Thursday, October 25, 2018

Kereta Pelangi Mendidik Anak dengan Sampah



JARUM jam sudah menujuk angka delapan malam, namun pos kamling di pinggir jalan RT 02 RW IV Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu justru kian ramai dengan celoteh anak.

Sesekali orang tua mereka datang. Bukannya menyuruh pulang, para orang tua justru datang dengan senyum lebar sembari membawakan baju bekas dan sampah plastik untuk anak-anak mereka.

Yanti (45), salah satu orang tua, datang sembari menggengam pakaian bekas yang dibawanya dari rumah. Baju itu disodorkan anaknya Yohan (5). “Untuk kostum nanti pentas 17-an. Nanti dihiasi dengan aneka sampah plastik agar lebih menarik,” katanya, Sabtu (11/8) malam.

Pos kamling di pinggiran jalan Dusun Kauman Kidul itu bukan pos kamling biasa. Oleh Amalia Zulfiana Rochman (23), pos kamling itu disulap menjadi Kereta Pelangi. Lia, begitu ia akrab disapa menyebut Kereta Pelangi merupakan akronim Kreasi Tangan Peduli Anak Negeri.

“Setiap malam Minggu anak-anak berkumpul, belajar sambil bermain. Kadang mendongeng. Bulan ini kami punya hajatan pentas 17 Agustus mengenakan kostum yang dibuat dari sampah seperti botol atau koran bekas,” kata Lia.

Lia menginisiasi Kereta Pelangi setelah lama berkecimpung di komunitas Kresek (Kreasi Sampah Ekonomi Kota) Kudus. Sejak terbentuk 27 September 2015, Kresek fokus pada kegiatan edukasi daur ulang sampah yang menyasar satuan pendidikan mulai TK hingga perguruan tinggi.

Kresek dibentuk oleh Faesal Adam (25) dan sekelompok relawan yang ingin andil mewujudkan program Indonesia bebas sampah 2020. Selain membuat bank sampah, Kresek aktif membuat pelatihan kreatif pengolahan sampah ke satuan pendidikan mulai TK, SD, SMP, hingga SMA.

Akhir Juli lalu, mereka mengajak anak-anak Sekolah Luar Biasa (SLB) Sunan Muria Dawe, Kudus berkreasi dengan sampah. Kresek yang kini memiliki relawan sebanyak 30 orang mengajak siswa berkebutuhan khusus membuat celengan berbentuk kucing dari botol bekas.

Program kelas kreasi ini menjadi lanjutan dari program serupa di SLB Purwosari Kecamatan Kota. “Setelah enam pertemuan yang kami gelar selama tiga bulan di SLB Purwosari, kami mulai Juli lalu memulai kelas kreasi ke SLB Dawe. Tak hanya murid, para guru pun antusias mengikuti kelas kreasi,” kata Lia.

Selain mendorong anak mencintai lingkungan, kegiatan kelas kreasi itu juga dinilai meningkatkan kepercayaan diri siswa SLB. Pasalnya dengan segala keterbatasannya, mereka mampu berkarya dengan bahan sampah. “Program kelas kreasi di SLB Dawe masih berlanjut. Antusiasme guru dan murid di sana cukup bagus,” katanya.

Antusiasme serupa juga terlihat saat Kresek menggagas wisata berbasis sampah dengan ecobrick, akhir tahun lalu. Ecobrick dibuat dari botol plastik bekas yang diisi sampah-sampah plastik. Setelah sampah dipadatkan didalam botol plastik bekas minuman kemasan, botol ecobrick dirangkai menjadi monumen replika Menara Kudus.

Pembuatan ecobrick melibatkan ribuan pelajar hingga orang dewasa. Mereka menggelar pelatihan ecobrick di sekolah-sekolah hingga arena car free day di Alun-alun Kudus, setiap Minggu. Hasil kreasi ekobrick itu masih bisa dinikmati warga yang berkunjung ke Taman Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

“Melalui ecobrick kami ingin menunjukkan kepada masyarakat jika sampah jika ditangani secara benar, bisa menghasilkan karya yang bisa dinikmati. Di sejumlah tempat ecobrick bahkan bisa disulap menjadi bangunan seperti rumah,” katanya.

Belakangan, kreasi ecobrick dilirik sejumlah sekolah di Kabupaten Jepara. Kresek kerap diundang sekolah di Jepara untuk mengajari cara membuat ecobrick, hingga kerajinan daur ulang sampah.

Menular

Kiprah Kresek mendidik pelajar lewat sampah menular hingga ke Surakarta, setelah Lia (23) berkuliah di UNS. Bersama rekan-rekan kuliahnya, Lia, panggilan akab Amalia Zulfiana Rochman, mendirikan Kresek Solo, 9 April 2016.

Setelah lulus, Lia kembali bergabung dengan rekan-rekannya di Kresek Kudus. Semangat Lia berlipat setelah ia dipersunting Faesal Adam, yang tak lain koordinator Kresek. Berdua mereka menggawangi komunitas Kresek mengedukasi pelajar agar mau mendaur ulang sampah.

Adam mencontohkan, produksi sampah di Kabupaten Kudus mencapai 147 ton per hari. Jika tidak ada upaya pemilahan dan daur ulang, maka sampah hanya akan menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo yang hanya seluas 5,6 hektare.

“Jika ditangani secara benar, sampah tidak hanya menumbuhkan kreatifitas. Sampah juga memiliki nilai ekonomis,” katanya.

Di Kereta Pelangi misalnya, pasangan suami istri itu merintis program sedekah sampah. Orang tua yang anak-anaknya belajar di Kereta Pelangi bisa menyetorkan sampah seperti botol plastik, kardus, koran bekas, hingga peralatan dapur yang sudah tidak terpakai.

Selain disulap menjadi kerajinan, mereka sering menjual langsung barang bekas. “Uang hasil penjualan sampah kami putar untuk kegiatan di Kereta Pelangi. Seperti misalnya untuk pembuatan kostum pementasan perayaan kemerdekaan ini,” katanya.

Pendirian Kereta Pelangi tak lepas dari permintaan para orang tua, setelah melihat relawan Kresek kerap menggelar pelatihan daur ulang sampah di sekolah-sekolah. Melihat keduanya aktif, tetangga Lia meminta agar anak-anak mereka juga dilibatkan dalam proses kreatif tersebut.

Jadilah Kereta Pelangi menumpang pos kamling tak jauh dari rumah keluarga Lia. Adam menuturkan, Kresek masih akan terus berkampanye pengurangan sampah dengan cara pemilahan daur ulang ke sekolah-sekolah.

Menurutnya, posisi sekolah cukup strategis untuk mengajak anak mencintai lingkungan. “Sampah bisa menjadi barang berguna, sekaligus sarana pendidikan. Tentunya menyenangkan jika anak-anak bisa membuat bahan ajar baik di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Meski tidak ada sokongan dana dari pemerintah, Adam yakin bisa menghidupi komunitasnya berbekal sampah daur ulang. Selain program bank sampah dan sedekah sampah, Kresek menggalang dana melalui penjualan pin hingga gantungan kunci buatan sendiri.

Konsistensi Kresek berkampanye lingkungan di sekolah diapresiasi Viena, guru SLB Purwosari Kudus. Meski program Kresek di sekolahnya sudah rampung, anak didiknya kini masih mempraktikkan keterampilan daur ulang sampah atau barang bekas.

“Kami terus berkomunikasi dengan komunitas Kresek. Mungkin perlu sesekali mereka kami undang lagi untuk mengenalkan kreasi baru atau ilmu baru apa pun tentang daur ulang barang bekas,” katanya.



*) Tulisan ini tayang di harian Suara Merdeaka, Senin, 13 Agustus 2018



Sunday, October 21, 2018

Inilah Daftar Juara Kudus Relay Marathon


BARU digelar untuk pertama kalinya, Kudus Relay Marathon diserbu ribuan orang pelari dari dalam dan luar negeri. Lomba yang digelar di Alun-alun Kudus, Minggu (21/10) pagi diikuti sebanyak 5.500 orang pelari.


Tim Jatim Fighter keluar sebagai juara kategori utama Relay Marathon. Tim Jatim Fighter beranggotakan Sri Wahyuni (Surabaya), Dedy Yusuf (Lumajang), Ivon Solihin (Situbondo), dan Ari Marsudi (Mojokerto).

Mereka melahap rute sejauh 42,195 kilometer dengan catatan waktu 2:53:55. Catatan waktu terbaik ini membuat mereka mendapatkan hadiah utama senilai Rp 25 juta. Relay marathon menjadi nomor paling bergengsi di ajang yang bertajuk tiket.com Kudus Relay Marathon (TKRM) 2018.

Kudus menjadi tuan rumah kejuaraan relay marathon. Kategori utama adalah Relay Marathon sejauh 42,195 kilometer, lomba lari estafet beregu empat orang yang lebih dulu populer di Jepang.

Di nomor ini, setiap tim beranggotakan empat orang. Satu orang berlari mulai garis start, tiga orang lainnya menunggu di titik transisi yang sudah ditentukan. Sebagai penanda, setiap pelari menggunakan selempang (tasuki) untuk di oper ke pelari berikutnya.

Relay Marathon terinspirasi dari Ekiden, kata Eki yang artinya stasiun kereta dan Den yaitu menyampaikan. Ekiden pada tahun 1917 digunakan oleh sistem kurir pos di Jepang untuk menyampaikan barang secara berantai (relay) antar stasiun atau pos yang telah ditentukan.

Menyusuri rute yang melewati berbagai tempat dengan keunikan budaya khas Kudus, tiket.com Kudus Relay Marathon diikuti sebanyak 5.500 pelari di lima kategori race yakni Relay Marathon (42,195 kilometer), Half Marathon (21,1 kilometer), 10K, 5K, dan Kids Fun Run.

Kondisi cuaca yang cerah, trek yang mengedepankan keamanan pelari, serta ketersediaan water station yang melimpah, ikut memudahkan para peserta sukses menembus garis finish yang berada di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Dukungan yang diberikan Pemerintah Kabupaten Kudus juga memiliki andil besar dalam kesuksesan dan kemeriahan tiket.com Kudus Relay Marathon perdana ini.

Berikut ini para juara tiket.com Kudus Relay Marathon 2018.


RELAY MARATHON

1. Jatim Fighter (104)              2:53:55

2. Jakarta RM-2 (137)             3:13:56

3. Run with Dondon (107)      3:26:32



HALF MARATHON MALE

1. Hadi Firmansyah (2164)             01:23:05

2. Sutomo (2307)                            01:25:05

3. Yudha Mega (2215)                    01:33:26



HALF MARATHON FEMALE

1. Laura Bee (2301)             01:40:29

2. Ira Chrysanti (2216)         02:00:24

3. Dwi Puji Lestari (2296)    02:16:29



10K MALE

1. Lamek Lamek Yunias Banu (3421)             00:35:32

2. Tono Martono (3425)                                   00:35:55

3. Sudiar (3818)                                               00:38:43


10 FEMALE
1. Sharfina Sheila Rosada (4055)                   00:43:20

2. Risa Wijayanti (3331)                                 00:45:06

3. Yanti Waliyanti (3723)                                00:45:11


5K MALE
1. Erwin Beke (5177)                       00:16:52

2. Candra Irawan (7924)                  00:17:18

3. Bambang Oktovianus (5339)       00:17:30


5K FEMALE
1. Qurrotul Farida (5357)                                     00:22:54

2. Azranaysha Pandya Adhita (443)                     00:25:21

3. Nadia Pritasari (444)                                         00:27:25


KIDS FUN RUN

1. Arta (9139)                             

2. Mahsa (9029)                             

3. Alberto Nicholas Raharjo (9015)





Friday, October 19, 2018

Mobil Eks Pejabat Ini Dijual Rp 1 Miliar



SIAPA yang mau membeli mobil yang sudah mangkrak tak terurus, berselimut debu, seharga Rp 1 miliar. Memang harga segitu bukan untuk satu unit mobil saja. Ada 20 unit kendaraan. Sebanyak 19 unit mobil dan satu unit kendaraan.


Semua kendaraan itu eks pejabat di lingkungan Pemkab Kudus. Sudah dua kali dilelang. Tapi gagal terjual. Lelang terakhir, 20 mobdin bekas dijual sepaket itu dijual seharga Rp 1,58 miliar. Kini nilainya diturunkan seharga Rp 1,26 miliar.

Meski harga sudah turun, lelang ketiga diperkirakan batal lagi. Ada sejumlah penawar, namun ketika melihat rupane kendaraan eks dinas, mereka mundur teratur. Dari mobdin yang bakal dilelang, ada Toyota Fortuner eks Wabup Kudus Abdul Hamid yang meninggal dunia, 2015 lalu. Sejak itu, mobil pun diparkir sembari menunggu tuannya yang baru.

Selain mobdin eks wabup, ada juga dua unit Toyota New Corolla, tiga unit Honda Civic, empat unit Toyota Corolla Altis, satu unit Nissan X Trail, lainnya jenis Toyota Kijang dan Avanza, serta satu unit motor Honda Supra.

Dua kali gagal lelang membuat geleng-geleng wakil rakyat. Anggota Komisi A M Nur Khabsyin meminta mekanisme lelang ditinjau ulang. “Jangan dilelang per paket. Dilelang saja per unit. Mobil diservis dulu, dicuci yang bersih. Siapa juga yang mau membeli mobil rusak, berdebu lagi,” katanya.

Meski sudah turun harga, ia ragu mobdin bekas itu laku terjual. Sejumlah wakil rakyat sebenarnya juga ada yang sempa melirik mau membeli. Namun ketika lihat barangnya, mereka pun mundur teratur.

Dengan harga sebesar itu, hanya pedagang yang mampu membeli. Itu pun dengan pertimbangan hitungan untung rugi. Selain sudah menurunkan harga, Pemkab sebenarnya sudah memiliki opsi lain.

Jika tak laku, mobdin akan dipinjam pakaikan ke instansi lain seperti Badan Narkotika Kabupaten, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus, dan instansi lain yang mau meminjaminya.

Tapi lagi-lagi, siapa yang mau meminjam mobil yang sudah lama mangkrak. Ongkos perbaikannya pasti tak sedikit. “Kami sudah melapor ke Bupati. Kami masih menunggu arahan bupati. Sebab ada wacana untuk meminjam pakaikan kendaraan dinas ke instansi lain,” kata Eko Djumartono, Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus Eko Djumartono.

Hingga tulisan ini dibuat, sebanyak 20 unit kendaraan dinas eks pejabat di lingkungan Pemkab Kudus masih mangkrak di areal perkir sebelah timur Pendopo Kabupaten Kudus. Mobil yang dibeli dari uang rakyat itu menunggu tuannya yang baru.



Sunday, October 14, 2018

Tiga Kerajinan Kece Ini Cocok Untuk Hadiah Pacar Kamu

  

MEMBERI hadiah pacar atau pasangan kamu tak perlu harus merogoh kocek dalam-dalam. Dengan bujet minimalis, tiga kerajinan kece ini pasti berkesan bagi pasangan kamu. apa aja?


1. Siluet Kayu Pinus


Kerajinan ini dibuat oleh Widya Kurniawan, atau yang akrab disapa Iwan. bentuknya unik. Gambar wajah kamu akan diukir dengan metode siluet pada selembar papan kayu pinus. Biar lebih elegan dan terkesan mahal, ukiran siluet ini dibungkus dengan pigura kayu dengan tambahan kaca di sisi depannya.

Tak hanya satu wajah saja, Iwan juga kerap membuat pesanan siluet dengan dua gambar wajah pasangan muda-mudi. Karya Iwan juga cocok dihadiahkan pada pasangan kamu saat mau wisuda.

Iwan menjual karyanya mulai harga Rp 140 ribu. Harga itu untuk ukiran satu wajah saja ya. Jika ingin ada dua wajah dalam satu bingkai, harganya bisa lebih mahal. Sejak merintis usahanya April 2017, karya Iwan semakin nge-hits di kalangan anak-anak muda.

Pesanan Iwan sudah terbang hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga Papua. Penasaran dengan kaya Iwan, cek saja di akun instagramnya @iwanart_kudus. Iwan rajin menggunggah karya-karyanya di akun tersebut. Kamu bisa melihat-lihat dulu sebagai referensi mau memesan model yang seperti apa.

Kamu juga bisa melihat langsung proses pengerjaannya di bengkel kerja yang sekaligus rumah Iwan di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

2. Kerajinan Pyrography 


Berbeda dari Iwan yang mengolah papan kayu pinus, kerajinan satu ini cukup unik karena diolah dari kayu sisa limbah pabrik. Cara pengerjaannya pun cukup unik. Kerajinan ini dibuat oleh Heru Suprayitno di Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Pyrography adalah seni melukis di atas kayu menggunakan solder yang sudah dipanasi. Dengan modal selembar papan kayu limbah, tangan kreatif Heru “menari” menggoreskan solder listrik.

Tak sampai satu hari, goresan tangan Heru sudah membentuk wajah sesosok pria. Saat berkunjung ke rumahnya, Heru tengah mengerjakan “lukisan” dengan wajah legenda bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi.

Harga kerajinan pyrography karya Heru dijual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu-an. Harga bertambah mahal tergantung kesulitan dan detal wajah yang dipesan. Mayoritas pemesan datang dari pasar online. 
Kamu bisa intip karya-karya heru melalui akun instagramnya @herusuprayitno123. Selain pyrography, Heru juga mengerjakan seni ukir tiga dimensi. (3D). Harganya lebih mahal, bisa mencapai jutaan rupiah. Namun melihat hasilnya, harga segitu cukup sepadan.

3. Sandal Ukir 


Kerajinan satu ini tak kalah unik. Wajah kamu akan diukir di atas sandal karet (japit). pembuatnya adalah Hartono, warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Penasaran dengan keunikan karya Hartono, cek aja akun instagramnya di @harsandalukir. Karya Hartono dikenal luas saat ia dengan kreatifitasnya mengukir maskot Asian Games.

Karyanya diliput sejumlah media cetak hingga televisi. Namanya pun melambung. Ia mulai membuat kerajinan sandal ukir sejak empat tahun lalu. Sebelumnya, Hartono merupakan perajian pisau mengikuti jejak kerabatnya yang lain.

Jejak kreativitas Hartono juga terlihat dari sandal jepit ukir dengan gambar wajah tokoh terkenal seperti Presiden RI Jokowi hingga Soekarno, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta karakter animasi seperti Doraemon dan Hello Kitty.

Ia juga membuat ukiran bermotif wajah sesuai pesanan konsumennya. Hartono juga menyulap sandal jepit menjadi jam dinding ukir dengan motif aneka rupa. Harga sandal ukir buatannya cukup terjangkau. Sandal ukir dibandrol mulai Rp 25 ribu – Rp 50 ribu.

Jika pemesan ingin sandal ukir dibuat menjadi jam dinding lengkap dengan pigura, harganya melonjak hingga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.




Thursday, September 27, 2018

Kisah Halif, Bocah Kampung Ikuti Jejak Liliyana Natsir




BADMINTON adalah olahraga yang murah?! Tergantung dari mana anda melihatnya. Jika sekedar main tampel-tampelan di depan rumah, bisa jadi bulu tangkis olahraga yang murah meriah. Tapi jika untuk tujuan prestasi, silakan siapkan kalkulator anda. 


Mari berhitung mulai dari kebutuhan sepatu badminton, jersey, hingga raket badminton, harganya cukup menguras kantong. Beli yang murah-murah bisa saja. Tapi umumnya umurnya tak akan lama. Boros juga jatuhnya. Belum lagi untuk biaya les ke klub dengan pelatih yang bagus. Duit lagi.

Latihan saja pun belum cukup. Untuk menguji sampai mana hasil latihan, atlet harus diuji. Caranya dengan ikut turnamen. Untungnya kota seperti Kudus, turnamen digelar rutin. Setahun ada hingga lima kali turnamen berskala besar.

Tapi turnamen lokal saja belum cukup. Untuk benar-benar menguji kemampuan sang atlet, turnamen di luar kota adalah jawabannya. Lagi-lagi keluar duit. Untuk biaya transportasi, akomodasi, hingga hal-hal tak terduga. Belum lagi mereka harus mengorbankan jam sekolahnya.

Apalagi setiap turnamen digelar tiga hingga empat hari. Jika mampu melaju sampai final, siap-siap saja menguras tabungan. Mahalnya bulu tangkis penulis lihat saat digelarnya audisi umum beasiswa bulu tangkis yang digelar oleh Perkumpulan Bulu Tangksi (PB) Djarum.

Ribuan atlet berpartisipasi. Tepatnya sebanyak 5.957 atlet cilik. Mereka datang dari berbagai daerah di penjuru Tanah Air. Dari Aceh sampai Papua. Tentu ongkos yang tak murah untuk terbang ke Kota Kudus, markas besar PB Djarum.

Namun, selalu saja ada tangan-tangan ajaib di balik mahalnya pembinaan bulu tangkis. Salah satu buktinya adalahh atlet sembilan tahun, Halifia Usni Pratiwi. Dia satu-satunya atlet asal Kudus yang mampu membuktikan bulu tangkis bukan monopoli keluarga berduit.

...

Rumah sederhana tak jauh dari Balai Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu belum dindingnya masih telanjang. Tembok rumah masih berupa bata merah, lantai juga belum dikeramik. Kursi ruang tamu juga seadanya.

Di bagian depan rumah, ada sebuah toko kelontong. Dari toko itu lah Dwi Anggraini (31) membantu dapur keluarga tetap ngebul. Sementara Usodo (41), bekerja di sebuah pabrik rokok terbesar di Kudus. Statusnya masih karyawan harian.

Dwi dan Usodo punya mimpi besar. Menjadikan Halif seorang atlet bulu tangkis sarat pestasi.

Dari upahnya bekerja, Usodo memang bisa saja membelikan sepatu dan raket mahal. Namun itu bukan keputusan bijak. Sebab dengan pilihan itu, ia harus mengorbankan kebutuhan wajib sehari-hari istri dan ketiga anaknya.

Halif (kanan) bersama kedua orang tua dan dua adiknya

Usodo tak mengira Halif bakal moncer sebagai atlet cilik bulu tangkis. Sejak TK, anak sulungnya itu memang sudah menunjukkan minatnya pada olahraga yang membesarkan nama seperti Kevin Sanjaya, Anthony Sinisuka Ginting, Jonathan Cristie, hingga legenda seperti Liem Swie King, Hastomo Arbi dan adiknya Hariyanto Arbi.

Namun, Halif masih angin-anginan. Kadang-kadang suka, kadang-kadang lupa. Untuk menyalurkan minat anaknya, Usodo membelikan raket murah. Karena tangan Halif masih mungil, Usodo pun mengepras batang raket dengan pisau agar pas di genggaman anaknya itu.

Semula hanya tampel-tampelan di halaman rumah. Usodo memasang net - jangan bayangkan net ala lapangan sebenarnya - di halaman rumahnya. Ia juga kerap mengajak Halif lari keliling kampung untuk melatih fisik putrinya itu.

Di ruang tamu, Usodo memasang shuttlecock yang diikat dengan tali senar ke langit-langit rumahnya. Tujuannya agar Halif bisa tetap berlatih di malam hari atau saat musim hujan tiba. Dengan diikat, kok otomatis akan balik jika ditampel.

Dengan cara itu, Usodo bisa menghemat keringat saat melatih anaknya. Tak hanya Halif, dua anak lainnya kini juga ikut tampel menampel kok yang diikat di langit-langit rumahnya itu. Hobi bocah kelas IV sekolah dasar itu belakangan menulari dua adiknya.

Minat Halif semakin menjadi saat masuk sekolah dasar. Ketika ada siaran langsung pertandingan bulu tangkis, Halif merengek minta ditemani menonton. Apalagi jika yang sedang bertanding Liliyana Natsir, atlet idolanya.

Tengah malam pun gadis cilik itu pasti melek. Betah menonton lesehan di depan televisi. Demi mirip dengan idolanya, Halif selalu memangkas pendek rambutnya. Nge-fans berat, mungkin itu istilah cocoknya.

Atas saran rekan-rekan Usodo, Halif pun didaftarkan ke klub bulu tangkis. Usodo memilih PB Muria yang biayanya terjangkau. Bakat Halif tercium pemilik PB Efrance Kudus, salah satu klub bulu tangkis terpandang di Kudus.

Sang pemilik ingin Halif bergabung. Untuk meyakinkan Usodo, Sulaiman, nama pemilik PB Efrance menjamin kebutuhan Halif seperti raket, sepatu, hingga tambahan asupan gizi. Halif tinggal datang dan berlatih dengan pelatih di PB Efrance.

Skill Halif berkembang pesat. Namun, keluarga Usodo justru panen cibiran dari tetangganya. “Bulu tangkis hanya untuk orang kaya” “Anak kampung susah lah bersaing di bulu tangkis” “Mau jadi apa anak cewek kok latihan bulu tangkis” dan lain-lain dan sebagainya. Sederet ujaran itu sudah kenyang di telinga Usodo.

Halif sempat mogok latihan. Dwi lah yang terus membesarkan hati Usodo dan Halif. Instingnya sebagai ibu cukup kuat melihat potensi dan keinginan anaknya. Tak salah, Halif mulai mengukir prestasi. Satu demi satu gelar kejuaraan lokal diraihnya.

2017, Halif mendaftar audisi umum beasiswa bulu tangkis di PB Djarum. baru tahap screening, dia gagal. Setahun kemudian, Halif kembali mengadu peruntungannya. Pemilik Efrance menyarankan Halif ikut audisi di Surabaya.

Skenarionya jika gagal di Surabaya, Halif masih bisa ikut audisi di Kudus. Mininal dia punya pengalaman merasakan atmosfer ketatnya persaingan audisi. Tak dinyana, Halif lolos audisi di Surabaya.

Di saat Halif berjuang untuk super tiket audisi di Surabaya, Usodo sempat galau berat. Pemicunya, ia mendapat kabar kakaknya meninggal dunia. Kabar itu tak disampaikan ke Halif hingga pengumuman audisi. “Takut mengganggu konsentrasinya. Dia dan pamannya cukup dekat,” kenang Usodo.

Tahun ini sepertinya menjadi milik Halif. Lolos di Surabaya, jalannya menuju PB Djarum, klub yang diidam-idamkan atlet cilik se-Indonesia, terbuka lebar untuk dirinya. Di hari terakhir final audisi di Kudus, namanya diumumkan menjadi salah satu penerima beasiswa.

Perjuangan Halif tak main-main. Dari total sebanyak 5.957 atlet cilik yang ikut audisi, hanya sebanyak 22 anak yang diterima. Halif satu-satunya atlet cilik dari Kudus. Lolos audisi bukan lah jaminan dia bakal menjadi atlet berprestasi.

Halif harus mampu giat berlatih agar kemampuannya terus berkembang. Usodo sadar PB Djarum memulangkan atlet-atletnya yang susah berkembang. Doa Usodo sederhanya. Sebagai oranag tua, ia ingin melihat Halif sukses di bulu tangkis. Olah raga yang disukainya. Seperti suksesnya Liliyana Natsir, atlet yang dibesarkan PB Djarum. Atlet yang diidolakan Halif.