Senin, 07 September 2020

“Menambang” Gas dari Limbah Tahu


LIMBAH tahu membuat warga RT 1 RW 1 Dukuh Krajan, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus tak tahu berapa harga gas elpiji melon terkini. Ketika ramai-ramai berita gas bersubsidi langka, api kompor mereka tetap lancar menyala.

Mereka tak pernah merasakan antre hingga berebut gas “melon”. Saban hari, gas mengalir dari instalasi pengelolahan limbah tahu melalui jaringan pipa paralon. Sepuluh tahun terakhir, warga menikmati api biogas dari pengolahan limbah pabrik tahu di daerah itu.

Siti Khotijah (60), warga Dukuh Krajan misalnya. Ia tak perlu memusingkan kenaikan harga atau kelangkaan elpiji bersubdisi. Sepanjang pabrik tahu persis di sebelah rumahnya masih berporoduksi, gas lancar mengalir ke rumah warga.

Itu artinya, ia bisa menghemat pengeluaran keluarga. Coba kita hitung. Harga elpiji bersubsidi ukuran 3 kilogram (tabung gas melon) saat ini di kisaran Rp 20 ribu per tabung. Taruhlan setiap rumah butuh dua tabung sebulan.

Lewat biogas limbah tahu ini, warga pun bisa menghemat hingga Rp 40 ribu per bulan. Angka yang lumayan bagi warga berpenghasilan rendah. Tinggal hitung berapa penghematan warga selama sepuluh tahun terakhir.

Gas ramah lingkungan ini pun aman. Tinggal buka keran pengaman yang terpasang di jaringan pipa, kemudian nyalakan api dengan pemantik (korek api). Api biru pun langsung menyala dari kompor. Selesai memasak, api kompor tinggal dimatikan. Keran ditutup lagi. Selesai. Sesederhana itu. 

Produksi tahu

Suripno, pengelola pabrik tahu menyebutkan ada sebanyak 23 rumah warga yang menikmati aliran api biogas limbah tahu. Aliran gas itu dipriotitaskan untuk warga kurang mampu di sekitar pabrik.

Mereka cukup membayar iuran sebesar Rp 5 ribu per bulan. Uang yang terkumpul itu digunakan untuk perawatan jaringan pipa biogas. Jika ada kerusakan pipa misalnya. Warga bergotong royong melakukan perbaikan. Jika ada yang perlu diganti, biaya diambilkan dari uang iuran itu.

“Sejauh ini aman. Gas mengalir lancar sepanjang pabrik berpoduksi. Hanya saja, warga melaporkan jika kompor cepat rusak, keropos, dibandingkan jika menggunakan elpiji dari pemerintah. Ini yang masih menjadi PR kami,” katanya.

Secara teori, limbah tahu mengandung sejumlah unsur gas seperti metana (CH4), amonia (NH3), hydrogen sulfide (H2S), dan karbondioksida (CO2). Limbah tahu difermentasikan selama satu hingga dua pekan untuk menghasilkan gas metana.

Setelah gas metana keluar, kemudian dialirkan melalui pipa dari instalasi Ipal ke kompor warga.

Instalasi pengolahan limbah pabrik tahu
Instalasi pengolahan limbah pabrik tahu

Selain “menambang” gas dari limbah tahu, melalui pengolahan ini juga mampu mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Sebelum adanya Ipal, kenang Suripno, air limbah dari pabrik tahu langsung digelontor dan dibuang ke sungai.

Sungai pun tercemar. Bau busuk mengganggu warga. Pemilik pabrik tergugah mengolah limbah tahu setelah mendapat tawaran pembangunan instalasi dari pemerintah daerah. Melalui pengolahan itu, dampak kerusakan lingkungan pun disulap menjadi gas yang bermanfaat bagi warga.

Instalasi dibangun persis di sebelah barat bangunan pabrik. Dari instalasi itu, jaringan pipa untuk menyalurkan gas dipasang ke rumah-rumah warga penerima. Tak hanya mampu menghasilkan energi terbarukan gratis untuk warga, instalasi itu juga mengurangi dampak lingkungan limbah pabrik tahu yang sebelumnya selalu panen keluhan warga.

Instalasi pengolahan limbah pabrik tahu itu merupakan bantuan pemerintah daerah pada tahun 2010 lalu

Data kantor Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kabupaten Kudus menyebutkan, ada sebanyak 37 titik IPAL biogas yang telah dibangun sejak tahun 2000. 

Selain Ipal biogas pabrik tahu, juga ada ipal untuk ternak dan pondok pesantren. Program pembangunan Ipal dimaksudkan agar warga mampu menghasilkan energi secara mandiri. Pencemaran lingkungan pun bisa ditekan.

 


Minggu, 12 April 2020

Fakta Dibalik Kasus Positif Covid-19 Pertama yang Sembuh di Kudus


SEORANG pasien positif Covid-19 di Kabupaten Kudus dinyatakan sembuh dari serangan virus korona. Ini tentunya menjadi kabar baik disaat terus melonjaknya jumlah pasien baik yang masih dalam status pengawasan (PDP) maupun positif Covid-19

Pandemi virus corona memang menjengkelkan. Sebulan terakhir masyarakat tidak bisa beraktifitas normal. Banyak kantor turup. Aktifitas UMKM pun terpukul. Pendapatan warga menurun. Belum lagi kabar dirumahkannya ribuan pekerja akibat pandemi ini.

Sembuhnya Sukarsih, 28 tahun, pasien positif Covid tentu menjadi angin segar bagi masyarakat. Keterangannya perlu dikorek. Minimal untuk pembelajaran warga yang masih membandel, mengabaikan imbauan pemerintah. .

Sukarsih (28), pasien yang dinyatakan sembuh itu merupakan seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta terbesar di Kabupaten Kudus. Ia bertugas di ruang isolasi khusus, tempat PDP dirawat.

Berita sembuhnya Sukarsih dari Covid-19 diumumkan langsung oleh Plt Bupati Kudus Hartopo di Pendopo Kudus.

Perempuan asal Kabupaten Pati itu juga hadir sendiri memberikan testimoni di depan wartawan. Ada sejumlah fakta menarik dibalik yang perlu dicermati dari testimoni yang disampaikan oleh Sukarsih.

Berikut penuturan Sukarsih terkait awal mula ia divonis positif Covid-19 yang dikutip dari sini. :

Gejala awal Covid-19

Saya pertama kali masuk ke RS pada tanggal 25 Maret 2020. Waktu itu saya mengalami sakit perut, mungkin karena nyeri saat haid, dan diare. Juga ada pusing. Saat periksa ke IGD, saya disarankan untuk rawat inap.

Karena sejak tanggal 21 Maret saya bertugas di Ruang Isolasi Khusus sehingga saya termasuk ODP, sejak awal saya dirawat dalam 1 kamar yang isi 1 pasien dan semua perawat dan dokter sudah menggunakan APD, tidak boleh dibesuk, dan penunggu juga dibatasi.

Selama dirawat itu timbul batuk kering dan sesak nafas. Tanggal 27 Maret 2020 dokter menyarankan saya dilakukan CT Scan Thorax atau CT Scan dada.

Hasilnya ternyata mengarah ke COVID-19. Dokter bilang saya jadi PDP dan hari itu juga saya dipindah ke Ruang Isolasi Khusus untuk pasien PDP.


Menjalani Rapid Test


Tanggal 28 Maret 2020 saya dilakukan rapid test dan hasilnya ternyata positif, langsung dilanjutkan dengan swab 2 kali, yang pertama di hari yang sama dengan rapid test, yang kedua besoknya.

Saat tahu bahwa hasil rapid test positif itu sebenarnya saya takut, apalagi saat dilanjut dengan swab 2 kali. Tapi saya memilih untuk mencari kekuatan dalam doa, dan terus memotivasi diri, yakin COVID-19 bisa sembuh. 





Dukungan Keluarga


Obat dan semua advis yang diberikan dokter selalu saya terima dan lakukan dengan suka cita. Meskipun memang diisolasi, tetapi kamar yang ditempati terasa nyaman, perawat di ruang isolasi juga selalu siap menolong kebutuhan saya.

Kontak dilakukan dengan WA jika tidak ada hal yang emergensi, kalau emergensi ada tombol nurse call untuk memanggil perawat.

Keluarga dan teman mensupport penuh. Saat saya membuat status yang menyenangkan agar tetap gembira, banyak tanggapan positif yang saya terima. Saya juga dikirimi renungan dan link ibadah secara streaming sehingga semakin dikuatkan.

Sempat Alami Down

Saat diberi tahu kalau hasil PCR positif tanggal 3 April 2020, saya agak down, artinya saya benar-benar sakit COVID-19. Tapi saya tetap menyemangati diri untuk sembuh dari COVID-19. Apalagi saat itu saya sudah 3 hari tidak ada keluhan sama sekali. Besoknya, tanggal 4-5 April 2020 saya diswab lagi 2 kali.

Dokter bilang, kalau hasil 2 kali swab ini juga negatif, artinya saya benar-benar sembuh dan boleh pulang. Negatif artinya tidak ada virus lagi di tubuh saya, sehingga saat pulang juga benar-benar aman, tidak ada virus di tubuh saya yang bisa menular ke orang lain.


Hasil Swab Kedua

Semuanya indah pada waktunya. Tanggal 8 April 2020 saya diberitahu dokter bahwa hasil PCR untuk kedua swab sudah negatif, dinyatakan sembuh, bebas dari COVID-19, dan boleh pulang.

Saya bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhan yang saya peroleh, semua hanya atas kasih karunia-Nya. Untuk masyarakat semuanya, saya mau berpesan agar tidak takut atau panik karena COVID-19, tetapi harus patuh saran Pemerintah untuk social distancing dan physical distancing.

Saya ingat 11 hari sebelum mulai sakit, saya mendatangi acara yang cukup ramai, tidak pasti apakah ada hubungannya dengan COVID-19 pada saya ini. Selain itu, minum vitamin dan obat yang diberikan dokter, selalu pakai masker, batuk dengan etika batuk yang benar.

Yang tidak kalah penting adalah support dari keluarga dan teman-teman, walaupun tidak secara tatap muka.

Support dari orang-orang terdekat ini sangat menguatkan saya untuk terus berdoa, berserah, dan tetap bahagia selama perawatan sampai akhirnya sembuh. Jangan mengucilkan orang yang terkena COVID-19.

Menjaga jarak sosial dan jarak fisik memang harus dilakukan, namun kedekatan emosional dengan support yang terus diberikan melalui telepon, video call, obrolan lewat chat, atau tanggapan positif di medsos sangat-sangat membantu dalam perjuangan sembuh dari COVID-19.

***



Dari keterangan itu, Sukarsih menduga tertular Covid-19 dari acara yang didatanginya sebelas hari sebelum merasakan sakit. Ia mengabaikan risiko tinggi pekerjaannya sebagai perawat di ruang isolasi khusus PDP sebagai tempat masuknya virus corona di tubuhnya.

Terlebih hingga saat ini, isu keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) masih dialami oleh petugas medis.

Terlepas dari mana virus itu masuk ke tubunya, pantas kita mengucapkan selamat atas kesembuhan Sukarsih dari Covid-19. Ini menunjukkan, masih ada harapan untuk sembuh dan terbebas dari pandemi yang menyebalkan ini.

Ada baiknya kita mengikuti anjuran Pemerintah seperti menjaga jarak sosial (physical distancing) atau tidak berkerumun, tetap di rumah, kecuali ada hal-hal mendesak atau yang penting, selalu gunakan masker, hingga rajin mencuci tangan dengan sabun.

Semoga Pandemi Covid-19 di Indonesia segera berlalu, sehingga kita bisa beraktifitas seperti biasa lagi. Aamiin.



Selasa, 19 November 2019

Ada Pengantin Baru Dibalik Pelestarian Cagar Budaya Indonesia di Loram


NILAI-nilai kearifan lokal yang terus dilestarikan menjadi benteng terakhir pelestarian situs cagar budaya di Indonesia. Tanpa adanya pelestarian tradisi dari masyarakat sekitar, orang akan semakin abai pada keberadaan bangunan bersejarah di lingkungannya.

Upaya pelestarian benda cagar budaya dengan pelestarian tradisi kearifan lokal ini dipahami betul oleh warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Berkat tradisi turun temurun yang terus dipegang teguh, keberadaan situs gapura masjid Loram kini terus lestari.

Uniknya, ada pengantin baru dibalik pelestarian situs tersebut. Kok Bisa?

Menikah bagi warga Desa Loram Kulon tak cukup hanya dengan prosesi akad dan pesta akbar. Ada ritual yang pantang untuk ditinggalkan. Namanya “Nganten Mubeng”. Tradisi ini turun temurun dilestarikan oleh warga Desa Loram Kulon.

Nganten dalam bahasa Indonesia berarti pengantin. Pasangan muda-mudi yang baru mengikrarkan janji sehidup semati. Mubeng berarti berkeliling. Singkatnya, nganten mubeng berarti tradisi yang dilakukan oleh pengantin baru dengan berjalan berkeliling.

Apa yang dikelilingi?

Saya berjumpa dengan pasangan pengantin baru Linda Agustin (23) dan Budi Santoso (26), saat berkunjung ke gapura masjid Loram, akhir Agustus 2019. Siang itu, mereka datang ke gapura masjid Wali untuk bersiap-siap menunaikan tradisi Nganten Mubeng.

Simak pengalaman tak terlupakan mereka berikut ini :

Siang itu cuaca panas terik. Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Empat jam sebelumnya, Budi mengucapkan akad suci untuk mempersunting Linda di depan penghulu. Budi tinggal bersama keluarganya di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati. Sementara Linda berdomisili di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota.

Usai akad nikah dinyatakan sah, ayah Budi mengingatkan tradisi turun-temurun keluarganya yang berasal dari Loram Kulon. Ya, Nganten Mubeng.

Setelah urusan prosesi akad rampung, tetamu beranjak pulang, Budi dan Linda ditemani keluarganya meluncur ke Masjid At Taqwa Desa Loram Kulon. Gaun putih tebal membuat Linda terlihat kegerahan. Keringat mengucur dari keningnya.

Meski panas siang itu terasa menyiksa, Linda menuruti suaminya untuk menjalani tradisi nganten mubeng. Digandeng Budi, Linda berjalan mengelilingi gapura kuno yang berada persis di depan Masjid Loram Kulon, sebutan beken dengan sebutan masjid wali. Nama resminya Masjid At Taqwa.

Dipandu Afroh Aminuddin, juru pelihara gapura kuno, keduanya berjalan mengitari gapura bata merahyang berdiri gagah di depaan masjid. Satu kali putaran rampung, keduanya kemudian berfoto mengabadikan hari bersejarah itu.

“Alhamdulillah lancar,” kata Budi sembari tersenyum kepada keluarganya yang menjadi saksi ritual tersebut.
Nganten mubeng adalah tradisi berjalan mengitari gapura kuno di depan Masjid Wali Loram Kulon yang masih lestari hingga kini. Tradisi itu dijalani oleh pasangan pengantin baru warga maupun keturunan dari Desa Loram Kulon.

Meski, Linda dan Budi bukan warga asli Loram Kulon, keduanya memegang teguh tradisi nenek motang. Jika dirunut, kakek Budi asli Loram Kulon. Memiliki darah dari penduduk desa itu, Budi pun tak ingin meninggalkan tradisi leluhurnya.

Afroh Aminuddin membenarkan jika tidak hanya pasangan asli Loram Kulon saja yang masih menjalani tradisi ini. Banyak keturunan warga yang kini tinggal di luar desa maupun luar daerah yang tetap menjalankannya.

Baru-baru ini bahkan ada pasangan dari Purwokerto yang datang dengan menyewa bus, khusus untuk menjalani tradisi ini. Setelah ditanya, salah satu di antaranya masih keturunan warga Desa Loram Kulon.

Banyak mitos yang berkembang. Jika warga keturunan Loram Kulon tidak menjalani ritual ini. Mulai dari keluarganya tidak tentram, terkena penyakit aneh, hingga sulit mempunyai keturunan. Afroh enggan mengomentari mitos yang berkembang itu.

Terlepas itu mitos atau bagaimana, dia menyerahkan sepenuhnya pada niat masing-masing yang menjalaninya. “Yang penting niatnya baik,” kata Afroh.

Tradisi nganten mubeng tetap dilestarikan selain karena tradisi warisan leluhur, juga diyakini memiliki nilai-nilai moral yang baik. Tradisi itu menanamkan pentingnya kesetiaan dan peran suami sebagai pemimpin keluarga. Itu disimbolkan dengan menggandeng pasangannya keliling gapura.

Tradisi itu diyakini sudah ada sejak era Sultan Hadlirin, seorang wali atau tokoh agama yang menyebarkan Islam di wilayah Loram Kulon. Menurut catatan, gapura itu dibangun tahun 1596. Setahun kemudian, masjid di sebalah barat gapura dibangun.
Wisatawan berfoto dengan latar belakang gapura masjid wali Loram Kulon
Pembangunan gapura yang lebih dulu, menjadi siasat Sultan Hadlirin dalam menyebarkan Islam di wilayah yang mayoritas warganya saat itu memeluk agama Hindu. Sekilas, gapura itu bentuknya mirip dengan pura. Itu lah sebabnya, Islam dulu lebih mudah diterima di kawasan tersebut.

Gapura Masjid Wali At Taqwa kini sudah tercatat sebagai situs benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Desa Loram juga telah ditetapkan menjadi desa wisata oleh Pemkab Kudus.

Situs gapura tersebut ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dengan keputusan Balai Pelestarian peninggalan Purbakala Jawa Tengah (BP3) Jateng Nomor 988/102.SP/BP3/P.IX/2005 Tanggal 22 September 2005. Keputusan itu diteken oleh Kepala BP3 Jawa Tengah Drs Enjat Jaenuderajat

Meski telah dipugar tahun 1996, arsitektur bangunan gapura tetap dipertahankan. Sayang, bangunan Masjid Wali kini sudah tidak lagi sebagaimana bentuk aslinya. Bangunan masjid dipugar dengan bentuk arsitektur yang modern tahun 1990.

Tak hanya Nganten Mubeng, warga menempatkan situs gapura sebagai peninggalan penting lewat sejumlah kegiatan tradisi tahunan. Tradisi ampyang yang diperingati bersamaan dengan maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad SAW juga dipusatkan di halaman Masjid At Taqwa.

Pada acara tahunan itu, ampyang dan sego kepel menjadi menu wajib. Ampang adalah penganan semacam kerupuk. Sementara sego kepel adalah nasi seukuran gengaman tangan orang dewasa yang dibungkus dengan daun pisang. Sebagai pelengkap biasanya disajikan bothok tahu dan daging kerbau sebagai lauknya.

Sebagai desa wisata, situs gapura menjadi pijakan utama dalam pengembangan pariwisata yang dibalut dengan atraksi tradisi. Warga melahirkan kembali pasar krempyeng, pasar kaget yang digelar halaman masjid persis di sebelah timur situs gapura.

Pasar Kaget biasanya digelar saat ada kunjungan wisatawan dalam jumlah besar, atau event tahunan seperti kirab ampyang maulid. Di pasar itu dijual aneka kerajinan produk UMKM warga Loram Kulon hingga kuliner khasnya.

Warga juga membuka pintu rumahnya untuk dijadikan homestay wisatawan yang hendak menginap. Warga Loram Kulon sepertinya paham betul dengan merawat situs cagar budaya melalui ritual tradisi kearifan lokal, maka peninggalan bersejarah itu tak akan musnah. Tetap lestari hingga anak cucu.
Warga berebut sego kepel pada tradisi kirab ampyang maulid di Desa Loram Kulon
Pelestarian cagar budaya idealnya harus sejalan seiring dengan kegiatan ekonomi kreatif warga sekitar. Ekonomi kreatif perlu dimunculkan, dengan bersandar pada situs cagar budaya sebagai pemantiknya.

Dengan memiliki kegiatan ekonomi, warga secara langsung atau tidak akan berperan melestarikan situs cagar budaya.

Loram menjadi contoh keberadaan situs bersejarah mampu mengangkat nama desa. Kegiatan produktif yang digeluti oleh warga juga ikut terangkat.

Generasi muda yang dekat dengan teknologi, gadget, dan media sosial juga penting untuk andil dalam pelestarian cagar budaya di lingkungannya. Rajin mengunggah foto situs dengan ajakan untuk mengaga kelestariannya menjadi hal termudah yang bisa dilakukan.

Bagi yang hobi menulis, menuliskan cerita saat berkunjung ke situs cagar budaya sekligus mencurahkan gagasannya juga menjadi cara yang elegan.

Salah satunya lewat kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah! yang digelar oleh Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN), didukung oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).




Selasa, 12 November 2019

Mewujudkan Transportasi Massal Yang Berdikari

omonganem transportasi
BRT melintas di Kota Lama Semarang
JIKA bisa memilih, saya akan memilih untuk mengosongkan garasi dari kendaraan bermotor. Untuk apa kendaraan pribadi jika akses kendaraan umum mudah dan banyak pilihan. 

Bagi mereka yang tinggal di kota besar, pilihan itu cukup realistis. Pilihan moda transportasi cukup banyak. Mau yang daring (dalam jaringan) atau yang konvensional. Tinggal pilih untuk mencapai tempat tujuan.

Moda transportasi massal darat, laut, dan udara juga semakin nyaman dengan harga tiket semakin terjangkau. Tinggal pilih. Itu kata kuncinya. Moda transportasi yang bisa beradaptasi sesuai keinginan konsumen, itu lah yang bakal menjadi pilihan.

Kembali ke rencana saya mengosongkan garasi yang muncul setidaknya pada awal tahun ini. Maklum, saat itu moda transportasi ojek online sedang booming di Kudus, tempat tinggal saya. Tarifnya terjangkau. Saat itu, banyak pilihan voucher promo (baca : potongan harga) yang memanjakan setiap konsumen.

Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming tarif Rp 1 sekali jalan? Sempat motor saya menganggur. Ojek Online dengan tarif super murahnya menjadi pilihan utama kemana saja tujuan saya.

Perkara tiket murah dalam dunia transportasi memang bukan barang baru. Bisnis transportasi udara sudah lebih dulu menawaran tiket dengan harga miring kepada konsumen. Namun, urusan tarif memang perlu diatur agar muncul persaingan yang sehat.

Terlepas dari itu, ada ceruk besar potensi bisnis layanan transportasi massal di Indonesia. Publik selalu menantikan gebrakan program baru transportasi massal di Indonesia. Ingat ketika busway kali pertama muncul, langsung diserbu warga. Begitu juga ketika LRT dan MRT dikenalan ke publik.

Itu artinya, masyaraka rindu dengan moda transportasi massal yang aman, nyaman, dengan tarif terjangkau. Ketika Kemenhub mengkaji transportasi baru bernama O-Bahn pun, publik tak sabar menunggunya.

O-Bahn merupakan bentuk transportasi gabungan dari Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transt (LRT) yang digadang-gadang menjadi alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia.

Kembali ke soal ceruk besar bisnis transportasi di Indonesia. Pemerintah telah melihat itu dengan menerbitkan berbagai kebijakan untuk menumbuhkan transportasi massal. Salah satunya dengan penggunaan komponen lokal.

Pada tahun 2016, Pemerintah telah meresmikan asosiasi manufaktur dan penunjang perkeretaapian. Ada logam, karet, dengan PT INKA (Persero) sebagai integrator. Dengan dukungan dari IKM di sektor perkeretaapian, diharapkan penyediaan kebutuhan untuk kereta bisa lebih menyerap produk dalam negeri .Mulai rangka hingga body kereta.

sumber foto : IG  jakarta_skylines

Hasilnya, LRT Jabodebek (Jakarta Bogor Depok Bekasi) telah mengandung konten lokal atau yang biasa disebut tingkat komonen dalam negeri (TKDN) hingga 60 persen. Pada Selasa (8/10/2019) telah dilakukan pengiriman kereta LRT dari pabrik INKA di Madiun menuju Cibubur.

Menarik ketika Pemerintah fokus pada kandungan lokal moda transportasi massal kita. Penggunaan konten lokal tak sekedar menekan biaya produksi, namun juga terbukti menggerakkan kegiatan ekonomi baru.

Muncul produsen-produsen baru yang membuat komponen kendaraan. Itu artinya, lapangan pekerjaan terbuka. Penataan transportasi massal pun membawa efek domino untuk ekonomi kerakyatan.

Setelah lima tahun sukses menghadirkan transportasi massal perkotaan dan konektivitas antarpulau melalui tol laut dan udara, kini saatnya Pemerintah turut campur menata moda transportasi massal di daerah.

Kebijakan riil Pemerintah dinantikan untuk menggairahkan kembali moda transportasi massal di daerah yang ibarat hidup segan mati tak mau. Kebijakan penggunaan komponen lokal bisa menjadi pijakan untuk memacu konektivitas untuk pemerataan pembangunan.

Pemerataan konektivitas transportasi bakal menciptakan efisiensi. Biaya distribusi barang semakin murah. Dengan tumbuhnya transportasi massal, penggunaan kendaraan pribadi diharapkan berkurang. Hal ini selaras dengan upaya menekan kemacetan hingga mengurangi polusi udara.

Bus dan angkutan umum dengan tampilan dan layanan modern perlu diperluas hingga daerah. Kendaraan umum dengan sumber bahan bakar ramah lingkungan seperti bahan bakar gas sudah saatnya dikenalkan hingga ke daerah.

Dengan penggunaan komponen lokal dan sistem layanan, serta armada yang modern, maka transportasi yang berdikari bakal terwujud. Masyarakat tentu menanti pilihan yang bakal ditawarkan.

Jika itu terwujud, bisa jadi nanti garasi rumah benar-benar kosong dari kendaraan pribadi. Semoga.... 



omonganem transportasi





Referensi :
“Transportasi Berbasis Kereta Harus Banyak Serap Komponen IKM Lokal”. www.bumn.go.id. diterbitkan 26 Maret 2018.
“Fakta-faka terbaru LRT Jabodebek, Termasuk tarif Rp 12.000”. www.merdeka.com. 15 Oktober 2019.
“Kemenhub Kaji Transportasi Baru Bernama O-Bahn”, www.kompas.com, terbit Jumat 28 Juni 2019.

Kamis, 31 Oktober 2019

Taman Celosia, Bandungan Mini di Pinggiran Kudus


DI pinggiran selatan Kabupaten Kudus, ada tempat wisata baru yang tengah menjadi hits sebulan terakhir. Taman Celosia namanya. Tak begitu luas taman bunga ceolosia di Desa Jati Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus ini.

Mungkin karena warna-warni Celosia cocok untuk tempat ber-selfie ria, taman ini pun ramai dikunjungi. Terutama muda-mudi yang berburu konten instastory.

Datang lah pada Minggu pagi. Jalan depan taman ramaai bak pasar tumpah. Banyak pedagang aneka makanan jadul di tempat ini.

Panas terik tak menyurutkan niat Murtiningsih (46) dan anaknya Devinda Elsa (18) untuk berpose di tengah taman bunga Celosia. Setelah berjalan di tengah taman bunga warna-warni itu, Devinda minta ibunya memotret menggunakan telepon genggamnya.

Dalam hitungan ketiga, Murtiningsih mengabadikan foto anaknya di tengah hamparan celosia yang ditanam di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Belum puas, Devina mengajak ibunya ke jembatan bambu di tengah taman.

“Foto di sana lagi Ma, kelihatannya bagus,” ujar Devinda ke ibunya.

Murtiningsih menuruti kemauan anaknya. Jauh-jauh datang dari Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, ibu dan anak itu ingin memiliki banyak koleksi foto di taman bunga yang sedang viral di Kabupaten Kudus itu.

“Kemarin teman-teman di kantor pamer foto di taman bunga ini. Hari ini (kemarin – Red) saya ajak anak untuk melihat ke sini. Ternyata memang bagus tempatnya,” kata Murtiningsih yang hari itu datang ke taman sekitar pukul 11.00.

Taman bunga seluas sekitar satu hektare itu berada di tanah banda desa Jati Kulon. Lokasinya berada di ujung barat kampung, berbatasan dengan areal persawahan. Di bagian pintu masuk, pengunjung disambut deretan kios pasar desa yang menjual aneka buah dan sayuran.

Buah dan sayuran seperti semangka, blewah, kacang panjang, hingga tomat itu merupakan hasil bumi Desa Jati Kulon. Taman Celosia ini melengkapi “kampung lampion” yang sudah lebih dulu dikembangkan di Jati Kulon.

Berawal dari Pasar Desa

Taman bunga celosia itu digagas Kepala Desa Jati Kulon Sugeng Prasetyo (60). Taman bunga itu sebelumnya dibuat sebagai pelengkap pasar desa. Setelah pasar yang didanai Rp 50 juta dari dana desa itu jadi, Sugeng berinisiatif membuat taman bunga di belakangnya.

Pasar desa itu menjadi program inovasi yang dikembangkan Pemerintah Desa Jati Kulon. “Tahun ini kami membuat inovasi kampung sayur dan pasar desa. Tapi ternyata taman bunga ini yang justru viral di media sosial,” katanya.

Baru-baru ini, ada pengunjung dari Rembang dan Lasem yang jauh datang karena penasaran melihat unggahan foto di media sosial. Taman bunga celosia itu pun mendadak jadi destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus.

Di Hari Minggu, jumlah pengunjung tembus hingga 100 orang. Hari biasa pengunjung rata-rata 30 orang – 50 orang. Setiap Minggu pagi, jumlah pengunjung melonjak. Selain menikmati warna-warni celosia, pengunjung bisa mencicipi aneka penganan tradisional seperti nasi jagung, sop besusul, dan kuluban lembayung (daun kacang tolo – Red)

Pengunjung dari luar desa dikenai tiket masuk sebesar Rp 10 ribu per orang. Uang hasil penjualan tiket itu digunakan untuk biaya operasional taman.

Maklum, bunga celosia berwarna merah, kuning, dan merah jambu itu hanya bisa bertahan empat sampai lima bulan. Agar terus ada celosia di taman itu, pengelola pun harus rajin menyemai bunga dan melakukan tambal sulam tanaman yang mulai layu.

Semai Sendiri

Dibalik semarak warna-warni bunga celosia Jati Kulon, ada kerja keras sekitar 15 orang pengelola yang dipimpin langsung oleh Sugeng. Untuk mewujudkan taman bunga, Sugeng membeli lima bungkus biji celosia via lapak online. Satu bungkus berisi sekitar 200 biji bunga. “Karena saat itu minim pengetahuan, penyemaian gagal total,” katanya.

Sugeng kembali berjumpa celosia saat mengajak ibu-ibu PKK dan tokoh masyarakat studi banding pengelolaan wisata ke Dieng. Saat berkunjung itu, ia melihat ada celosia tumbuh subur di pekarangan salah satu rumah warga Dieng.

Setelah bertanya cara menanamnya, Ia dan Eruni (58), istrinya, meminta tiga bunga untuk dibawa pulang. Berbekal ilmu dari Dieng itulah, Eruni mulai menyemai biji celosia. “Dari tiga bunga itu, kami berhasil menyemai 10 ribu bunga,” katanya.

Bunga sebanyak itu tak cukup untuk ditaman di lahan yang ada. Sisa bunga pun dibagikan gratis ke pungunjung yang datang. Tak sulit merawat celosia. Bermodal sumur pantek untuk lahan pertanian, taman disiram dua kali sehari.
Taman Celosia Jati Kulon Kudus
Petani tak protes karena mereka bisa menjual hasil buah dan sayuran di pasar desa. Saat panen tomat baru-baru ini, Sugeng mengundang pelajar untuk panen tomat, untuk menambah pendapatan petani. Sugeng bermimpi menjadikan Jati Kulon sebagai destinasi agro wisata.

“Semacam Bandungan mini di Kudus. Petani bisa menjual langsung buah dan sayuran hasil pertanian di pasar desa. Semarak warna-warni celosia ini sebagai daya tarik utama untuk menarik wisatawan,” katanya.

Jepang Corner

Untuk menarik lebih banyak wisatawan, bapak dua anak bersama tim pengelola kini mengagagas “Jepang Corner” di salah satu sudut taman celosia. Di tempat itu akan dibangun rumah mini ala Jepang, lengkap dengan persewaan kimono.

“Semoga bisa terealisasi dalam waktu dekat. Jika berhasil akan kami rintis sebagai unit usaha BUMDes (Badan Usaha Milik Desa – Red) di Jati Kulon,” katanya.

Kehadiran taman celosia ini disebut Plt Bupati Kudus Hartopo sebagai langkah nyata inovasi pengembangan ekonomi warga berbasis masyarakat desa. Kehadiran pasar desa membuat petani lokal memiliki tempat berjualan hasil bumi.