Minggu, 30 Desember 2018

Shalat di Masjid Ini Pahalanya Setara Ibadah Umroh

omonganem masjid quba


SIAPA pun yang bersuci (mandi/wudlu) di tempat tinggalnya kemudian datang ke Quba dan shalat (shalat apa saja) di Masjid Quba, bagi dia adalah pahala Umroh. Itu lah keistimewaan Masjid Quba seperti sabda Nabi Muhammad SAW.

Masjid Quba lokasinya sekitar 4 kilometer sebelah selatan Masjid Nabawi. Untuk menuju ke sana, bisa naik bus kota dengan tarif SR 2 (atau sekitar Rp 8.000 kurs Rp 4000/SR). kita juga bisa menggunakan taxi dengan tarif sekitar SR 10.

Umumnya, jamaah umroh menggunakan bus carteran karena ingin ke sana bersama-sama. Namun tidak ada salahnya, kita saat berada di Madinah meluangkan waktu untuk menunaikan shalat di masjid Quba.

Tak perlu harus selalu datang berombongan dengan jamaah umroh yang lain. Yang penting izin dulu sama pendamping agar tidak dicari-cari. Jangan lupa bawa paspor dan tanda pengenal biro untuk berjaga-jaga jika ada urusan terkait administrasi. Arsitektur masjiq Quba sangat indah, megah, anggun, dan unik. 

omonganem masjid quba


Masjid yang mampu menampung jamaah hingga 25 ribu orang ini dilapisi granit dan marmer anti panas. Di bagian dalam ada areal terbuka dengan atap tenda raksasa. Di bagian atapnya dibentangkan kain-kain, sehingga sinar matahari tetap bisa masuk ke areal masjid. Kain-kain ini pun menambah cantiknya masjid yang dibangun Nabi dan sahabat.

Masjid ini menjadi tempat singgah Nabi saat hijrah dari Mekah menuju Madinah. Masjid ini istimewa karena Nabi selalu datang di hari Sabtu untuk menunaikan shalat.

Perlu dicatat, Masjid Quba ditutup satu jam setelah Isya dan dibuka lagi satu jam sebelum azan Subuh. Jadi jangan sampai niat kita mau shalat malam di masjid ini, sudah jauh-jauh ke sana, eh masjidnya di tutup. Shalat malam di masjid Nabawi saja Lur. Lebih sahdu karena dekat dengan makam Nabi.

omonganem masjid quba

Masjid quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhamamd SAW pada tahun 1 Hijriyah (622 Masehi). Masjid ini memiliki 19 pintu, tiga di antaranya adalah pintu utama dengan pintu yang besar. Dua pintu untuk masuk jamaah laki-laki, satu pintu utama khusus diperuntukkan bagi jamaah perempuan.




.

Sabtu, 29 Desember 2018

Semangat Zero Waste dari Kampung Bulakan


omonganem bulakan asri


TRAGEDI kematian paus sperma karena menelan 5,9 kilogram sampah plastik di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, membuka mata kita pentingnya mengelola sampah rumah tangga.

Tak hanya memicu bencana alam seperti banjir karena sampah menyumbat sungai atau saluran air, hingga dampak lingkungan lainnya, sampah juga ternyata mengancam nyawa makhluk hidup lainnya. Greenpeace Indonesia menyebut Indonesia sudah darurat sampah.

Masyarakat menghasilkan sampah organik sekitar 70 persen, sisanya adalah sampah anorganik seperti botol plastik, kantong plastik, hingga styrofoam. Untuk meminimalkan dampak sampah plastik, Gerakan “zero waste” melalui manajemen pengelolaan sampah pun kembali digalakkan.

Jauh sebelum Pemerintah gembar-gembor kampanye gerakan zero waste melalui sejumlah kementerian baru-baru ini, warga di Kampung Bulakan, Desa Langgongsari, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah, sudah lebih dulu menerapkan manajemen pengelolaan sampah rumah tangga.

Lewat program kampung iklim (Proklim) warga secara mandiri memilah dan memanfaatkan sampah. Hasilnya, sampah rumah tangga organik diolah menjadi kompos, pupuk cair, hingga energi terbarukan (biogas). Sampah anorganik disulap menjadi kerajinan kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

Proklim menjadi ikhtiar warga Bulakan untuk turut serta dalam melakukan upaya penguatan kapasitas adaptasi perubahan iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca. Proklim sendiri adalah program berlingkup nasional yang dikelola oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Kegiatan pertanian organik yang dirintis sejak 2007 menjadi embrio terbentuknya Kampung Proklim Bulakan Asri. Setelah sekian tahun bergelut di pertanian organik, warga mulai serius memecahkan persoalan sampah, tahun 2013.

Program itu tak serta merta dijalankan seluruh elemen warga. Kehadiran PT Pamapersada Nusantara (Pama), anak perusahaan PT United Tractors Tbk (Astra Group) yang memfasilitasi pendampingan hingga peralatan pengolah sampah melalui Kampung Berseri Astra (KBA) Proklim Cilongok, tahun 2013 pun, tak lantas membuat seluruh warga tergerak.

Mengubah kebiasaan warga memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Program itu mengalami pasang surut. Pada masa awal program digulirkan, hanya sedikit warga yang mau aktif terlibat karena memang yakin betul sampah memiliki nilai ekonomis.

Ketekunan sebagian warga yang aktif di program itu pelan tapi pasti mulai menggugah kesadaran warga yang lain. Program itu mulai mendapat tempat di masyarakat secara luas setelah adanya reformasi kepengurusan proklim, tahun 2017.

Taufiqurrahman yang ditunjuk sebagai koordinator Proklim Bulakan Asri mengajak rekan-rekannya melakukan pemetaan potensi desa, hingga studi banding ke daerah lain yang memiliki program serupa.

Taufiq menuturkan, potensi sampah di kampungnya cukup besar. Keberadaan Pondok Pesantren Nurul Huda yang memiliki sekitar seribu santri salah satunya. “Dari ponpes banyak dihasilkan sampah baik organik mapun anorganik. Begitu juga dari warung-warung di sekitar ponpes, banyak dihasilkan sampah plastik makanan maupun minuman kemasan,” katanya.

Dari diskusi internal, pengurus proklim pun sepakat mengolah sampah tersebut. Mereka membentuk Bank Sampah Kampoeng Iklim Bulakan Asri. Lewat bank sampah, warga bertekad mengubah sampah menjadi berkah, sekaligus melestarikan lingkungan bebas dari sampah.

Berbagai macam sampah rumah tangga dipilah menurut jenisnya. Warga juga guyub menggelar kegiatan Ahad bersih untuk menjaga lingkungan agar Bulukan menjadi kampung yang aman, sejahtera, Ramah, dan Indah (ASRI).

Akronim Asri itu lah yang sengaja disematkan pada nama Proklim Bulakan Asri, agar warga selalu ingat sekaligus menjadi motivasi bersama untuk mewujudkan lingkungan kampung yang diidam-idamkan itu.

omonganem bulakan asri
Kampung Bulakan menuju kampung berdikari

Sampah organik seperti sisa sayuran yang terkumpul dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi biogas. Dari biogas tak hanya dihasilkan energi terbarukan, namun juga menghasilkan pupuk cair dan kompos.

Karena kapasitasnya terbatas, hanya sekitar 2 kilogram, gas yang dihasilkan baru bisa dimanfaatkan dua tempat. Satu disalurkan ke Bank Sampah, satu lainnya ke rumah warga yang berada di dekat instalasi.

Sementara sampah anorganik didaur ulang melalui bank sampah. Sampah plastik bekas kemasan makanan atau minuman yang dikumpulkan baik dari program tabungan maupun sedekah sampah, disulap menjadi kerajinan seperti karpet, tas, hingga dompet.

Yang tidak bisa didaur ulang dijual ke pengepul. Lebaran lalu, tabungan warga di Bank Sampah bahkan ada yang mencapai Rp 370 ribu per orang.

omonganem bulakan asri
Kerajinan kreatif yang diolah dari sampah plastik


Meski sudah melakukan pemilahan dan daur ulang sampah, Taufiq menuturkan masih ada sekitar dua truk sampah yang dikirim ke TPA setiap minggu. Sampah yang terbuang percuma ini lah yang kini sedang dicari bagaimana cara pemanfaatannya.

Ada gagasan mengolah sampah terbuang menjadi paving block. Pengurus Bank Sampah dan Proklim sudah belajar ke Purbalingga. Namun karena produksi paving block menghasilkan asap pekat, Taufiq mengaku masih pikir-pikir menerapkannya di Bulakan.

“Khawatir kalau asap nanti mengganggu warga hingga muncul protes. Jika asap bisa diminimalkan, kami tertarik. Kami masih mencari model yang tepat untuk pemanfaatan sampah terbuang,” katanya.

Semangat dan kreatifitas warga membawa efek domino bagi kegiatan ekonomi warga. Terlebih, Bulakan dianugerahi tanah yang subur. Tanaman kelapa, durian, dan kopi tumbuh subur. Jika kelapa sudah lama dimanfaatkan untuk memproduksi kopra, gula semut, hingga serabutnya dimanfaatkan untuk sapu dan keset, lain halnya nasib kopi di Bulakan.

Kopi yang sebelumnya dianggap tanaman liar, baru digarap serius belakangan ini. Budaya “ngopi” warga perkotaan mendorong Warga Bulakan mengolah kopi secara serius. Hasilnya, mereka kini memiliki produk unggulan Kopi Iklim.

Tak berhenti disitu, warga menata mimpi Bulakan sebagai sentra penghasil bunga. Tanah Bulakan yang subur kerap menjadi incaran pedagang tanaman. Mereka membeli tanah Bulakan sebagai media tanam.

Melihat potensi itu, kampung Proklim Bulakan menggagas unit usaha pemanfaatan tanah sebagai media tanam, sekaligus mengembangkan usaha di bidang tanaman hias. “Semua usaha ekonomi itu kami garap untuk mewujudkan Bulakan sebagai kampung berdikari,” katanya.

Taufiq mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. “Kami bersyukur tak sendirian dalam mewujudkan mimpi Bulakan menjadi kampung berdikari. Selain dukungan pemerintah, juga ada dukungan pihak lain seperti dari Astra yang terus mendampingi dan ikut mengedukasi warga,” katanya.

Tak mudahnya mengubah kebiasaan warga terutama dalam mengelola sampah diamini CSR Section Head PT Pamapersada Nusantara Head Office Pangarsa Budi Utama, yang melakukan pendampingan di Bulakan. Hanya saja, kerja pendampingan di Bulakan relatif lebih ringan karena ada warga yang memiliki visi sama melalui proklim. 

omonganem bulakan asri
Pemanfaatan sampah organik untuk biogas

Budi mencontohkan, melalui program CSR perusahannya pernah memasang komposter komunal yang mengolah tinja sebagai energi terbarukan (biogas). Komposter komunal yang dibangun secara hitung-hitungan sudah menghasilkan biogas. Namun, warga keberatan memanfaatkannya karena alasan tertentu.

“Mungkin karena mereka melihat bahan bakunya yang berasal dari tinja manusia. Karena mereka tak mau memanfaatkannya untuk memasak, ke depan kami wacanakan untuk penerangan kampung,” katanya.

Program Kampung Berseri Astra (KBA) Cilongok di Dusun Bulukan, Desa Langgongsari, berjalan cukup baik karena peran serta masyarakatnya. Sejak awal, lanjut Budi, program ini memang hanya memfasilitasi kampung yang masyarakatnya aktif. 

“Kami tidak ingin menyuapi, namun memberi kail. Mereka yang membuat kelompok, melakukan pemetaan, programnya seperti apa, kamii hanya memfasilitasi,” katanya.

Sampah menjadi isu utama di Bulukan. Semangat warga mendaur ulang sampah telah menghasilkan kerajinan kreatif. Saat ini, produk kerajinan warga Bulakan sudah nampang di galeri kami di Bandara Sepinggan Balikpapan, Kalimantan Timur, bersama produk-produk desa binaan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.

Setelah sampah, potensi air menjadi program yang bakal serius digarap ke depannya. Warga Bulakan telah membuat biopori di pekarangan rumah agar air bisa terserap ke tanah. “Sekarang sedang didiskusikan bagaimana memanfaatkan air agar tidak terbuang percuma,” katanya.





*)Sumber foto : Fanpage Facebook Proklim Bulakan Asri

Selasa, 25 Desember 2018

Dolan Kudus, Jangan Lupa Cicipi Sate Rusa Margorejo

omonganem sate rusa

SATE kerbau, sate kambing, sate kerang, sate apa lagi? Bosan mencoba sederet kuliner daging bakar itu? Sesekali coba lah menu tak biasa yang ada di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus ini. SATE RUSA.

Sate dari hewan yang dilindungi negara ini dijual bebas di Kedai RA (Redi Ayu) di pinggir jalan Desa Margorejo. Setiap yang datang di kedai RA selalu menyimpan pertanyaan yang mengganjal. Bolehkan rusa dikonsumsi? Bukankah hewan bertanduk itu masuk kategori dilindungi?

Pertanyaan itu wajar. Kedai RA yang menempati gedung eks SDN 4 Margorejo Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu menawarkan menu "langka" : sate rusa. Ada juga gulai rusa sebagai menu pelengkapnya.

Pengunjung yang datang pun tak sungkan menanyakan legalitas daging rusa yang dipesannya. Kepada pengunjung yang bertanya, Sunarti, salah seorang pengelola selalu memastikan sate daging rusa yang dijualnya berasal dari rusa legal karena berasal dari penangkaran resmi.

Daging rusa di kedai yang berada di kompleks kolam pemancingan Redi Ayu Margorejo ini pun dibatasi. Sehari hanya 2 kilogram daging rusa yang diolah. Daging sebanyak itu menjadi 240 tusuk. Satu porsi terdiri atas 10 tusuk sate rusa.

Dengan bumbu kecap dan bawang, sekilas sate rusa tak beda dengan menu sate lainnya. Perbedaan sate rusa baru terasa saat mengunyah dagingnya. Daging rusa terasa lembut. Tak banyak serat seperti daging lainnya.

omonganem sate rusa
sumber IG @kenfbalqis_
Seporsi sate rusa dijual seharga Rp 30 ribu. Untuk gulai seharga Rp 15 ribu per porsi. Daging rusa terasa lembut karena yang dipotong adalah rusa yang usianya sekitar dua tahunan.

Jika kebetulan rusa tua yang dipotong, Sunarti biasanya merendam daging terlebih dahulu dengan air perasan nanas. Nanas membuat daging lebih empuk.

Sunarti mengelola kedai RA bersama dua emak-emak Margorejo lainnya yakni Siti Khumaidah dan Muthohroh. Jangan datang ke kedai ini pada pagi hari. Pasalnya, Kedai RA baru buka pukul 16.00 WIB dan tutup pada pukul 20.00 WIB. “Makan satai paling enak pada sore hari,” kata Sunarti meyakinkan saya saat berkunjung ke kedai RA.

omonganem sate rusa

Tak sulit menemukan kedai RA. Lokasinya persis berada di sebelah timur Balai Benih Ikan (BBI) Margorejo milik Pemkab Kudus. Nama Desa Margorejo memang masih asing. Namun jika menyebut nama Pelang, warga di Kudus biasanya langsung tahu.

Sebab pelang identik dengan sentra penghasil durian di Kabupaten Kudus. Sate rusa menambah daftar alasan mengapa kita harus datang ke pelang, selain untuk berburu durian.

Daging rusa Kedai RA berasal dari penangkaran rusa di Margorejo, desa wisata yang menjadi desa binaan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Ahli rusa yang juga akademisi Undip Daud Samsudewa mengatakan rusa yang boleh dipotong adalah yang sudah berstatus generasi F2 atau generasi ketiga.

Selain itu, rusa juga harus telah mengantongi surat izin dari BKSDA Jawa Tengah. Rusa yang boleh dipotong pun hanya rusa jantan. Rusa betina tidak boleh disembelih karena difokuskan untuk meningkatkan populasi.

Di penangkaran rusa Margorejo, total ada sebanyak 135 ekor rusa. Dari jumlah itu, ada sekitar 40 ekor rusa yang sudah berstatus F2. Selain diambil dagingnya, rusa di penangkaran itu juga telah dimanfaatkan ranggang atau tanduknya. Mereka mengolahnya menjadi obat kejantanan. 

Rusa yang dimanfaatkan hasilnya, terutama untuk dipotong memang dibatasi untuk mengontrol konservasinya. Jadi tidak over pemotongan. Penangkaran rusa di Margorejo berada satu kompleks dengan areal kebun durian yang dikelola kelompok sadar wisata Gema Margorejo.

omonganem sate rusa


Bersama tim Tim KKN Eduwisata-KUBE Kudus Undip, kebun seluas sekitar 2 hektare milik salah seorang pengusaha di Kudus itu menjadi daya tarik desa wisata Margorejo.

So, Tunggu apa lagi. Jangan main ke mall terus. Main lah ke Margorejo. Salah satu desa di kaki Gunung Muria. Apalagi akhir Desember pas puncak panen durian pelang yang cukup terkenal itu. Jangan lupa, mampir dan cicipi kuliner Kudus sate rusa di Margorejo.




.

Kamis, 20 Desember 2018

Siap-Siap..! Margorejo Kudus Gelar Festival Durian 2018


omonganem festival durian 2018


SEPEKAN terakhir bereda poster festival durian di Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Poster itu cepat menyebar di grup whatssapp. Banyak yang menyangsikan kebenarannya. Pasalnya, sebelumnya pernah marak beredar poster festival durian di berbagai kota, namun ujung-ujungnya itu kabar hoax.

Tapi tenang saja, festival durian di Desa Margorejo ini benar-benar akan digelar Minggu 23 Desember 2018. Siap siap mabok durian Minggu ini di Desa Margorejo. Tak hanya durian, pengunjung juga akan diajak “ngunduh” ace bersama Bupati Kudus HM Tamzil.

Menurut Kepala Desa Margorejo Ahmad Baskoro, festival ngunduh durian dan ace akan dipusatkkan di Kolam Redi Ayu Margorejo. Sebanyak empat gunungan durian akan dikirab dari Dusun pelang menuju kolam Redi Ayu sejauh sekitar satu kilometer.

Menurut Baskoro, setiap gunungan berisi sekitar 50 buah durian. Sebanyak empat gunungan itu berasal dari warga petani durian di empat dusun di Margorejo, yakni Dusun Karangpanas Paseran, Pelang Gading, Bandung Buyutan, dan Gentungan.

“Tahun ini panen terlambat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun Alhamdulillah hasilnya jauh lebih baik dibanding tahun kemarin. Harganya pun lumayan,” kata Baskoro.

Selain kirab gunungan durian, pada festival durian tahun ini juga digelar lomba durian, lomba foto selfie, lomba mewarnai, doorprize, pentas seni, panggung hiburan, dan nguduh durian bersama bupati Kudus.

BACA JUGA

Wisata Kandang Rusa di Margorejo


Festival durian ini telah ditetapkan menjadi agenda tahunan warga Desa Margorejo. Tahun ini adalah tahun kedua festival durian digelar. Tahun lalu festival durian berlangsung meriah. Ada juga lomba durian digelar yang diikuti warga Margorejo.

Festival ini menjadi upaya warga Margorejo untuk meningkatkan brand durian pelang. Belakangan durian pelang tergerus dengan popularitas durian dari daerah lain. Dengan festival ini, warga diharapkan tertarik berkunjung ke Margorejo, mencicipi langsung buah durian pelang khas Margorejo.

omonganem festiva durian margorejo

Buah durian dan ace menjadi daya tarik wisata Desa Margorejo. Kelompok Sadar Wisata Gema (Gerakan Endahing Margorejo Asri) mengelola kebun durian seluas sekitar 2 hektare kebun buah durian untuk eduwisata. Di kebun milik salah seorang pengusaha itu juga terdapat kandang rusa.

Festival ini juga menjadi sarana edukasi kepada warga pemilik pohon agar terus meningkatkan kualitas durian. Termasuk juga pedagang agar jujur saat menjual durian. Pembeli pun bisa belajar bagaimana mengetahui ciri-ciri durian pelang yang kualitasnya bagus.





Rabu, 19 Desember 2018

Aku Pun Asing di Kampung Sendiri


Omonganem Yang Asing di Kampung Sendiri

MERASA sudah jauh menginjakkan kaki ke berbagai kota? Merasa paham seluk beluk kampung orang? Tapi tiba-tiba merasa asing dengan kampung sendiri. Pernah? Saya juga.

Karena itu ketika dikabari buku “Yang Asing di Kampung Sendiri” akan diterbitkan, saya pun memesan ke salah satu penulisnya. Saya merasa perlu mengajak teman-teman Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus untuk membedahnya.

Bukan karena beberapa penulisnya adalah kenalan saya, yang kebetulan anggota PWI juga, namun jalan “prosa jurnalisme” yang dipilih para penulisnya membuat saya perlu membuat forum khusus untuk membedahnya.

Yang Asing di Kampung Sendiri adalah buku antolologi reportase bergenre prosa jurnalisme tentang Kudus. Buku ini hasil gotong royong sembilan orang penulis. Buku setebal 222 halaman ini menyajikan sebanyak 12 tulisan, plus satu “curhat” panjang editornya.

Yang menarik meski memilih gaya bahasa feature, jurnalisme sastrawi, atau yang mereka lebih enjoy memilih menyebut prosa jurnalisme, tidak semua penulisnya memiliki latar belakang jurnalis (wartawan).

Saya termasuk yang mengamini “quote” : Jurnalisme bukan hanya monopoli wartawan saja. Karena itu saya merasa perlu membaca buku ini. Apalagi secara visual, menurut saya, sampul buku ini berhasil membuat penasaran pembacanya.

Pemilihan judul antologi “Yang Asing di Kampung Sendiri” semakin menguatkan pembacanya untuk sesegera menyelami apa saja yang asing di Kudus. Bagi orang yang lahir, besar, dan sekarang mencari nafkah di Kudus seperti saya, buku ini masuk dalam daftar wajib baca.

Dari 12 judul di buku itu, tulisan “Hikayat Sebuah Desa di Dalam Desa” paling menarik perhatian saya. Tulisan itu lah yang pertama saya baca. Sebelas tulisan lainnya saya pilih baca belakangan. Sebab, tema sebelas tulisan lainnya sudah banyak ditulis. Termasuk saia.

Tulisan itu berkisah tentang Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Konon, desa itu memiliki saudara kembar. Desa Medini secara administrasi ikut dalam pemerintahan Desa Gabus, Wirosari, Kabupaten Grobogan.

Sampai di sini, langsung saya sambar hape, buka browser, mengetikkan kata kunci desa Gabus, Wirosari, Kabupaten Grobogan. Bagi saya yang pernah setahun kerja di Grobogan, penyebutan Desa Gabus Wirosari cukup janggal.

Internet membantu saya mengingat-ingat lagi memori periode 2008-2009, saat saya kerap “ngaspal” di kabupaten terluas di Jawa Tengah, setelah Cilacap itu. Desa Gabus dan Wirosari memang ada. Tapi itu di dua kecamatan berbeda. Desa Gabus ikut Kecamatan Gabus, sementara Desa Wirosari, Kecamatan Wirosari. Kedua kecamatan memang berdekatan.

Saya melanjutkan membaca kata per kata, membuka lembar per lembar hikayat Desa Medini. Tapi hingga titik terakhir tulisan itu, pelan-pelan saya mulai menutup buku. Menenggak segelas air putih. Akhirnya menyadari ekspektasi saya terlalu tinggi.

Masih banyak yang perlu dijawab dari hikayat tersebut. Tapi tidak perlu lagi saya panjang-panjang menguliti tulisan itu. Toh masih ada sebelas tulisan lagi. Buka buku, menjelajahi lagi yang asing di kampung sendiri.

Omonganem Yang Asing di Kampung Sendiri

Bedah buku “Yang Asing di Kampung Sendiri” digelar PWI Kabupaten Kudus, Selasa (18 Desember 2018). Hadir sejumlah penulisnya. Salah satunya Islakhul Muttaqin. Dia lah yang menulis Hikayat Sebuah Desa di Dalam Desa.

Islah mengaku hanya punya waktu tiga hari untuk membuatnya. Mulai terjun ke lapangan, reportase, hingga menuliskannya. HEBAAT..! Waktu yang singkat untuk tulisan sepanjang 21 halaman.

Secara keseluruhan, antologi ini cukup berani karena mengibarkan bendera prosa jurnalisme dengan latar belakang penulisnya yang sebagian masih minim pengalaman liputan di lapangan.

Saya pun membayangkan bagaimana Afthonul Afif, sebagai editornya, bekerja keras di depan monitor, menata kata per kata, sehingga buku ini menjadi enak dibaca. SALUT buat mas editornya....!

Dia sendiri membutuhkan kerja keras untuk mengedit tulisan para kontributor buku itu. Setelah terbit pun, banyak kritikan dan masukan yang dialamatkan kepada penulisnya, maupun dirinya secara langsung.

“Kepada penulisnya saya selalu bilang. Masukan, kritikan menunjukkan karya kita dibaca. Diperhatikan. Ini bagus untuk kelanjutan proses penulisan kreatif berikutnya,” katanya.

BACA JUGA :

Sakyu, The Spirit To Climb
Koran Kami With Lucy in The Sky


Menurut Mas Afif, buku ini bernasib baik. Ia membandingkan buku lain yang dieditnya. Ditulis oleh orang-orang dengan segudang pengalaman penelitian dengan latar belakang pendidikan oke, namun setelah rilis, ternyata kurang diminati.

Beda dengan buku yang setahun dieditnya itu. Dicetak 300-an eksemplar, sudah laku 200-an eksemplar saat masih hangat-hangatnya dari mesin percetakan. Bisa jadi karena literasi tentang Kudus yang masih terbatas. Apalagi yang ditulis dengan gaya prosa jurnalisme.

Meski begitu, ia mengakui masih banyak pertanyaan karena tulisan yang belum tuntas. Tapi menurutnya, tulisan yang baik itu yang justru membuat pembacanya penasaran, bertanya-tanya. Bahkan hingga mampu tergugah hingga “melanjutkan” tulisan yang dinilai kurang sempurna itu. Oke. Mashooook Mas...!

Omonganem Yang Asing di Kampung Sendiri

MALU sebenarnya saya menulis sepanjang ini. Lebih tepatnya buku ini membuat saya iri. Hampir sepuluh tahun kerja jadi buruh media, belum satu pun judul buku yang ada nama saya sebagai penulisnya. Sementara kawan-kawan lain seangkatan sudah melahirkan novel, cerpen dan lainnya.

Saya jadi teringat tantangan membuat buku tentang sejarah organisasi keagamaan di Kudus. Tantangan itu saya iyakan saja. Tapi sejujurnya, saya belum tau harus mulai dari mana, mengajak siapa saja. Saya hanya bisa membatin. Bismillah.....