Di depan awak media yang mengundangnya untuk berwawancara, Anjas kritis menyoroti kebijakan publik terkait hak-hak penyandang disabilitas di tanah kelahirannya.

Belakangan saya tahu, daya kritisnya terasah di organisasi PMII di Malang. Ia kini didaulat menjadi ketua PMII Brawijaya.

Pada pertemuan kedua ini, ia panjang lebar menceritakan lima aplikasi yang dibuatnya, termasuk rencananya ke negeri Paman Sam untuk mengikuti kuliah intensif atas undangan Pemerintah Amerika, September nanti.

Ia terlihat serius menyiapkan diri mengikuti Youth South East Asian Leadres Initiative (YSEALI) di Amerika. Proposal proyek sosial Anjas yang mengangkat tema Gusjigang menarik perhatian Kedutaan Amerika yang mewawancarainya via Skype.

Gusjigang yakni akronim Bagus, Ngaji dan Berdagang, warisan Sunan Kudus. Ia menyisihkan ribuan pendaftar. Tahun ini, hanya ada tiga mahasiswa dari Indonesia yang lolos seleksi.

Anjas akan mengikuti kuliah intensif selama sekitar dua bulan di Amerika. Rencananya, ia akan terbang ke Amerika, September nanti. Di sana, ia akan berdiskusi dengan profesor untuk memperdalam proyek sosialnya tentang Gusjigang.

Ia adalah satu-satunya peserta difabel, dari tiga peserta yang lolos seleksi. Dua mahasiswa lainnya berasal dari Padang dan Madura.

YSEALI merupakan program pertukaran pelajar ke Amerika dengan tujuan menjaring pemimpin-pemimpin muda dari negara ASEAN. Melalui program ini, peserta berkesempatan kuliah secara intensif dan berdiskusi dengan profesor di kampus tujuan untuk memperdalam proyek sosialnya, selama kurang lebih dua bulan. Seluruh biaya ditanggung oleh Pemerintah Amerika.

Anjas adalah bukti bahwa penyandang disabilitas mampu menembus batas dan bersaing dengan pelajar normal lainnya. Sulung dua bersaudara pasangan Sukamto (46) dan Sri Susilowati (43), ini terlahir normal layaknya bayi pada umumnya.

Kecurigaan ada yang “tidak beres” di tubuh Anjas bermula karena seringnya ia mengalami patah tulang di bagian kaki. “Setiap jatuh tulang kaki saya patah, bahkan kesetrum listrik juga patah,” katanya.

Setelah berobat ke banyak dokter, jawaban “kelainan” di tubuh Anjas diketahui saat berobat ke Bandung. Ia didiagnosa menderita penyakit langka Osteo Genesis Imperfecta atau kerapuhan tulang.

Sejak kelas III sekolah dasar insiden patah tulang semakin sering, hingga membuat kedua kakinya tidak bisa tumbuh layaknya anak-anak lainnya. Sejak itu, ia membutuhkan alat bantu untuk bisa berjalan.

Tuhan maha Adil. Kakinya memang rapuh. Tapi ia mendapat anugerah kecerdasan lebih. “Saat lulus SD nilai saya rata-rata sembilan. Nilai matematika saya sepuluh,” katanya.

Ditolak Sekolah

Meski “berotak encer”, warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ini pernah ditolak saat masuk salah satu SMP Negeri di Gebog. Alasannya, sekolah tidak memiliki guru pendamping khusus. Fasilitas sekolah untuk murid difabel pun belum ada.

Ngotot masuk dan akhirnya diterima, cobaan Anjas berlanjut saat duduk di bangku SMP. “Bully-an hampir setiap hari saya rasakan, hingga saya benar-benar drop dan mental saya jatuh,” katanya.

Jika SMP adalah cobaan berat, kondisi sebaliknya dialaminya saat masuk di SMA. Karena ia merasakan beratnya sekolah di kampung, ia pun meminta orang tuanya untuk mendaftarkannya ke SMA 2 Kudus.

Di situlah titik balik kehidupannya bermula. Ia bertemu dengan guru-guru yang sangat peduli. Bahkan, sekolah membuatkannya jalur khusus penyandang disabilitas tuna daksa. Rekan-rekan di sekolahnya pun memberi dukungan positif.

Padahal niat awalnya memilih masuk ke SMA 2 selain untuk menghindari bully-an, juga karena ada kelas unggulan Fisika yang diampu Johanes Surya di SMA itu. “Ternyata saya diberi kemudahan lebih oleh Allah,” katanya.

Bakat akademik Anjas pun terus terasah. Berbagai prestasi perlombaan ia sabet. Lulus SMA, ia diterima di UB Malang dari jalur pendaftar difabel. Pilihannya masuk Teknik Informatika tak salah.

Hingga semester VII Anjas telah menyabet prestasi internasional lewat lima aplikasi berbasis android yang dibuatnya. Lima aplikasi untuk difabel yang dibuatnya yakni Aplikasi bahasa insyarat “Difodeaf” yang dibuatnya menyabet medali emas di sebuah kompetisi di Malaysia, “Locable” untuk memudahkan difabel memantau lokasi-lokasi yang ramah bagi penyandang disabilitas, dan “Jubilitas” yakni aplikasi jual beli khusus untuk difabel.

Ia juga membuat aplikasi guru ngaji dan aplikasi transportasi untuk memantau pergerakan moda transportasi umum. Kelima aplikasi itu menyabet penghargaan di kompetisi internasional.

Proyek sosial tentang Gus Ji Gang diinisasi untuk memberdayakan para santri. Ia telah berdiskusi dengan pemangku kebijakan di lingkungan Pemkab Kudus. Anjas berharap proyek sosial ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah lokal di Kudus.

“Di zaman ini, semuanya lebih mudah jika ada kolaborasi. Kolaborasi kunci penting untuk kesuksesan di zaman teknologi ini,” ujarnya sebelum menyeruput kopi, kemudan pamit ke kamar kecil.

Ia pun beranjak dari tempat duduknya. Meraih dua kruk yang disandarkan di tembok persis di belakangnya, dan beranjak ke kamar kecil untuk menunaikan hajatnya.




Sabtu, 20 Juli 2019

Kisah Hidup Setelah Koma


SELALU ada kelanjutan setelah tanda koma. Begitu juga dengan kisah hidup penyair asal Kudus Jumari HS. Banyak pusinya yang lahir setelah mengalami koma, dalam arti sebenarnya. Di usianya yang sudah menginjak 54 tahun, Jumari tetap produktif menulis.

Setelah menyusun puisi-puisinya yang berserakan di media massa dalam “Tembang Temba-kau” (2008), “Tentang jejak yang Hilang” (2016), dan “Panorama Senja” (2018), tahun ini pria yang bekerja sebagai buruh salah satu perusahaan rokok besar di Kudus kembali menerbitkan “Pijar Api  Zikir Puisi

Buku puisi terbaru Jumari HS itu menjadi salah satu buku yang paling banyak dicari di event Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI di Kudus, bulan lalu. Pijar Api Zikir Puisi ini secara resmi baru akan diluncurkan berbarengan dengan peringatan hari lahir Jumari November nanti.

Namun pada PPN XI lalu, Pijar Api Zikir Puisi banyak dicari oleh penyair dari berbagai pelosok Nusantara yang hadir. Pijar Api Zikir Puisi banyak bercerita sisi spiritual Jumari setelah mengalami koma karena kondisi kesehatan yang memburuk, 2011 lalu.

Buku Puisi itu disunting oleh penyair asal Madura, Mahwi Air Tawar. Pijar Api Zikir Puisi memiliki makna dalam bagi Jumari. Pijar Api menyimbolkan semangat atau harapan hidup yang terus menyala dalam bentuk ranah estetika puisi. Zikir puisi merupakan gambaran perjalanan spiritual kehidupan yang dia alami.

Dalam buku setebal 110 halaman itu, Jumari memang banyak mengumbar hubungan kehidupannya dengan Tuhan. Dalam “Sembahyang di Bebatuan” misalnya, Jumari menulis //Aku sembahyang di bebatuan/Sembilan puuh sembilan kerikil tasbihku/larut dalam tahmid sampai membayang kematian/dalam hembusan angin kebahagiaan//

Dia melanjutkan //Aku sembahyang di bebatuan/bayangkan diri rumput : pasrah pada angin, pada cuaca, nafasku menjelma daun, diterbangkan takdir//

Pijar Api Zikir Puisi ini menjadi refleksi Jumari atas perjalanan dan perjumpaan-perjumpaan hidupnya dengan banyak peristiwa. Baik itu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan dirinya, di sekitarnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Produktif dalam menulis, Jumari mengaku tak ada tips khusus menulis puisi atau formula khusus dalam menerjemahkan imajinasinya dalam bentuk puisi. Tidak ada pola khusus dalam menyusun setiap bait. Setiap kata dalam puisinya mencerminkan letupan spontanitas Jumari dalam mengekspresikan apa yang dia rasakan.

Dalam menulis, Jumari tak mau terbelenggu dengan teori-teori puisi, atau pola-pola penulisan yang ada. Baginya, puisi lahir karena menuangkan kejujuran apa yang dia alami. “Hari-hari saya adalah puisi. Hampir setiap hari saya menemukan ide untuk ditulis menjadi puisi. Modal dalam menulis puisi bagi saya adalah kejujuran,” katanya suatu ketika.

Karena saban hari berpuisi, Jumari dengan enteng menulis tentang Tuhan, hubungannya dengan tuhan, cinta dalam arti sebenarnya, kemudian melompat menyinggung solidaritas sesama manusia saat terjadi gempa bumi, hingga menyinggung soal matematika. Ya.. Matematika yang soal ilmu berhitung itu. 

Dalam “Belajar Matematika” Jumari menulis //Belajar matematika/angka demi angka aku hitung/temukan nilainya/dan dalam angka demi angka/aku tak menemukan dosa//

Bisa jadi, puisi di atas menyindir orang yang pandai berhitung, namun ujung-ujungnya kepandaiannya itu untuk mencari angka-angka yang menguntungkannya (baca : korupsi).

Bagi kamu yang baru suka puisi, atau suka membaca puisi dengan diksi dan narasi yang tidak njlimet, puisi-puisi Jumari HS saya rekomendasikan.