Selasa, 21 Mei 2019

Top 10 Oleh-oleh Khas Kudus


oleh oleh khas kudus omonganem

MUDIK lebaran identik dengan oleh-oleh. Memang sih, kehadiran kita di tengah keluarga adalah yang utama. Tapi aneh kan rasanya kita pulang mudik, atau balik lebaran dengan tangan hampa.

Berikut top 10 oleh-oleh Lebaran khas Kudus yang dirangkum oleh Omonganem Dot Com.

Jika kamu mengenal oleh-oleh khas Kudus adalah jenang, kamu sama sekali ndak salah. Penganan legit ini memang sudah lengket dengan Kota Kretek. Tapi ketahuilah, oleh-oleh Khas Kota Kudus tak hanya jenang Kudus. Lebih lengkapnya, simak satu persatu daftar top 10 oleh-oleh Khas Kudus berikut ini.

1. Jenang Kudus



top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Rasanya tak afdhol menempatkan penganan yang diolah dari tepung beras ketan dan gula jawa ini pada daftar teratas oleh-oleh khas Kudus. Setiap orang yang singgah di Kota Kretek, tentu langsung mengincar penganan manis legit ini.

Di Kudus, banyak sekali perusahaan rumahan yang mengolah jenang kudus. Mulai dari jenang dengan cita rasa jadul yang konvensional hingga jenang kekinian yang diolah dengan aneka rasa yang menggoda selera.

Pusat oleh-oleh Jenang paling banyak tersebar di Jalan Sunan Muria. Jenang Mubarok adalah merek ternama penganan ini. Popularitasnya berada di peringkat atas dari seluruh merek jenang yang ada.

Merek jenang sinar 33 adalah merek jenang Kudus yang sudah melegenda. Paling mudah mencari produk jenang Mubarok yakni di Museum Jenang di Jalan Sunan Muria.

Museum jang ini menempati bangunan berlantai tiga di pinggir jalan Sunan Muria. Lantai satu untuk etalase produk jenang dan aneka oleh-oleh khas Kudus lainnya. Sementara di lantai dua digunakan untuk museum jenang.

Kita bisa berbelanja aneka macam jenang, dodol jenang, brownies jenang, sekalian berwisata di museum yang berada di lantai dua.

Selain di Museum Jenang, banyak deretan jenang produk usaha rumahan di pinggir Jalan Sosrokartono di Desa Kaliputu. Lokasinya berada di pinggir jalan Kudus – Colo Desa Kaliputu. Sejumlah merek terkenal yang direkomendasikan yakni Jenang Menara, Asia Aminah, Kenia, Karomah. Sina Fadhil, dan lan-lain.

2. Madumongso

top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Sekilas, madumongso mirip dengan jenang. Bedanya jika jenang diolah dari tepung ketan, madumongso diolah dari beras ketan hitam sebagai bahan dasarnya. Rasanya asam bercampur manis.

Pasalnya, ketan diolah dulu menjadi tapai melalui fermentasi, sebelum diolah menjadi madumongso. Setelah menjadi tapai, kemudian diolah lagi dengan menambahkan bahan-bahan lain seperti gula dan santan. Ada yang menambahkan buah nanas untuk cita rasa yang khas.

Madumongso biasanya dibungkus dengan kertas minyak warna-warni. Penganan ini bisa didapat di sejumlah tempat oleh-oleh Khas Kudus yang banyak tersebar di seantero wilayah Kabupaten Kudus.

3. Keciput


top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Keciput adalah sejenis onde-onde kecil. Bedanya, ukuran keciput lebih kecil dari onde-onde. Bedanya lagi, keciput termasuk kue kering. Keciput berbentuk bulat, ada juga yang lonjong. Kesamannya, kue keciput dibalut dengan biji wijen di seluruh bagian.

Keciput dibuat dari bahan tepung terigu, telur, margarin, dan adonan perasa. Setelah seluruh adonan dicampur dan diaduk dengan merata, adonan dibiarkan mengembang hingga sedikit mengeras.

Adonan kemudian dipotong kecil-kecil dan dibentuk bulatan kecil atau juga lonjong. Setelah ditaburi dengan wijen, adonan kemudian digoreng. Rasa keciput biasanya manis dan gurih dengan kerenyahan biji wijen.

4. Kopi Muria

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Popularitas kopi muria empat tahun terakhir pelan tapi pasti terus menanjak. Komunitas pecinta kopi di Kudus berperan penting dalam mengangkat popularitas kopi muria.

Kopi muria diolah dari biji kopi yang dipanen dari wilayah lereng muria. Kopi Muria mudah didapat di kedai -kedai kopi ternama di Kudus. Dengan aroma dan cita rasa yang khas, kopi muria sepertinya wajib masuk dalam daftar oleh-oleh khas Kudus.

5. Sirop Parijoto


top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Bagi yang sering berziarah di makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, buah parijoto sudah tentunya sudah tidak asing lagi. Buah parijoto kerap diburu bagi pasangan yang baru menikah.

Konon buah ini bisa menyuburkan kandungan. Bagi yang sudah hamil, ada mitos jika mengkonsumsi buah merah berukuran kecil dengan rasa asam ini, maka kelak anaknya akan berparas tampan atau cantik.

Belakangan, pelaku UMKM di Desa Colo mengolah parijoto menjadi sirop. Sirop parijoto banyak diburu oleh para peziarah maupun wisatawan yang mampir ke Kota Kudus.

6. Keripik Pakis

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Masih dari lereng Muria. Daun pakis sudah lama dikenal sebagai menu kuliner khas di Lereng Muria terutama di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di kaki Muria tak jauh dari makam Sunan Muria, terdapat warung makan dengan menu utama pecel pakis yang melegenda.

Oleh tangan-tangan kreatif anak muda di lereng Muria, pakis diolah menjadi keripik. Idenya mungkin berasal dari keripik bayam, atau keripik daun-daunan yang lain.

Melihat keunikan keripik daun pakis, rasanya sayang jika penganan ini tidak masuk dalam daftar oleh-oleh khas Kudus yang wajib dibawa saat nanti balil libur Lebaran ke kota asal.

7. Parijoto Chips

top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Lagi-lagi kreatifitas pelaku UMKM di lereng Muria menyumbang kreatifitas mengolah penganan yang berkelas. Setelah sukses mengolah parijoto menjajdi sirop, anak-anak muda di Colo juga mengolah buah parijoto menjadi penganan semacam keripik.

Mereka menamainya Parijoto Chips. Dengan kemasan yang menarik, penganan ini mulai mendapat tempat dihati para wisatawan. Jangan sampai ketinggalan mencicipi penganan keripik yang satu ini.

8. Getuk Nyimut Kajar

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Gethuk nyimut telah lama menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke Muria. Gethuk ini mudah dijumpai di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.

Namanya gethuk, penganan ini diolah dari bahan baku utama singkong. Bentuknya bulat dengan tambahan gula merah di bagian tengah. Gethuk goreng ini menjadi favorit pesepeda yang gowes ke Muria di Minggu pagi.

Belakangan, pelaku usaha rumahan di Lereng Muria berkreasi mengolah gethuk nyimput menjadi lebih kekinian. Cek saja akun instagram Kang Singkong. Gethuk ini kini “Naik kelas” dengan tambahan cita rasa yang mengundang rasa penasaran.

9. Keripik Kulit Pisang Tanduk

top 10 oleh-oleh Khas Kudus

Pisang tanduk adalah buah khas yang menjadi buah tangan dari lereng Muria. Pisangnya berbentuk lebih panjang dibanding pisang lainnya. Peziarah atau wisatawan kerap membeli pisang tanduk yang masih segar, atau sudah direbus. Rasanya manis.

Oleh tangan-tangan kreatif warga Kudus, tak hanya daging buah pisang yang bisa dicicipi. Kulitnya pun bisa diolah menjadi keripik yang membuat orang ketagihan.

Ihwal munculnya keripik kulit pisang ini, diinisiasi oleh mahasiswa asal salah satu universitas di Semarang yang menggelar KKN di salah satu desa di lereng Muria. Anak-anak muda ini melihat potensi kulit pisang untuk diolah menjadi keripik.

Dengan kemasan menarik, keripik ini mulai dilirik menjadi salah satu oleh-oleh Khas Kudus.

10. Kecap THG

top 10 oleh-oleh Khas Kudus


Ehm.... oleh-oleh tak melulu soal makanan kan? Boleh kan memasukkan kecap legendaris asal Kota Kudus yang satu ini dalam daftar oleh-oleh yang patut dibawa. Konon, makan makanan khas Kudus tanpa kecap THG bak makam sayur tanpa garam.

Sebut saja mau makan Soto Kudus, Nasi Pindang, atau Nasi Tahu khas Kudus, kecap yang satu ini tak boleh ketinggalan.

Kecap THG sudah menjadi klangenan cah Kudus yang sudah merantau ke luar daerah.

Itu tadi penganan yang masuk Top 10 oleh-oleh khas Kudus versi Omonganem Dot Com yang perlu dipertimbangan untuk diborong saat nanti libur mudik Lebaran. Yang penting lagi untuk diperhatikan tentunya, perlu lah kita bijak dalam membelanjakan uang. Jangan kalap dalam berbelanja. Sok bijak dikit boleh kan....



top 10 oleh-oleh Khas Kudus







.

Minggu, 19 Mei 2019

Di Mana Jejak Bekas Sujud Itu?

masjid tanpa sujud anis sholeh baasyin


MENURUT kalian, apa itu sujud? Menempatkan kepala di tempat terendah (tanah) untuk menyembah yang Esa? Lantas, di mana jejaknya?

Pertanyaan demi pertanyaan ini mengusik akal sehat hingga memaksa untuk memaknai arti sebenarnya tentang sujud. Kelompok teater Gerak 11 mengajak penonton “mencari” makna sujud dalam pementasan lakon “Masjid Tanpa Sujud” di Gedung O FKIP Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (18/5) malam.

Naskah “berat” karya Habib Anis Sholeh Ba’asyin terasa semakin berat karena dialog penuh pertanyaan yang setiap jawabannya, melahirkan kembali pertanyaan : Apa makna sujud?

Berkutat pada dua tokoh utama yang diperankan Luluk Karima dan Kholizul Azizi, lakon Masjid Tanpa Sujud melakukan pencairan makna sujud sejati. Kehadiran dua tokoh bernama sama, Abdullah, menggiring penonton memaknai sujud.

Abdullah yang satu, mengaku datang dari timur hendak ke barat, sementaa Abdullah yang lain datang dari barat hendak ke timur. Keduanya membawa benang merah makna sujud.

Dengan sering bersujud penuh kesadaran, akan mengantar manusia menjadi tawadhu’. Menjadikan manusia sebagai sosok yang rendah hati. Namun sayang, konsep sujud itu justru seakan dilupakan dalam berperadaban.

Orang-orang justru sibuk membuat kelompok dan “tenda-tenda” di dalam masjid. Satu sama lain saling mengagungkan diri dan kelompoknya. Mengecilkan yang lain. Menyalahkan kelompok yang lain.

Inilah yang kerap menjadi sumber kekacauan. Sebab, sejak awal orang kerap gagal bersujud. Ia bersujud kepada selain Allah. Sujudnya lebih pada remeh-temeh kepentingan duniawi.

Bukankah semua yang terhampar ini adalah masjid?Pantaskah berjalan di dalam masjid dengan beralas kaki?

“Seandainya orang bodoh atau tidak berilmu tidak berbicara, tentulah tidak ada kekacauan. Namun yang terjadi justru banyak orang yang tidak punya ilmu justru sering berbicara dengan keras,” kata tokoh Abdullah.

Tak salah Sutradara Sutrimo Astrada “memaksakan” Masjid Tanpa Sujud ini dipentaskan di Bulan Ramadan. Meski baru lima minggu mengakrabi naskah, Sutrimo menilai pesan naskah ini tepat disuguhkan di bulan Ramadan.

Momentum Ramadan, dinilai menjadi saat yang tepat untuk kembali mendalami nilai-nilai agama. “Memang masih banyak kekurangan dalam pementasan ini. Akan kami perbaiki di pementasan selanjutnya,” katanya.

Kelompok tetater PMII Kudus itu menyuguhkan tata panggung yang sederhana. Kain putih berbingkai warna hitam mendominasi di latar belakang. Pohon dengan ranting mengering diapit oleh bebatuan besar di tengah panggung.

“Kain warna putih kami maknai sebagai kesuciaan atau kelahiran, yang kemudian menjadi gersang (disimbolkan pohon dengan ranting mengering – Red),” katanya.

Pementasan dibuka dan ditutup oleh penampilan kelompok seni terbangan dan penari sufi. Selawat asnawiyah di akhir pementasan seolah mengajak penonton mendoakan bangsa agar tetap aman di tengah karut marut akibat tensi politik yang memanas belakangan ini.,

Kelompok teater Gerak 11 berencana mementaskan lakon ini di lima kota. Pati dan Jogjakarta telah dipilih. Tiga kota lainnya masih digodok. “Kami ingin mementaskan naskah ini di Pati, sebab Habib Anis berasal dari Pati. Kami ingin mendengar respons penonton di sana,” katanya.





.

Rabu, 15 Mei 2019

Gubug Warna Semai Budaya Literasi Keluarga


BAGAS langsung duduk bersila, berbaur dengan puluhan anak lainnya di halaman sebuah rumah di Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Minggu (12/5) sore. Bocah sepuluh tahun itu awalnya terlihat malu-malu karena datang terlambat.

Namun setelah mendengar ajakan temannya untuk segera duduk, ia pun tak canggung segera bergabung. Sore itu, Bagas dan anak-anak Desa Karangmalang terlihat gembira mengikuti acara Ngabuburead.

Kegiatan kreatif itu digagas Komunitas Gubug Warna. Ngabuburead diambil dari gabungan dua kata ngabuburit (sore menunggu berbuka) dan “read” bahasa inggris yang berarti membaca.

Ngabuburead secara khusus digelar untuk mengisi kegiatan anak-anak menjelang bedug magrib di bulan Ramadan. Selain membaca buku, anak-anak diajak bermain kreatif membuat sapu tangan celup warna-warni, kreasi bunga, menari tari kretek, dan permainan akustik.

Keseruan anak-anak Minggu sore itu hanya bisa dihentikan oleh bedug diiringi kumandang azan magrib tanda berbuka puasa tiba. “Ayo saatnya berbuka. Jangan berebut, semua pasti mendapat,” seru Hendro Wibowo (28), pengagas Gubug Warna.

BACA JUGA :

Komunitas Kereta Pelangi Daur Ulang Sampah untuk PendidikanPerangi Perang Dengan Lagu

Komunitas Gubug Warna berdiri sekitar Juni 2017. Gubug Warna kini menjadi tempat bermain dan belajar anak-anak Desa Karangmalang. “Bermain memang kami utamakan, termasuk dalam belajar. Dengan bermain anak-anak bisa lebih betah dan menangkap isi pelajaran yang diberikan,” katanya.

Gewol, panggilan akrab Hendro Wibowo menggagas Gubug Warna setelah lama aktif bersama komunitas Omah Aksi (OA) Kudus. Di saat berkecimpung di dunia literasi, sosial, dan pendidikan anak bersama OA itulah, Gewol membayangkan kenapa tidak membuat komunitas serupa di desanya.

“Saat itu saya berfikir jika hanya bersama OA, maka anak-anak di sekitar lingkungan OA yang mendapatkan manfaatnya. Mengapa saya tidak pulang dan mendirikan komunitas serupa di desa saya,” katanya.

Niat itu didukung relawan OA lainnya. Bahkan, sejumlah relawan OA lainnya juga tertarik mendirikan komunitas serupa di desanya masing-masing. Dengan mendirikan komunitas literasi di desa masing-masing, lanjut Gewol, manfaatnya akan semakin banyak, jejaring pun semakin luas.

Mengajak sejumlah teman dan tetangganya, mulailah Gewol mendirikan Gubug Warna dengan memanfaatkan rumah warga untuk “gubug” bermain. Setiap berkegiatan, Gewol tak lupa melibatkan komunitas-komunitas anak muda di Kudus.



Dengan saling berjejaring, anak-anak muda di lintas komunitas itu pun saling gotong royong setiap menggelar kegiatan. Tak hanya soal dana untuk kegiatan, mereka pun saling membantu untuk mengumpulkan donasi seperti buku bacaan hingga perlengkapan untuk permainan anak. Saling bantu ini sudah menjadi hal yang biasa.

Pada acara Ngabuburead itu misalnya, Gubug Warna menggandeng mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Muria Kudus (PGSD UMK), komunitas Pustaka Jalanan, serta komunitas musik kenalannya.

Biaya

Gewol dan rekan-rekannya tak terlalu memusingkan hal pembiayaan. Ia yakin, uang ada di mana-mana. Buktinya saat akan menggelar kegiatan seperti Ngabuburead itu, banyak rekan yang secara sukarela membantu baik uang, tempat, maupun makanan.

“Setiap kegiatan, kami tekankan uang donasi harus habis dimanfaatkan untuk kegiatan. Jangan sampai ada sisa uang kas,” katanya.

Gubug Warna semula bermarkas di sebuah rumah berarsitektur joglo di Karangmalang. Namun karena belum lama ini rumah itu kembali digunakan oleh pemiliknya, Gewol dan rekan-rekannya pun berinisiatif menggunakan rumah-rumah warga.

Ide itu direspons positif warga Karangmalang. Jadilah setiap kegiatan, warga yang memiliki rumah dengan halaman luas, dijadikan tempat bermain dan belajar anak-anak komunitas Gubug Warna.

Secara tidak langsung, kegiatan dari rumah ke rumah warga itu juga sekaligus menebar virus budaya literasi keluarga. “Karena berpindah-pindah tempat, muncul kesadaran orang tua untuk mendukung aktivitas anak dalam belajar, sekaligus mendampingi anak-anaknya,” katanya.

Tak hanya asyik dengan kegiatannya, Gubug Warna juga sering dilibatkan Pemerintah Desa Karangmalang. Terutama untuk kegiatan kreatif anak-anak muda. Adi (47), warga Karangmalang mengapresiasi kegiatan komunitas itu.

“Di saat anak-anak sering sibuk dengan ponsel, kegiatan kreatif apalagi untuk meningkatkan minat baca perlu digalakkan. Saya sebagai orang tua mengapreasiasi anak-anak muda Gubug Warna yang peduli pada pendidikan anak di desa kami,” katanya.


Aktivitas Komunitas Gubug Warna itu memberikan pengalaman baru bagi Sofi Famala (20). Mahasiswi PGSD UMK itu semula mau bekerjasama dengan Gubug Warna sebatas untuk memenuhi tugas kuliah.

“Kami tertarik setelah melihat dokumentasi kegiatan mereka di media sosial. Melihat antusiasme anak-anak, sepertinya kami akan sering-sering terlibat di kegiatan Gubug Warna,” katanya.



*) tulisan ini tayang di halaman Kudus Suara Merdeka, Senin (13/5/2019)

Senin, 06 Mei 2019

Mei dan Horoisme Pergerakan Mahasiswa 1990-an




BULAN Mei 1998 dicatat dalam tinta sejarah Indonesia bagaimana mahasiswa menjadi bagian gerakan reformasi menumbangkan pemerintah order baru. Gerakan “people power” itu tidak tiba-tiba terjadi. Ada proses panjang yang dirintis oleh kelompok aktivis Mahasiswa dalam menanamkan keberanian rakyat.

Seluk-beluk pergerakan mahasisa itu ditulis secara detail dalam novel sejarah “Lelaki di Tengah Hujan” karya Wenri Wanhar. Novel sejarah itu dibedah dalam Musyawarah Buku pada peluncuran event bulanan Jagong Pelataran di halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Sabtu (4/5/2019) malam.

Lelaki di Tengah Hujan menghadirkan kembali fragmen sejarah heroisme pergerakan mahasiswa 1990-an secara detail. Novel ini relevan diperbincangkan saat ini. Tak hanya bertepatan dengan Bulan Mei, namun karena frasa people power selalu diteriakkan oleh sejumlah elit di Indonesia, belakangan ini.

Musyawarah buku “Jagong pelataran” itu dihadiri oleh penulis “Lelaki di Tengah Hujan” Wenri Wanhar, sejarawan Kudus Edy Supratno, Aktivis PRD Kholid Mawardi, dan pemerhati sejarah Adhitia Armitrianto.

Menurut Wenri, buku ini bermula dari catatan harian yang dia kumpulkan dari keterangan para aktivis yang nyata-nyata meletakkan fondasi keberanian rakyat. Catatan itu kemudian disusunnya menjadi skripsi.

Reformasi 1998, lanjut Wenri, bukan serta merta terjadi. Ibarat membangun candi, ada yang meletakkan fondasi-fondasinya. Uniknya kelompok yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu saat bercerita tidak pernah mengklaim yang paling berjasa.

Saat ditanya, mereka justru menyebut nama lain lah yang paling berjasa. Ada kelompok yang saat ditanya selalu lempar bola. Padahal kata orang mereka lah yang paling berjasa. “Saya pikir ini lah orang-orang yang berjuang. Pejuang kan tidak pernah men-daku-daku,” katanya.

Solidaritas sesama “kawan” dalam kelompok itu pun sangat kuat. Mereka memiliki semboyan : Semua yang ada di bumi boleh dimakan, kecuali kawan.

BACA JUGA :
Yang Asing Di Kampung Sendiri
Koran Kami With Lucy In The Sky

Adhitia Armitrianto menuturkan, sebagai partai politik gerakan PRD yang dimotori kelompok mahasiswa, seperti yang ditulis di novel itu, cukup unik. Tahun 1999, mereka ikut sebagai peserta pemilu untuk pertama kalinya. Namun disisi lain mereka juga “menjual” slogan boikot pemilu.

Sejarah yang ditulis dalam genre novel masih sangat sedikit. Novel “Lelaki di Tengah Hujan” ini penting untuk mengingatkan ancaman kembalinya orde baru. Ancaman itu bukan hanya soal keluarga Cendana dengan partainya, tetapi sistem pemerintahan gaya orde baru yang berpotensi muncul lagi

Tanpa memahami sejarah, kata Sejarawan Kudus Edy Supratno, maka kita tidak mengetahui peristiwa apa yang terjadi di masa lalu. Sejarah saat ini kurang diminati karena tulisannya bersifat akademis. Gaya penulisan novel dinilai tepat untuk mengangkat isu sejarah.

Novel-novel sejarah banyak diminati. Parameter sederhananya, novel sejarah seperti itu kerap dicetak ulang.

Wenri Wanhar, penulis Lelaki di Tengah Hujan
Kholid Mawardi menambahkan, buku ini jangan hanya dilihat soal identitas kelompok tokoh-tokohnya saja. Yang lebih menarik adalah bagaimana mempelajari pola pergerakan mahasiswa saat itu.


Pada novel itu secara gamblang ditulis bagaimana pertemuan-pertemuan ilegal digelar, bagaimana mereka menggerakkan organisasi. Ibarat pepatah : Jika tidak pernah bergerak, maka tidak akan pernah sampai.

Sampai saat ini, orang-orang aktivis mahasiswa dan PRD yang bergelut pada era Reformasi masih meyakini apa yang saat itu dilakukannya adalah hal yang benar.




Rabu, 01 Mei 2019

Serunya Naik Perahu Keliling Bendungan Logung



SUDAH pernah mencoba berwisata naik perahu keliling Bendungan Logung? Kalau belum, segeralah meluncur ke waduk di Kabupaten Kudus yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati.

Sudah ada lima perahu yang dioperasikan warga Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Dengan membayar tiket Rp 10 ribu, pengunjung bakal diajak berkeliling Bendungan Logung.

Libur Hari Buruh, Rabu (1/5/2019) tak bakal dilupakan Yustina dan keluarganya. Rasa penasarannya muncul saat membuka media sosial di ponselnya. “Begitu lihat ada foto perahu wisata di Bendungan Logung, saya langsung mengajak keluarga mencobanya,” katanya.

Tak sia-sia, ia pun puas berkeliling Bendungan senilai Rp 620 miliar yang dibangun sejak tahun 2014 lalu. Ia pun berencana mengajak anggota keluarga dan teman-temannya yang lain untuk menjajal serunya naik perahu keliling Bendungan Logung.

Bendungan seluas 5.300 hektare lebih itu berada di Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe dan Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo. Dibangun Pemerintah Pusat tahun 2014, bendungan rampung pada 2018. Bangunan utama Bendungan Logung dirancang sepanjang 350 meter dengan ketinggian 55 meter. Dengan areal seluas itu, kapasitas air mencapai 20,15 juta meter kubik.

BACA JUGA : 

Selain untuk keperluan irigasi dan bahan baku air PDAM, Bendungan Logung juga rencananya memang akan digunakan untuk destinasi wisata. Meski belum secara resmi dibuka, warga Desa Kandangmas sudah mulai mengoperasikan perahu wisata.

Lukman, salah seorang pengelola perahu wisata menuturkan, wisata air di Bendungan Logung mulai dibuka seminggu terakhi. Setiap hari puluhan pengunjung menjajal berkeliling Bendungan Logung dengan naik perahu wisata yang dikelolanya bersama warga lain.

Pada hari libur 1 Mei 2019, jumlah pengunjung mencapai 200 orang. Saat ini baru ada empat perahu yang dioperasikan. Rencananya akan di tambah hingga 15 perahu. Perahu wisata itu dibuat sendiri oleh warga.

Biaya pembuatan mencapai Rp 10 juta – Rp 12 juta. Perahu mampu menampung hingga sepuluh orang. Dengan tarif Rp 10 ribu untuk orang dewasa dan Rp 5 ribu untuk anak-anak, pengunjung diajak berkeliling sekitar 15 menit – 20 menit.

Meski masih serba terbatas, pengunjung cukup antusias menjajal destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus itu. Tak hanya warga Kandangmas, Warga di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo juga bersiap-siap membuka destinasi wisata Bendungan Logung.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Tanjungrejo Cristian Rahardianto menuturkan, pihaknya bekerjasama dengan Perhutani telah membersihkan lahan yang rencananya akan digunakan untuk objek wisata.

Wisatawan mencoba perahu wisata di Bendungan Logung

Selain perahu, nanti juga bakal ada permainan bebek air, hingga arena selfie dan rumah makan apung. Pengelolaan Bendungan Logung memang belum dibuka secara resmi. Namun, pengelola bendungan sampai saat ini tidak melarang warga membuka objek wisata dengan memanfaatkan Logung.

Cristian yang menjadi ketua Pokdarwis selalu diajak berkomunikasi dengan pengelola perahu wisata di Desa Kandangmas. “Saat ini memang belum dibuka secara resmi. Pengelola wisata di Kandangmas juga berkomunikasi dengan kami. Yang penting kami tekankan untuk mengutamakan keselamatan pengunjung,” katanya.




.