Sabtu, 17 Agustus 2019

Mengintip Lima Klub Bulu Tangkis di Kudus Batu Loncatan ke PB Djarum

omonganem dot com


SENYUM mengembang dari wajah mungilnya menemani Jesslyn Carrisia (10), naik ke podium kejuaraan bulu tangkis Kretek Cup 2019, Sabtu malam, 4 Agustus 2019. Jesslyn naik ke podium juara usai menumbangkan Neina Zora Aji Ramadhani dua gim langsung dengan 21-7 dan 21-8.

Tak mudah bagi Jesslyn naik podium di kejuaraan yang digelar di GOR Djarum Kaliputu Kudus itu. Sebagai unggulan ketiga di kelompok usia dini putri madya, atlet binaan PB Efrance Kudus ini harus melewati para unggulan lainnya di kelompok itu.

Gelar juara ini melengkapi pencapaian Jesslyn di dunia bulu tangkis usai dini, tahun ini. Beberapa hari sebelumnya, ia harus “terbang” ke Bandung untuk mewujudkan mimpinya bergabung di PB Djarum Kudus.

Klub yang sedang menjadi perbincangan setelah menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) itu menggelar audisi beasiswa bulu tangkis di Bandung, akhir Juli lalu. Atas restu orang tuanya, Jesslyn harus menempuh perjalanan sejauh 500 kilometer lebih dari rumahnya di Pati Jawa Tengah menuju Bandung.

Pilihan itu tak salah. Bakat Jesslyn menarik perhatian para legenda bulu tangkis Indonesia yang menjadi pemandu bakat PB Djarum. Ia pun meraih super tiket final audisi yang digelar di Kudus, awal November 2019.

Jesslyn adalah satu dari ribuan atlet cilik yang bermimpi menjadi penerus Lilyana Natsir, legenda bulu tangkis Indonesia jebolan PB Djarum. Nama tenar lainnya yang kini masih berkiprah antara lain Kevin Sanjaya Sukamulyo, Tantowi Ahmad, Mohammad Ahsan, dan Praveen Jordan.

Jauh sebelum itu, PB Djarum juga melahirkan juara dunia seperti Lim Swie King, duo Arbi Hastomo Arbi dan Hariyanto Arbi, hingga Maria Kristin. PB Djarum adalah pintu masuk menuju prestasi bulu tangkis dunia.

Pelatih jempolan, pola latihan yang baik, dan kesempatan turun di turnamen bergengsi di dalam dan luar negeri menjadi alasannya. Terlebih atlet yang bisa menembus ketatnya audisi bakal diganjar beasiswa bulu tangkis penuh. Segala kebutuhannya mulai asrama, hingga perlengkapan bulu tangkis kualitas terbaik dipenuhi klub yang bermarkas di Kudus itu.

Demi lolos audisi PB Djarum, tak sedikit orang tua yang “menitipkan” anaknya untuk berlatih di klub-klub lokal di Kudus. Klub itu menjadi batu loncatan untuk menembus ketatnya audisi.

Menimba ilmu bulu tangkis di Kudus adalah pilihan tepat. Terlebih di Kudus rutin digelar kompetisi reguler setiap tahun. Selain rutin berlatih, para atlet pun bisa mengasah kemampuannya di ajang kejuaraan tersebut. Para pelatih pun bisa mengevaluasi perkembangan anak didiknya.

Tak hanya atlet dari Kudus saja. Banyak atlet dari sejumlah daerah di Pulau Jawa, bahkan luar Jawa seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi banyak tercatat sebagai anak asuh klub-klub lokal di Kudus. Belakangan, atlet dari mancanegara pun rela terbang ke Kudus untuk menimba ilmu olahraga tepok bulu itu.

Di Kudus ada puluhan klub bulu tangkis. Namun, saya hanya akan me-review enam klub saja. Alasannya, enam klub itu banyak melahirkan juara di kejuaraan lokal yang digelar secara reguler di Kabaten Kudus. Simak berikut ini.


omonganem dot com

1. PB Efrance

PB Efrance diambil dari gabungan nama Evelyn, Fran, dan Cella. Klub berdiri sejak 1996 di Kota Kudus. Tunuannya untuk pembinaan dan pembibitan atlet bulu tangkis sejak usia dini.

Tak ada tujuan selain utnuk menjadi batu loncatan calon atlet dunia untuk bisa bergabung di klub bulu tangkis besar, seperti PB Djarum.

Klub yang bermarkas di Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini menerima anak didik yang mempunyai tekad dan keinginan untuk menjadi juara dunia di cabor bulu tangkis, atau bagi mereka yang menjajaki dunia bulu tangkis. Simak aktivitas mereka di akun Instagram salah satu pemiliknya @fio.evelyn. Di klub itu mereka menerima semua anak-anak yang ingin berlajar bermain bulu ttangkis.

PB Efrance mengajarkan teknik dasar mulai cara pegang raket yang benar, sampai ke teknik-teknik lainnya. Tak hanya dari Kudus, banyak atlet PB Efrance yang berasal dari luar pulau seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.

Oia, Pendiri PB Efrance juga salah seorang pelatih di PB Djarum. Informasi lebih lengkap tentang PB Efrance bisa langsung menghubungi nomor

2. PB Masters Badminton Club


PB Masters Badminton Club juga menjadi favorit para orang tua yang bercita-cita menjadikan anaknya sebagai atlet bulu tangkis. Klub ini bermarkas di Perumahan Muria Indah, Bae Kudus.

Mereka rutin berlatih di GOR Hastomo Arbi. Baru-baru ini, ada atlet cilik asal Taiwan yang ikut berlatih di PB Masters Badminton Club Kudus itu.

3. PB Anugrah Solid Taurus (AST)

Klub ini didirikan oleh salah seorang pelatih di PB Djarum. Semula bernama PB Taurus. Klub ini sempat mengalami pasang surut, beberapa tahun lalu. Namun belakangan, klub ini kembali berkibar dan berganti nama menjadi PB Anugrah Solid Taurus.

Klub ini memiliki GOR sendiri di Desa Tanjung, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus

4. PB Raja

Anak-anak PB Raja juga tak kalah berprestasi. Ketua Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) Kabupaten Kudus Eddy Prayitno menaruh harapan besar pada klub ini agar bisa melahirkan talenta-talenta muda berbakat.

PB Raja menggelar latihan di aula SD 2 Dersalam, Bae, Kudus dan GOR Simangu Desa Pasuruhan Kidul, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

5. PB Teratai Mejobo


Klub Teratai Mejobo menggelar latihan di GOR Kaliputu Kudus, setiap hari Jumat. Tak hanya dari Kudus, sebagian atletnya juga banyak yang berasal dari Pati. Mereka yang berasal dari Pati mengikuti latihan rutin di Pati. Setiap Jumat bergabung dengan anak-anak dari Kudus berlatih di GOR Kaliputu Kudus.


Lima klub itu hanya sedikit dari belasan klub bulu tangkis yang berserakan di Kabupaten Kudus. Klub-klub lokal itu ibarat menjadi kawah candradimuka talenta cilik bulu tangkis, sebelum beradu bakat dan keberuntungan menembus ketatnya audisi PB Djarum Kudus yang digelar setiap tahun.

omonganem dot com

Jumat, 02 Agustus 2019

Anjas Sang “Hefaistos” dan Mimpinya di Amerika

anjas omonganem.com


HEFAISTOS dalam mitologi Yunani dikenal sebagai dewa teknologi. Putra Zeus dan Hera itu adalah dewa yang (maaf) pincang. Tapi, perannya sangat penting sebagai “arsitek” persejataan bagi para dewa.

Sosok Heafaistos itu lah yang dikagumi seorang Anjas Pramono Sukamto. Seorang difabel berprestasi asli Kudus yang telah menciptakan lima aplikasi. Hebatnya, lima aplikasi yang dibuatnya untuk memudahkan sesama difabel itu memenangi kompetisi internasional. Prestasinya sudah banyak diliput oleh media. Kisah hidupnya sangat inspiratif.

Tak berlebihan jika Anjas mengidolakan Hefaitos. Bukan semata karena mereka berdua difabel. Pria 22 tahun yang masih tercatat sebagai mahasiswa semester VII Teknik Informatika Universitas Brawijaya Malang itu juga menggemari hal-hal yang berbau teknologi informasi.

Itu lah alasannya ia menggunakan nama Hefaistoo untuk akun Instagramnya. “Hefaitos, dewa teknologi menginspirasi saya untuk menunjukkan jika penyandang disabilitas juga bisa berbuat lebih,” katanya.

Saya bertemu anjas dua kali, sebelum belakangan ia sibuk “roadshow” bertemu sejumlah menteri. Lewat akun Instagramnya, Anjas memamerkan pertemuannya dengan Menpora Imam Nahrawi, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, dan Menkominfo Rudiantara.

Melihat segala kelebihannya, layak jika Anjas diundang Gus Deddy Corbuzier untuk acara talkshow Hitam Putih.

Kali pertama saya bertemu Anjas saat dia hadir di acara Jagong Pelataran yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Rabu 24 Juli 2019 malam. Di hadapan Bupati Kudus HM Tamzil, yang dua hari kemudian kena OTT KPK itu, Anjas berbicara lantang menyuarakan hak-hak difabel pada fasilitas pedestrian di Kota Kudus.

Kamis siangnya, saya kembali bertemu dia di cafe Susu Muria. Di depan awak media yang mengundangnya untuk berwawancara, Anjas kritis menyoroti kebijakan publik terkait hak-hak penyandang disabilitas di tanah kelahirannya.

Belakangan saya tahu, daya kritisnya terasah di organisasi PMII di Malang. Ia kini didaulat menjadi ketua PMII Brawijaya.

Pada pertemuan kedua ini, ia panjang lebar menceritakan lima aplikasi yang dibuatnya, termasuk rencananya ke negeri Paman Sam untuk mengikuti kuliah intensif atas undangan Pemerintah Amerika, September nanti.

Ia terlihat serius menyiapkan diri mengikuti Youth South East Asian Leadres Initiative (YSEALI) di Amerika. Proposal proyek sosial Anjas yang mengangkat tema Gusjigang menarik perhatian Kedutaan Amerika yang mewawancarainya via Skype.

Gusjigang yakni akronim Bagus, Ngaji dan Berdagang, warisan Sunan Kudus. Ia menyisihkan ribuan pendaftar. Tahun ini, hanya ada tiga mahasiswa dari Indonesia yang lolos seleksi.

Anjas akan mengikuti kuliah intensif selama sekitar dua bulan di Amerika. Rencananya, ia akan terbang ke Amerika, September nanti. Di sana, ia akan berdiskusi dengan profesor untuk memperdalam proyek sosialnya tentang Gusjigang.

Ia adalah satu-satunya peserta difabel, dari tiga peserta yang lolos seleksi. Dua mahasiswa lainnya berasal dari Padang dan Madura.

YSEALI merupakan program pertukaran pelajar ke Amerika dengan tujuan menjaring pemimpin-pemimpin muda dari negara ASEAN. Melalui program ini, peserta berkesempatan kuliah secara intensif dan berdiskusi dengan profesor di kampus tujuan untuk memperdalam proyek sosialnya, selama kurang lebih dua bulan. Seluruh biaya ditanggung oleh Pemerintah Amerika.

Anjas adalah bukti bahwa penyandang disabilitas mampu menembus batas dan bersaing dengan pelajar normal lainnya. Sulung dua bersaudara pasangan Sukamto (46) dan Sri Susilowati (43), ini terlahir normal layaknya bayi pada umumnya.

Kecurigaan ada yang “tidak beres” di tubuh Anjas bermula karena seringnya ia mengalami patah tulang di bagian kaki. “Setiap jatuh tulang kaki saya patah, bahkan kesetrum listrik juga patah,” katanya.

Setelah berobat ke banyak dokter, jawaban “kelainan” di tubuh Anjas diketahui saat berobat ke Bandung. Ia didiagnosa menderita penyakit langka Osteo Genesis Imperfecta atau kerapuhan tulang.

Sejak kelas III sekolah dasar insiden patah tulang semakin sering, hingga membuat kedua kakinya tidak bisa tumbuh layaknya anak-anak lainnya. Sejak itu, ia membutuhkan alat bantu untuk bisa berjalan.

Tuhan maha Adil. Kakinya memang rapuh. Tapi ia mendapat anugerah kecerdasan lebih. “Saat lulus SD nilai saya rata-rata sembilan. Nilai matematika saya sepuluh,” katanya.

Ditolak Sekolah

Meski “berotak encer”, warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus ini pernah ditolak saat masuk salah satu SMP Negeri di Gebog. Alasannya, sekolah tidak memiliki guru pendamping khusus. Fasilitas sekolah untuk murid difabel pun belum ada.

Ngotot masuk dan akhirnya diterima, cobaan Anjas berlanjut saat duduk di bangku SMP. “Bully-an hampir setiap hari saya rasakan, hingga saya benar-benar drop dan mental saya jatuh,” katanya.

Jika SMP adalah cobaan berat, kondisi sebaliknya dialaminya saat masuk di SMA. Karena ia merasakan beratnya sekolah di kampung, ia pun meminta orang tuanya untuk mendaftarkannya ke SMA 2 Kudus.

Di situlah titik balik kehidupannya bermula. Ia bertemu dengan guru-guru yang sangat peduli. Bahkan, sekolah membuatkannya jalur khusus penyandang disabilitas tuna daksa. Rekan-rekan di sekolahnya pun memberi dukungan positif.

Padahal niat awalnya memilih masuk ke SMA 2 selain untuk menghindari bully-an, juga karena ada kelas unggulan Fisika yang diampu Johanes Surya di SMA itu. “Ternyata saya diberi kemudahan lebih oleh Allah,” katanya.

Bakat akademik Anjas pun terus terasah. Berbagai prestasi perlombaan ia sabet. Lulus SMA, ia diterima di UB Malang dari jalur pendaftar difabel. Pilihannya masuk Teknik Informatika tak salah.

Hingga semester VII Anjas telah menyabet prestasi internasional lewat lima aplikasi berbasis android yang dibuatnya. Lima aplikasi untuk difabel yang dibuatnya yakni Aplikasi bahasa insyarat “Difodeaf” yang dibuatnya menyabet medali emas di sebuah kompetisi di Malaysia, “Locable” untuk memudahkan difabel memantau lokasi-lokasi yang ramah bagi penyandang disabilitas, dan “Jubilitas” yakni aplikasi jual beli khusus untuk difabel.

Ia juga membuat aplikasi guru ngaji dan aplikasi transportasi untuk memantau pergerakan moda transportasi umum. Kelima aplikasi itu menyabet penghargaan di kompetisi internasional.

Proyek sosial tentang Gus Ji Gang diinisasi untuk memberdayakan para santri. Ia telah berdiskusi dengan pemangku kebijakan di lingkungan Pemkab Kudus. Anjas berharap proyek sosial ini membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah lokal di Kudus.

“Di zaman ini, semuanya lebih mudah jika ada kolaborasi. Kolaborasi kunci penting untuk kesuksesan di zaman teknologi ini,” ujarnya sebelum menyeruput kopi, kemudan pamit ke kamar kecil.

Ia pun beranjak dari tempat duduknya. Meraih dua kruk yang disandarkan di tembok persis di belakangnya, dan beranjak ke kamar kecil untuk menunaikan hajatnya.




Sabtu, 20 Juli 2019

Kisah Hidup Setelah Koma


SELALU ada kelanjutan setelah tanda koma. Begitu juga dengan kisah hidup penyair asal Kudus Jumari HS. Banyak pusinya yang lahir setelah mengalami koma, dalam arti sebenarnya. Di usianya yang sudah menginjak 54 tahun, Jumari tetap produktif menulis.

Setelah menyusun puisi-puisinya yang berserakan di media massa dalam “Tembang Temba-kau” (2008), “Tentang jejak yang Hilang” (2016), dan “Panorama Senja” (2018), tahun ini pria yang bekerja sebagai buruh salah satu perusahaan rokok besar di Kudus kembali menerbitkan “Pijar Api  Zikir Puisi

Buku puisi terbaru Jumari HS itu menjadi salah satu buku yang paling banyak dicari di event Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI di Kudus, bulan lalu. Pijar Api Zikir Puisi ini secara resmi baru akan diluncurkan berbarengan dengan peringatan hari lahir Jumari November nanti.

Namun pada PPN XI lalu, Pijar Api Zikir Puisi banyak dicari oleh penyair dari berbagai pelosok Nusantara yang hadir. Pijar Api Zikir Puisi banyak bercerita sisi spiritual Jumari setelah mengalami koma karena kondisi kesehatan yang memburuk, 2011 lalu.

Buku Puisi itu disunting oleh penyair asal Madura, Mahwi Air Tawar. Pijar Api Zikir Puisi memiliki makna dalam bagi Jumari. Pijar Api menyimbolkan semangat atau harapan hidup yang terus menyala dalam bentuk ranah estetika puisi. Zikir puisi merupakan gambaran perjalanan spiritual kehidupan yang dia alami.

Dalam buku setebal 110 halaman itu, Jumari memang banyak mengumbar hubungan kehidupannya dengan Tuhan. Dalam “Sembahyang di Bebatuan” misalnya, Jumari menulis //Aku sembahyang di bebatuan/Sembilan puuh sembilan kerikil tasbihku/larut dalam tahmid sampai membayang kematian/dalam hembusan angin kebahagiaan//

Dia melanjutkan //Aku sembahyang di bebatuan/bayangkan diri rumput : pasrah pada angin, pada cuaca, nafasku menjelma daun, diterbangkan takdir//

Pijar Api Zikir Puisi ini menjadi refleksi Jumari atas perjalanan dan perjumpaan-perjumpaan hidupnya dengan banyak peristiwa. Baik itu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan dirinya, di sekitarnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Produktif dalam menulis, Jumari mengaku tak ada tips khusus menulis puisi atau formula khusus dalam menerjemahkan imajinasinya dalam bentuk puisi. Tidak ada pola khusus dalam menyusun setiap bait. Setiap kata dalam puisinya mencerminkan letupan spontanitas Jumari dalam mengekspresikan apa yang dia rasakan.

Dalam menulis, Jumari tak mau terbelenggu dengan teori-teori puisi, atau pola-pola penulisan yang ada. Baginya, puisi lahir karena menuangkan kejujuran apa yang dia alami. “Hari-hari saya adalah puisi. Hampir setiap hari saya menemukan ide untuk ditulis menjadi puisi. Modal dalam menulis puisi bagi saya adalah kejujuran,” katanya suatu ketika.

Karena saban hari berpuisi, Jumari dengan enteng menulis tentang Tuhan, hubungannya dengan tuhan, cinta dalam arti sebenarnya, kemudian melompat menyinggung solidaritas sesama manusia saat terjadi gempa bumi, hingga menyinggung soal matematika. Ya.. Matematika yang soal ilmu berhitung itu. 

Dalam “Belajar Matematika” Jumari menulis //Belajar matematika/angka demi angka aku hitung/temukan nilainya/dan dalam angka demi angka/aku tak menemukan dosa//

Bisa jadi, puisi di atas menyindir orang yang pandai berhitung, namun ujung-ujungnya kepandaiannya itu untuk mencari angka-angka yang menguntungkannya (baca : korupsi).

Bagi kamu yang baru suka puisi, atau suka membaca puisi dengan diksi dan narasi yang tidak njlimet, puisi-puisi Jumari HS saya rekomendasikan.





Rabu, 12 Juni 2019

Bulus, Duku, dan Seruan Jaga Lingkungan dari Tradisi Bulusan

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com


SYAWALAN tahun ini kembali berkesempatan mendokumentasikan Tradisi Bulusan. Tradisi di Dusun Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus ini menarik karena mengangkat isu lingkungan dan kerukunan.

Tradisi ini dirayakan pada tanggal 8 Syawal, atau H+7 setiap tahun. Tahun ini, puncaknya pada hari Rabu (12/6/2019). Meski begitu, keramaian di Dusun Sumber sudah terasa sejak hari pertama Lebaran.

Para PKL memadati jalan di Dusun Sumber, mulai pinggir jalur Pantura hingga makam Mbah Dudo. Tokoh yang diyakini sebagai cikal bakal Dusun Sumber sekaligus penyebar Islam sezaman dengan Sunan Muria.

Malam hari, Dusun Sumber bermandi cahaya dari pasar malam yang menyuguhkan aneka permainan mulai dermolen (bianglala), ombak banyu, kolam pancing, hingga kebun binatang mini.

Hewan bulus dan buah duku menjadi ikon Dusun Sumber. Setiap Tradisi Bulusan, kedua ikon itu muncul menjadi pengingat untuk selalu menjaga lingkungan. Pada gebyar festival budaya Bulusan, kali ini, warga tak ketinggalan mengarak patung bulus berukuran besar dikawal dua pohon duku yang juga berukuran besar.

Kedua ikon itu dikirab bersama gunungan hasil bumi lainnya. Tua-muda, besar dan kecil warga Sumber sengkuyung mengikuti kirab. Mereka berdandang dengan aneka kostum. Sekelompok warga mengenakan kostum ikonik pemuka berbagai agama.

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
peserta kirab mengenakan pakaian berbagai pemuk agama
Senyum dan gelak tawa mereka menjadi simbol untuk terus menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia. Di halaman makam Mbah Dudo, gunungan hasil bumi itu diperebutkan ratusan warga yang memeriahkan tradisi tahunan setiap Syawal itu.

Tradisi Bulusan dilestarikan warga hingga kini. Sejumlah pejabat di Kudus mulai Bupati dan Wakil Bupati Kudus HM Tamzil dan H Hartopo, Sekda Kudus Sam’ani Intakoris, hingga jajaran pejabat Forkompida lainnya hadir di tengah ribuan warga yang memadati Tradisi Bulusan.

Pada tradisi itu, Bupati membuka festival dengan memberi makan Bulus di makam Mbah Dudo. Ketiga Bulus itu diberi makan lepet, penganan dari ketan berbentuk lonjong yang dibungkus janur (daun kelapa yang masih muda).

Duku Sumber menjadi tanaman yang hampir ada di halamam rumah warga. Hingga 1980-an, populasinya masih cukup banyak. Setiap musim panen tiba, warga memetik untung dari pohon yang memiliki batang besar itu.

Buah Duku Sumber terkenal karena memiliki rasa yang manis dengan ukuran yang cukup besar. Buah duku Sumber bahkan menjadi incaran warga hingga luar daerah. Sayang populasi tanaman duku di Sumber jauh menurun, saat ini. 

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Warga membawa maskot patung pohon duku salah satu ikon Dusun Sumber
Sementara kehadiran Bulus erat kaitannya dengan cerita rakyat yang berkembang di kalangan warga Sumber. Tradisi Bulusan tak lepas dari sosok Mbah Dudo, yang diyakini sebagai seorang alim cikal bakal Dusun Sumber.

Setiap Tradisi Bulusan, selalu digaungkan seruan untuk menjaga sungai dan lingkungan. Dengan menjaga sungai, habitat bulus, diharapkan lingkungan bebas banjir. Ikan dan hewan lainnya pun terjaga. Namun, seruan itu harus lebih giat digaungkan. Tak hanya saat tradisi Bulusan berlangsung.

Ihwal Bulus yang dikematkan di Dusun Sumber, banyak versi cerita yang berkembang di Masyarakat. Namun yang paling populer seperti dikisahkan Sirajudin, juru kunci makam dan punden Mbah Dudo, tradisi itu tak lepas dari cerita turun temurun yang mengaitkan Mbah Dudo dan santrinya, dengan Sunan Muria.

Dikisahkan, Mbah Dudo memiliki dua orang santri Umara dan Umari. Pada Bulan Ramadan keduanya lembur “ndaut” mencabut bibit padi hingga malam hari. Pada malam peringatan Nuzulul Quran, Sunan Muria datang hendak menyebarkan Islam. 

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Bupati memberi makan Bulus Sendang Makam Mbah Dudo

Mendengar bunyi “kecipak-kecipik” Umara dan Umari yang mencabuti bibit padi, Sunan Muria pun berujar : “Malam Nuzulul Quran tidak mengaji kok malah berendam di sawah seperti bulus saja,”

Syahdan, keduanya pun berubah menjadi bulus. Melihat kejadian itu, Mbah Dudo pun datang meminta maaf atas kesalahan kedua santrinya. Sayang, semua sudah terjadi. Sunan Muria yang membawa tongkat kayu “adem ati” kemudian menancapkannya ke tanah dan muncul sumber.

Sunan pun berujar, kelak akan banyak warga keturunan yang mendatangi sumber itu untuk menghormati bulus tersebut. Sumber itu lah yang saat ini diyakini sebagai Sumber Bulusan tepat di sebelag punden Mbah Dudo.

Terlepas dari benar tidaknya kisah itu, warga Bulusan terus memegang teguh sampai saat ini. Kisah itu pula yang mendasari terus dilestarikannya tradisi Bulusan. Selain menggelar kirab, tradisi Bulusan tahun ini juga dimeriahkan dengan lomba mancing, lomba rebana, malam tirakatan, hingga pentas musik dan wayang kulit. 

Tradisi Bulusan juga menjadi berkah bagi para PKL yang menggelar pasar malam di sepanjang jalan Dusun Sumber. 

tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Pasar malam tradisi Bulusan
Tradisi Bulusan menjadi magnet wisata Syawalan yang mampu menyedot pengunjung dari Kabupaten Kudus mapun kabupaten tetangga lainnya. Produk-produk lokal warga Hadipolo, terutama Sumber, juga laris diburu pengunjung. 

Syawalan bagi warga Dusun Sumber, adalah momentum memetik berkah dari tradisi yang terus dilestarikan, sekaligus menguri-uri budaya warisan leluhur. Bulus dan Duku, diharapkan terus terjaga kelestariannya. 


tradisi bulusan dari blog omonganem dot com
Anak-anak mengusung patung bulus


Senin, 10 Juni 2019

Mengeksplor Sisi Lain Borobudur dari Eksotisme Balkondes

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism

BANGUNAN joglo dengan halaman cukup luas itu berdiri anggun dikelilingi pepohonan yang rindang. Penampakan aslinya tak jauh berbeda dari foto-foto di sebuah situs wisata Magelang, yang saya lihat seminggu sebelum menginjakkan kaki di tempat itu.

Berawal dari niat menikmati Borobudur dan Kota Magelang dari sisi yang lain, saya pun rajin menggali informasi dengan berselancar di dunia maya. Kebetulan, saya dan lima rekan berencana menikmati akhir pekan dengan berlibur di Magelang, akhir Maret lalu.

Kota itu kami pilih karena tak begitu jauh dari Kudus, tempat tinggal kami. Kebetulan juga, ada agenda organisasi yang digelar di Magelang. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Sembari ada undangan, juga berpetualang di kawasan Borobudur ala-ala millennial tourism.

Tak susah mengakses informasi wisata Borobudur di internet. Informasinya banyak berserakan di situs-situs wisata hingga media sosial. Kemudahan informasi ini semakin memanjakan dalam menyusun rencana hingga menentukan lokasi mana yang hendak dikunjungi.

Maklum, waktu liburan tak panjang, harus dimanfaatkan betul-betul. Hidup di era milenial memang memudahkan dalam hal apa pun. Termasuk merencanakan wisata ala-ala milenial. Selain mengeksplor kawasan Borobudur, rafting di Sungai Elo masuk dalam daftar wajib kunjungan kami.

Hingga akhirnya, webiste www.balkondesborobudur.com mencuri perhatian saya. Akronim Balkondes ternyata kepanjangan dari Balai Ekonomi Desa. Menarik...! Membaca ada “Ndes-ndes-nya” saya yakin pasti pelayanannya akan berbau yang “Ndeso-ndeso”. Ternyata perkiraan saya tidak meleset.

Ini lah yang saya cari. Sejak ada niat ingin berwisata ke Borobudur, hotel saya coret dari daftar menginap. “Harus ada pengalaman lain,” batin saya. Sejumlah nomor homestay di internet saya hubungi. Sayang, homestay incaran sudah tidak ada kamar tersedia. Maklum, akhir pekan banyak wisatawan berkunjung ke Borobudur.

Namun saran pengelola homestay terakhir yang saya hubungi membuat saya tenang. "Tenang mas, di sini banyak homestay. Pasti ada kamar tempat menginap," katanya. Kami pun tak lagi pusing memikirkan penginapan. Bismillah saja....

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Suasana eksotis di Balkondes Ngaran Borobudur

Balkondes Borobudur terletak di Dusun Ngaran, Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tak sulit mencari tempat wisata ini. Lokasinya persis di sebelah selatan Candi Borobudur.

Bangunan joglo nan eksotis menyambut setiap tamu yang mampir di tempat ini. Di bagian belakang joglo utama ada rumah-rumah panggung yang difungsikan sebagai mushola dan penginapan. Di sebelah timur ada bangunan joglo lagi untuk tempat makan pengunjung.

Di sebelahnya, ada rumah kayu jati yang dijadikan etalase oleh-oleh khas Borobudur. Mau berburu cobek batu, topeng kayu, hingga kaos bergambar candi Borobudur, semua lengkap dijajakan di sana. Pepohonan hijau menambah kerasan hingga berlama-lama di bangunan ini.

Secangkir kopi Menoreh yang menjadi suguhan tak tergantikan di tempat ini, cukup untuk mengusir penat setelah berjam-jam berkendara. Cocok sebagai mood booster, modal untuk menikmati eksotisme Borobudur yang tersohor itu.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Secangkir kopi Menoreh
Dari Agus Budi Santoso (38) pengelola Balkondes Borobudur, saya mendapat cerita unik dibalik berdirinya Balai Ekonomi Desa (Balkondes) ini. Agus menuturkan, lokasi Balkondes Borobudur sebelumnya adalah tempat pembuangan kotoran gajah milik Taman Wisata Candi Borobudur.

Ide mendirikan Balkondes muncul ketika Pemerintah Pusat melalui Kementerian BUMN menyalurkan dana CSR percepatan pariwisata di sekitar Borobudur. Dusun Ngaran mendapat kucuran dana sekitar Rp 1 miliar dari PT Taman Wisata Candi Borobudur.

Dana ini sebesar Rp 750 juta digunakan untuk proyek fisik Balkondes. Selebihnya untuk aktivasi, modal kerja, gaji karyawan, hingga pembelian mebeler. Balkondes Borobudur mulai dioperasikan 2016.

Kemudahan akses digital memudahkan pengelola berpromosi. Bersama sebanyak 19 Balkondes lainnya di kawasan Borobudur, foto-foto dan agenda Balkondes Borobudur dipajang di website resmi Balkondes.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Joglo utama Balkondes Ngaran Borobudur
Alasan kami ngebet ingin ke Balkondes Ngaran, Borobudur, sederhana. Selain lokasinya dekat dengan Borobudur, penataan tempatnya juga unik. di Balkondes ini juga terdapat penginapan dengan 20 kamar.

Menariknya lagi, dengan berjalan kaki sekitar 200 meter ke arah barat, kita bisa melihat puncak bangunan Candi Borobudur. Lokasinya juga tidak jauh dari objek wisata lain seperti Candi Mendut, Sungai Elo, museum kamera (Camera House Borobudur), Gereja Ayam, Puthuk Setumbu, dan objek wisata instagramable lainnya.

“Jika ingin melihat Borobudur langsung dari Balkondes, bisa coba menginap di Balkondes Tuksongo, Wanurejo, atau Karanganyar,” saran Agus yang tak pelit berbagi informasi mempromosikan Balkondes lainnya.

Namun, lagi -lagi tempat yang disarankan juga sudah penuh pengunjung. Melihat eksotisme Balkondes ngaran, saya bersama rombongan pun berniat menginap di tempat ini. Tapi lagi-lagi keinginan itu harus kami pendam dalam-dalam.

“Wah maaf mas, sudah penuh. Kalau ingin penginapan alternatif bisa menginap di homestay jaringan kami,” saran Agus yang langsung saya iyakan saja.

Duh... Saat musim Liburan, penginapan di Balkondes penuh. Menyesal juga mengapa saya tidak langsung booking saat menemukan website mereka. Alternatifnya, kita bisa menginap di homestay atau di rumah warga yang disewakan. Biasanya mereka berjejaring dengan pengelola Balkondes.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Pengunjung berburu oleh-oleh di Balkondes Borobudur
Selain lewat website, Agus juga memanfaatkan Instagram untuk berpromosi. "Kepoin" saja akun instagram Balkondes Borobudur di sini.

Sudah sampai Balkondes, jangan lewatkan paket wisatanya. Mau berkeliling Borobudur dengan berkendara mobil VW “camat” (Safari), naik andong andong, atau bersepeda menikmati pemandangan desa. Moda transportasi itu bisa langsung dipesan di pengelola Balkondes, atau website resminya.

Bagi yang suka memacu adrenalin, jajal saja paket tour off-road di pegunungan Menoreh, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur. Mau rafting di Sungai Elo juga bisa mendapatkan harga miring jika memesan lewat Balkondes.

Gagal menginap di Balkondes Borobudur justru membawa pengalaman baru. Kami menginap di homestay milik warga. Pak Gani namanya. Pemilik homestay tempat saya menginap ini memiliki mobil klasik VW Safari warna putih yang biasanya disewakan bagi pengunjung. Karena menginap di rumahnya, saya pun diperbolehkan menjajal kemudi kendaraan klasik itu.

Pak Gani juga menawarkan harga miring untuk menikmati rafting di Sungai Elo. Tapi karena kami sudah terlanjur booking lewat penyedia jasa rafting Citra Elo yang kami pesan lewat website-nya.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Menjajal Kemudi VW Safari
Menikmati pinggiran Borobudur via Balkondes sebagai pintu masuknya sungguh di luar dugaan kami. Banyak informasi menarik yang kami dapat. Terutama bagaimana mereka bisa menggerakkan ekonomi warga melalui potensi yang ada, memanfaatkan kunjungan wisatawan yang tidak putus-putusnya.

Selain itu, objek wisata buatan pun tumbuh subur di kawasan Borobudur. Semua itu bisa kita jelahi berbekal riset kecil-kecilan dari informasi yang banyak berserakan di dunia maya. Dari pengalaman menikmati eksotisme Borobudur dari sisi yang lain itu, ada sejumlah tips yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan hendak kemana kita berlibur.

Apa saja, berikut lima tipsnya :

1. Perencanaan

Di dunia yang serba digital saat ini, tidak sulit untuk melakukan riset objek wisata yang layak dikunjungi. Kita bisa meluangkan waktu dengan mengintip unggahan tempat wisata dengan tagar populer.

Catat tempat-tempat yang menarik perhatian itu. Lihat di peta, apakah lokasi-lokasi itu berada dalam jalur kunjungan yang mudah ditempuh.

Cari tempat penginapan yang pas dengan isi kantong. Semakin banyak referensi, semakin mudah menentukan pilihan. Jangan takut menghubungi nomor yang tercantum di setiap website atau akun penyedia jasa wisata untuk sekedar menggali lebih banyak informasi.

Dengan bekal informasi yang cukup, akan memudahkan dalam memutuskan akses transportasi yang hendak dipilih. Dengan perencanaan yang matang, biaya wisata pun bisa lebih dihemat.

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Keseruan rafting di Sungai Elo
2. Booking Tempat

Setelah mendapat tempat menginap yang diincar, segera lah melakukan pemesanan. Saat puncak kunjungan wisata, bisa jadi tempat-tempat populer di instagram atau media sosial lainnya, juga diincar oleh wisatawan yang lain.

Semakin cepat semakin baik. Memesan jauh-jauh hari juga memungkinkan untuk mendapatkan potongan harga dari penyedia jasa.

3. Go Get Lost

Ada jargon yang keren di kalangan milenials penggila wisata : Go Get Lost. Jargon ini seolah menawarkan tantangan tersendiri. Dengan tidak merencanakan apa pun, pengalaman baru penuh kejutan bisa didapatkan. Namun di sisi lain, dengan perencanaan yang minim itu kita harus siap-siap dengan pengeluaran tak terduga. Ada plus dan ada pula minusnya.

4. Siapkan Alat Dokumentasi

Berwisata tanpa meninggalkan jejak foto kurang lengkap di era millennials tourism saat ini. Foto-foto kece di tempat wisata selain menjadi dokumentasi yang penting bagi kita, juga bisa menjadi referensi penting bagi kawan-kawan kita yang lain.

Dengan mengunggah foto-foto atau video di tempat wisata, kita juga sekaligus mempromosikan keindahan alam dan budaya Indonesia.

5. Bijak Saat Berbelanja

Berwisata tanpa berbelanja juga aneh rasanya. Namun, jangan sampai kalap. Menghabiskan semua tabungan di tempat wisata juga rasanya kurang bijak. Belanjakan uang hanya untuk hal-hal yang penting. Membelikan oleh-oleh untuk kawan atau keluarga di rumah juga harus cermat agar tidak menguras kantong dalam-dalam.

Dengan perencanaan yang matang, sepertinya kita tidak akan membuang-buang waktu dan biaya untuk hal-hal yang tidak perlu. Selamat berwisata....!

Balkondes Borobudur omonganem millennial tourism
Susana eksotis di Balkondes Borobudur