Friday, October 19, 2018

Mobil Eks Pejabat Ini Dijual Rp 1 Miliar



SIAPA yang mau membeli mobil yang sudah mangkrak tak terurus, berselimut debu, seharga Rp 1 miliar. Memang harga segitu bukan untuk satu unit mobil saja. Ada 20 unit kendaraan. Sebanyak 19 unit mobil dan satu unit kendaraan.


Semua kendaraan itu eks pejabat di lingkungan Pemkab Kudus. Sudah dua kali dilelang. Tapi gagal terjual. Lelang terakhir, 20 mobdin bekas dijual sepaket itu dijual seharga Rp 1,58 miliar. Kini nilainya diturunkan seharga Rp 1,26 miliar.

Meski harga sudah turun, lelang ketiga diperkirakan batal lagi. Ada sejumlah penawar, namun ketika melihat rupane kendaraan eks dinas, mereka mundur teratur. Dari mobdin yang bakal dilelang, ada Toyota Fortuner eks Wabup Kudus Abdul Hamid yang meninggal dunia, 2015 lalu. Sejak itu, mobil pun diparkir sembari menunggu tuannya yang baru.

Selain mobdin eks wabup, ada juga dua unit Toyota New Corolla, tiga unit Honda Civic, empat unit Toyota Corolla Altis, satu unit Nissan X Trail, lainnya jenis Toyota Kijang dan Avanza, serta satu unit motor Honda Supra.

Dua kali gagal lelang membuat geleng-geleng wakil rakyat. Anggota Komisi A M Nur Khabsyin meminta mekanisme lelang ditinjau ulang. “Jangan dilelang per paket. Dilelang saja per unit. Mobil diservis dulu, dicuci yang bersih. Siapa juga yang mau membeli mobil rusak, berdebu lagi,” katanya.

Meski sudah turun harga, ia ragu mobdin bekas itu laku terjual. Sejumlah wakil rakyat sebenarnya juga ada yang sempa melirik mau membeli. Namun ketika lihat barangnya, mereka pun mundur teratur.

Dengan harga sebesar itu, hanya pedagang yang mampu membeli. Itu pun dengan pertimbangan hitungan untung rugi. Selain sudah menurunkan harga, Pemkab sebenarnya sudah memiliki opsi lain.

Jika tak laku, mobdin akan dipinjam pakaikan ke instansi lain seperti Badan Narkotika Kabupaten, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kudus, dan instansi lain yang mau meminjaminya.

Tapi lagi-lagi, siapa yang mau meminjam mobil yang sudah lama mangkrak. Ongkos perbaikannya pasti tak sedikit. “Kami sudah melapor ke Bupati. Kami masih menunggu arahan bupati. Sebab ada wacana untuk meminjam pakaikan kendaraan dinas ke instansi lain,” kata Eko Djumartono, Kepala Badan Pengelolaan Pendapatan Keuangan dan Aset Daerah (BPPKAD) Kudus Eko Djumartono.

Hingga tulisan ini dibuat, sebanyak 20 unit kendaraan dinas eks pejabat di lingkungan Pemkab Kudus masih mangkrak di areal perkir sebelah timur Pendopo Kabupaten Kudus. Mobil yang dibeli dari uang rakyat itu menunggu tuannya yang baru.



Sunday, October 14, 2018

Tiga Kerajinan Kece Ini Cocok Untuk Hadiah Pacar Kamu

  

MEMBERI hadiah pacar atau pasangan kamu tak perlu harus merogoh kocek dalam-dalam. Dengan bujet minimalis, tiga kerajinan kece ini pasti berkesan bagi pasangan kamu. apa aja?


1. Siluet Kayu Pinus


Kerajinan ini dibuat oleh Widya Kurniawan, atau yang akrab disapa Iwan. bentuknya unik. Gambar wajah kamu akan diukir dengan metode siluet pada selembar papan kayu pinus. Biar lebih elegan dan terkesan mahal, ukiran siluet ini dibungkus dengan pigura kayu dengan tambahan kaca di sisi depannya.

Tak hanya satu wajah saja, Iwan juga kerap membuat pesanan siluet dengan dua gambar wajah pasangan muda-mudi. Karya Iwan juga cocok dihadiahkan pada pasangan kamu saat mau wisuda.

Iwan menjual karyanya mulai harga Rp 140 ribu. Harga itu untuk ukiran satu wajah saja ya. Jika ingin ada dua wajah dalam satu bingkai, harganya bisa lebih mahal. Sejak merintis usahanya April 2017, karya Iwan semakin nge-hits di kalangan anak-anak muda.

Pesanan Iwan sudah terbang hingga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, bahkan hingga Papua. Penasaran dengan kaya Iwan, cek saja di akun instagramnya @iwanart_kudus. Iwan rajin menggunggah karya-karyanya di akun tersebut. Kamu bisa melihat-lihat dulu sebagai referensi mau memesan model yang seperti apa.

Kamu juga bisa melihat langsung proses pengerjaannya di bengkel kerja yang sekaligus rumah Iwan di Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus.

2. Kerajinan Pyrography 


Berbeda dari Iwan yang mengolah papan kayu pinus, kerajinan satu ini cukup unik karena diolah dari kayu sisa limbah pabrik. Cara pengerjaannya pun cukup unik. Kerajinan ini dibuat oleh Heru Suprayitno di Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Pyrography adalah seni melukis di atas kayu menggunakan solder yang sudah dipanasi. Dengan modal selembar papan kayu limbah, tangan kreatif Heru “menari” menggoreskan solder listrik.

Tak sampai satu hari, goresan tangan Heru sudah membentuk wajah sesosok pria. Saat berkunjung ke rumahnya, Heru tengah mengerjakan “lukisan” dengan wajah legenda bulu tangkis Indonesia, Hariyanto Arbi.

Harga kerajinan pyrography karya Heru dijual seharga Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu-an. Harga bertambah mahal tergantung kesulitan dan detal wajah yang dipesan. Mayoritas pemesan datang dari pasar online. 
Kamu bisa intip karya-karya heru melalui akun instagramnya @herusuprayitno123. Selain pyrography, Heru juga mengerjakan seni ukir tiga dimensi. (3D). Harganya lebih mahal, bisa mencapai jutaan rupiah. Namun melihat hasilnya, harga segitu cukup sepadan.

3. Sandal Ukir 


Kerajinan satu ini tak kalah unik. Wajah kamu akan diukir di atas sandal karet (japit). pembuatnya adalah Hartono, warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Penasaran dengan keunikan karya Hartono, cek aja akun instagramnya di @harsandalukir. Karya Hartono dikenal luas saat ia dengan kreatifitasnya mengukir maskot Asian Games.

Karyanya diliput sejumlah media cetak hingga televisi. Namanya pun melambung. Ia mulai membuat kerajinan sandal ukir sejak empat tahun lalu. Sebelumnya, Hartono merupakan perajian pisau mengikuti jejak kerabatnya yang lain.

Jejak kreativitas Hartono juga terlihat dari sandal jepit ukir dengan gambar wajah tokoh terkenal seperti Presiden RI Jokowi hingga Soekarno, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta karakter animasi seperti Doraemon dan Hello Kitty.

Ia juga membuat ukiran bermotif wajah sesuai pesanan konsumennya. Hartono juga menyulap sandal jepit menjadi jam dinding ukir dengan motif aneka rupa. Harga sandal ukir buatannya cukup terjangkau. Sandal ukir dibandrol mulai Rp 25 ribu – Rp 50 ribu.

Jika pemesan ingin sandal ukir dibuat menjadi jam dinding lengkap dengan pigura, harganya melonjak hingga Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu.




Thursday, September 27, 2018

Kisah Halif, Bocah Kampung Ikuti Jejak Liliyana Natsir




BADMINTON adalah olahraga yang murah?! Tergantung dari mana anda melihatnya. Jika sekedar main tampel-tampelan di depan rumah, bisa jadi bulu tangkis olahraga yang murah meriah. Tapi jika untuk tujuan prestasi, silakan siapkan kalkulator anda. 


Mari berhitung mulai dari kebutuhan sepatu badminton, jersey, hingga raket badminton, harganya cukup menguras kantong. Beli yang murah-murah bisa saja. Tapi umumnya umurnya tak akan lama. Boros juga jatuhnya. Belum lagi untuk biaya les ke klub dengan pelatih yang bagus. Duit lagi.

Latihan saja pun belum cukup. Untuk menguji sampai mana hasil latihan, atlet harus diuji. Caranya dengan ikut turnamen. Untungnya kota seperti Kudus, turnamen digelar rutin. Setahun ada hingga lima kali turnamen berskala besar.

Tapi turnamen lokal saja belum cukup. Untuk benar-benar menguji kemampuan sang atlet, turnamen di luar kota adalah jawabannya. Lagi-lagi keluar duit. Untuk biaya transportasi, akomodasi, hingga hal-hal tak terduga. Belum lagi mereka harus mengorbankan jam sekolahnya.

Apalagi setiap turnamen digelar tiga hingga empat hari. Jika mampu melaju sampai final, siap-siap saja menguras tabungan. Mahalnya bulu tangkis penulis lihat saat digelarnya audisi umum beasiswa bulu tangkis yang digelar oleh Perkumpulan Bulu Tangksi (PB) Djarum.

Ribuan atlet berpartisipasi. Tepatnya sebanyak 5.957 atlet cilik. Mereka datang dari berbagai daerah di penjuru Tanah Air. Dari Aceh sampai Papua. Tentu ongkos yang tak murah untuk terbang ke Kota Kudus, markas besar PB Djarum.

Namun, selalu saja ada tangan-tangan ajaib di balik mahalnya pembinaan bulu tangkis. Salah satu buktinya adalahh atlet sembilan tahun, Halifia Usni Pratiwi. Dia satu-satunya atlet asal Kudus yang mampu membuktikan bulu tangkis bukan monopoli keluarga berduit.

...

Rumah sederhana tak jauh dari Balai Desa Sadang, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu belum dindingnya masih telanjang. Tembok rumah masih berupa bata merah, lantai juga belum dikeramik. Kursi ruang tamu juga seadanya.

Di bagian depan rumah, ada sebuah toko kelontong. Dari toko itu lah Dwi Anggraini (31) membantu dapur keluarga tetap ngebul. Sementara Usodo (41), bekerja di sebuah pabrik rokok terbesar di Kudus. Statusnya masih karyawan harian.

Dwi dan Usodo punya mimpi besar. Menjadikan Halif seorang atlet bulu tangkis sarat pestasi.

Dari upahnya bekerja, Usodo memang bisa saja membelikan sepatu dan raket mahal. Namun itu bukan keputusan bijak. Sebab dengan pilihan itu, ia harus mengorbankan kebutuhan wajib sehari-hari istri dan ketiga anaknya.

Halif (kanan) bersama kedua orang tua dan dua adiknya

Usodo tak mengira Halif bakal moncer sebagai atlet cilik bulu tangkis. Sejak TK, anak sulungnya itu memang sudah menunjukkan minatnya pada olahraga yang membesarkan nama seperti Kevin Sanjaya, Anthony Sinisuka Ginting, Jonathan Cristie, hingga legenda seperti Liem Swie King, Hastomo Arbi dan adiknya Hariyanto Arbi.

Namun, Halif masih angin-anginan. Kadang-kadang suka, kadang-kadang lupa. Untuk menyalurkan minat anaknya, Usodo membelikan raket murah. Karena tangan Halif masih mungil, Usodo pun mengepras batang raket dengan pisau agar pas di genggaman anaknya itu.

Semula hanya tampel-tampelan di halaman rumah. Usodo memasang net - jangan bayangkan net ala lapangan sebenarnya - di halaman rumahnya. Ia juga kerap mengajak Halif lari keliling kampung untuk melatih fisik putrinya itu.

Di ruang tamu, Usodo memasang shuttlecock yang diikat dengan tali senar ke langit-langit rumahnya. Tujuannya agar Halif bisa tetap berlatih di malam hari atau saat musim hujan tiba. Dengan diikat, kok otomatis akan balik jika ditampel.

Dengan cara itu, Usodo bisa menghemat keringat saat melatih anaknya. Tak hanya Halif, dua anak lainnya kini juga ikut tampel menampel kok yang diikat di langit-langit rumahnya itu. Hobi bocah kelas IV sekolah dasar itu belakangan menulari dua adiknya.

Minat Halif semakin menjadi saat masuk sekolah dasar. Ketika ada siaran langsung pertandingan bulu tangkis, Halif merengek minta ditemani menonton. Apalagi jika yang sedang bertanding Liliyana Natsir, atlet idolanya.

Tengah malam pun gadis cilik itu pasti melek. Betah menonton lesehan di depan televisi. Demi mirip dengan idolanya, Halif selalu memangkas pendek rambutnya. Nge-fans berat, mungkin itu istilah cocoknya.

Atas saran rekan-rekan Usodo, Halif pun didaftarkan ke klub bulu tangkis. Usodo memilih PB Muria yang biayanya terjangkau. Bakat Halif tercium pemilik PB Efrance Kudus, salah satu klub bulu tangkis terpandang di Kudus.

Sang pemilik ingin Halif bergabung. Untuk meyakinkan Usodo, Sulaiman, nama pemilik PB Efrance menjamin kebutuhan Halif seperti raket, sepatu, hingga tambahan asupan gizi. Halif tinggal datang dan berlatih dengan pelatih di PB Efrance.

Skill Halif berkembang pesat. Namun, keluarga Usodo justru panen cibiran dari tetangganya. “Bulu tangkis hanya untuk orang kaya” “Anak kampung susah lah bersaing di bulu tangkis” “Mau jadi apa anak cewek kok latihan bulu tangkis” dan lain-lain dan sebagainya. Sederet ujaran itu sudah kenyang di telinga Usodo.

Halif sempat mogok latihan. Dwi lah yang terus membesarkan hati Usodo dan Halif. Instingnya sebagai ibu cukup kuat melihat potensi dan keinginan anaknya. Tak salah, Halif mulai mengukir prestasi. Satu demi satu gelar kejuaraan lokal diraihnya.

2017, Halif mendaftar audisi umum beasiswa bulu tangkis di PB Djarum. baru tahap screening, dia gagal. Setahun kemudian, Halif kembali mengadu peruntungannya. Pemilik Efrance menyarankan Halif ikut audisi di Surabaya.

Skenarionya jika gagal di Surabaya, Halif masih bisa ikut audisi di Kudus. Mininal dia punya pengalaman merasakan atmosfer ketatnya persaingan audisi. Tak dinyana, Halif lolos audisi di Surabaya.

Di saat Halif berjuang untuk super tiket audisi di Surabaya, Usodo sempat galau berat. Pemicunya, ia mendapat kabar kakaknya meninggal dunia. Kabar itu tak disampaikan ke Halif hingga pengumuman audisi. “Takut mengganggu konsentrasinya. Dia dan pamannya cukup dekat,” kenang Usodo.

Tahun ini sepertinya menjadi milik Halif. Lolos di Surabaya, jalannya menuju PB Djarum, klub yang diidam-idamkan atlet cilik se-Indonesia, terbuka lebar untuk dirinya. Di hari terakhir final audisi di Kudus, namanya diumumkan menjadi salah satu penerima beasiswa.

Perjuangan Halif tak main-main. Dari total sebanyak 5.957 atlet cilik yang ikut audisi, hanya sebanyak 22 anak yang diterima. Halif satu-satunya atlet cilik dari Kudus. Lolos audisi bukan lah jaminan dia bakal menjadi atlet berprestasi.

Halif harus mampu giat berlatih agar kemampuannya terus berkembang. Usodo sadar PB Djarum memulangkan atlet-atletnya yang susah berkembang. Doa Usodo sederhanya. Sebagai oranag tua, ia ingin melihat Halif sukses di bulu tangkis. Olah raga yang disukainya. Seperti suksesnya Liliyana Natsir, atlet yang dibesarkan PB Djarum. Atlet yang diidolakan Halif.




Sunday, September 23, 2018

Ada Roro Mendut di Sejarah Kretek Kudus







KEBIJAKAN pajak cukai rokok untuk menutup defisit BPJS Kesehatan santer menjadi pembahasan warga se-antero Indonesia belakangan ini. Rokok bak dewa penyelamat. Bahkan jauh sejak era Roro Mendut berabad-abad lalu.


Cerita itu berlangsung di abad ke-17. Dikisahkan, kecantikan Roro Mendut menyihir Adipati Pragolo juga Panglima Mataram, Tumenggung Wiraguna. Namun, hanya ada pemuda desa Pranacitra, di hati Mendut.

Kisah cinta Mendut dan Pranacita harus terkubur seiring kecamuk perang antara Adipati Pragolo dan Sultan Agung. Mendut dipaksa mengikuti kehendak Panglima Mataram, Tumenggung Wiraguna.

Menolak menjadi selir Wiraguna, Mendut memilih membayar upeti. Tak mau melepas begitu saja, Wiraguna selalu menaikkan upeti dari hari ke hari. Untuk menutup kewajiban membayar upeti, Mendut berdagang rokok.

Gagal memasang jerat upeti, Wiraguna pun melampiaskan kemarahannya dengan melabrak Pranacitra. Pemuda desa itu pun tewas di tangan Wiraguna. Tetap dalam pendiriannya, Mendut pun mengakhiri hidup dengan keris milik Wiraguna.

Diplomasi rokok yang dijalankan Mendut berabad kemudian menjadi lahan ekonomi masyarakat. Rokok menjadi penyelamat ekonomi masyarakat. Pada abad ke-19, Dajamhari, warga Kudus Kulon, meramu rempah cengkeh dan tembakau menjadi lintingan rokok.

Ramuan itu diyakini mampu menyembuhkan sakit sesak nafas Djamhari. Kabar itu pun cepat menyebar. Kretek semakin digemari.

Bisnis kretek semakin membesar. Nitisemito menjadi pinoner industri kretek modern, pada 1920. Tak hanya proses produksi, manajemen promosi dan pemasaran pun sudah modern. Sejak itu, kretek terus berkembang menghidupi masyarakat, mendatangkan berkah.

Kisah Mendut dan Rokok tersaji dalam Sendratari Kretek Adiluhung garapan seniman Yoyok B Priyambodo. Tarian itu dipentaskan di puncak peringatan hari jadi ke-469 Kudus, di Alun-alun Kota Kudus, Sabtu 22 September 2018.

CEK VIDEO PEMENTASAN SENDRATARI KRETEK ADILUHUNG DI SINI

Pementasan yang naskahnya ditulis wartawan senior Yit Prayitno itu menggambarkan sejarah kretek dari era Mendut hingga era modern. Instalasi puluhan alat pelinting rokok menjadi kejutan tersendiri di pementasan tersebut.






Wednesday, September 19, 2018

Begini Proses Masak Nasi Jangkrik Warisan Sunan Kudus



TRADISI buka luwur makam Sunan Kudus selalu dinantikan. Nasi Jangkrik alasannya. Ribuan warga rela antre demi nasi bungkus daun jati. Dibalih setiap bungkus nasi jangkrik, ada ribuan tangan-tangan yang terlibat dalam pembuatannya.


Setiap tanggal 10 Muharram, tahun ini jatuh pada hari Kamis 20 September 2018, adalah moment buka luwur atau kelambu makam tokoh agama Islam di Kudus itu. Saat itu lah nasi jangkrik dibagikan.

Bagi yang belum tahu, nasi jangkrik bukanlah nasi dengan lauk jangkrik. Nasi jangkrik hanya sebutan belaka. Faktanya, nasi jangkrik adalah nasi dengan lauk daging kerbau atau kambing. Nasi itu dibungkus dengan daun jati.

Proses masak nasji jangkrik melibatkan ribuan orang. Tahun ini ada sebayak 1.175 orang perewang. Mereka dibagi dalam masing-masing jobdesk berbeda-beda. Ada yang bagian menyembelih kerbau dan kambing, memotong daging kambing, memasak beras, mengangin-anginkan nasi yang sudah matang, hingga memasak daging dengan bumbu yang sudah ditentukan.

Tahun ini, para perewang yang umumnya warga sekitar menara sudah bekerja sejak Rabu dini hari. Ada sebanyak 11 ekor kerbau, 85 ekor kambing, dan tujuh ton beras yang dimasak menjadi nasi jangkrik.

Kerbau dan kambing itu umumnya sumbangan masyarakat. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyumbang satu ekor kerbau seberat 350 kilogram. Kerbau itu dimasak bareng kerbau dan kambing sumbangan masyarakat umum.

Nasi jangkrik akan dibagikan Kamis 20 September 2018 mulai jam 01.00 WIB dini hari. Tak hanya warga lokal di Kudus, nasi jangkrik itu juga dibagikan kepada masyarakat luar kota yang hadir di areal menara dan makam Sunan Kudus. 


Tradisi buka luwur Sunan Kudus menjadi tradisi rutin tahunan yang tetap dilestarikan. Dibalik kesibukan memasak menu yang sudah berusia ratusan tahun itu, ada nilai moral yang bisa dipetik, yakni semangat gotong rotong, sukarela, dan toleransi.

Nasi jangkrik yang dibagikan untuk warga mencapai 30 ribu bungkus lebih. Tradisi buka luwur dan nasi jangkrik sangat dinantikan oleh masyarakat. Sebagian masyarakat percaya, tradisi yang sudah berumur ratusan taahun itu membawa berkah.