Selasa, 12 November 2019

Mewujudkan Transportasi Massal Yang Berdikari

omonganem transportasi
BRT melintas di Kota Lama Semarang
JIKA bisa memilih, saya akan memilih untuk mengosongkan garasi dari kendaraan bermotor. Untuk apa kendaraan pribadi jika akses kendaraan umum mudah dan banyak pilihan. 

Bagi mereka yang tinggal di kota besar, pilihan itu cukup realistis. Pilihan moda transportasi cukup banyak. Mau yang daring (dalam jaringan) atau yang konvensional. Tinggal pilih untuk mencapai tempat tujuan.

Moda transportasi massal darat, laut, dan udara juga semakin nyaman dengan harga tiket semakin terjangkau. Tinggal pilih. Itu kata kuncinya. Moda transportasi yang bisa beradaptasi sesuai keinginan konsumen, itu lah yang bakal menjadi pilihan.

Kembali ke rencana saya mengosongkan garasi yang muncul setidaknya pada awal tahun ini. Maklum, saat itu moda transportasi ojek online sedang booming di Kudus, tempat tinggal saya. Tarifnya terjangkau. Saat itu, banyak pilihan voucher promo (baca : potongan harga) yang memanjakan setiap konsumen.

Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming tarif Rp 1 sekali jalan? Sempat motor saya menganggur. Ojek Online dengan tarif super murahnya menjadi pilihan utama kemana saja tujuan saya.

Perkara tiket murah dalam dunia transportasi memang bukan barang baru. Bisnis transportasi udara sudah lebih dulu menawaran tiket dengan harga miring kepada konsumen. Namun, urusan tarif memang perlu diatur agar muncul persaingan yang sehat.

Terlepas dari itu, ada ceruk besar potensi bisnis layanan transportasi massal di Indonesia. Publik selalu menantikan gebrakan program baru transportasi massal di Indonesia. Ingat ketika busway kali pertama muncul, langsung diserbu warga. Begitu juga ketika LRT dan MRT dikenalan ke publik.

Itu artinya, masyaraka rindu dengan moda transportasi massal yang aman, nyaman, dengan tarif terjangkau. Ketika Kemenhub mengkaji transportasi baru bernama O-Bahn pun, publik tak sabar menunggunya.

O-Bahn merupakan bentuk transportasi gabungan dari Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transt (LRT) yang digadang-gadang menjadi alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia.

Kembali ke soal ceruk besar bisnis transportasi di Indonesia. Pemerintah telah melihat itu dengan menerbitkan berbagai kebijakan untuk menumbuhkan transportasi massal. Salah satunya dengan penggunaan komponen lokal.

Pada tahun 2016, Pemerintah telah meresmikan asosiasi manufaktur dan penunjang perkeretaapian. Ada logam, karet, dengan PT INKA (Persero) sebagai integrator. Dengan dukungan dari IKM di sektor perkeretaapian, diharapkan penyediaan kebutuhan untuk kereta bisa lebih menyerap produk dalam negeri .Mulai rangka hingga body kereta.

sumber foto : IG  jakarta_skylines

Hasilnya, LRT Jabodebek (Jakarta Bogor Depok Bekasi) telah mengandung konten lokal atau yang biasa disebut tingkat komonen dalam negeri (TKDN) hingga 60 persen. Pada Selasa (8/10/2019) telah dilakukan pengiriman kereta LRT dari pabrik INKA di Madiun menuju Cibubur.

Menarik ketika Pemerintah fokus pada kandungan lokal moda transportasi massal kita. Penggunaan konten lokal tak sekedar menekan biaya produksi, namun juga terbukti menggerakkan kegiatan ekonomi baru.

Muncul produsen-produsen baru yang membuat komponen kendaraan. Itu artinya, lapangan pekerjaan terbuka. Penataan transportasi massal pun membawa efek domino untuk ekonomi kerakyatan.

Setelah lima tahun sukses menghadirkan transportasi massal perkotaan dan konektivitas antarpulau melalui tol laut dan udara, kini saatnya Pemerintah turut campur menata moda transportasi massal di daerah.

Kebijakan riil Pemerintah dinantikan untuk menggairahkan kembali moda transportasi massal di daerah yang ibarat hidup segan mati tak mau. Kebijakan penggunaan komponen lokal bisa menjadi pijakan untuk memacu konektivitas untuk pemerataan pembangunan.

Pemerataan konektivitas transportasi bakal menciptakan efisiensi. Biaya distribusi barang semakin murah. Dengan tumbuhnya transportasi massal, penggunaan kendaraan pribadi diharapkan berkurang. Hal ini selaras dengan upaya menekan kemacetan hingga mengurangi polusi udara.

Bus dan angkutan umum dengan tampilan dan layanan modern perlu diperluas hingga daerah. Kendaraan umum dengan sumber bahan bakar ramah lingkungan seperti bahan bakar gas sudah saatnya dikenalkan hingga ke daerah.

Dengan penggunaan komponen lokal dan sistem layanan, serta armada yang modern, maka transportasi yang berdikari bakal terwujud. Masyarakat tentu menanti pilihan yang bakal ditawarkan.

Jika itu terwujud, bisa jadi nanti garasi rumah benar-benar kosong dari kendaraan pribadi. Semoga.... 



omonganem transportasi





Referensi :
“Transportasi Berbasis Kereta Harus Banyak Serap Komponen IKM Lokal”. www.bumn.go.id. diterbitkan 26 Maret 2018.
“Fakta-faka terbaru LRT Jabodebek, Termasuk tarif Rp 12.000”. www.merdeka.com. 15 Oktober 2019.
“Kemenhub Kaji Transportasi Baru Bernama O-Bahn”, www.kompas.com, terbit Jumat 28 Juni 2019.

Kamis, 31 Oktober 2019

Taman Celosia, Bandungan Mini di Pinggiran Kudus


DI pinggiran selatan Kabupaten Kudus, ada tempat wisata baru yang tengah menjadi hits sebulan terakhir. Taman Celosia namanya. Tak begitu luas taman bunga ceolosia di Desa Jati Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus ini.

Mungkin karena warna-warni Celosia cocok untuk tempat ber-selfie ria, taman ini pun ramai dikunjungi. Terutama muda-mudi yang berburu konten instastory.

Datang lah pada Minggu pagi. Jalan depan taman ramaai bak pasar tumpah. Banyak pedagang aneka makanan jadul di tempat ini.

Panas terik tak menyurutkan niat Murtiningsih (46) dan anaknya Devinda Elsa (18) untuk berpose di tengah taman bunga Celosia. Setelah berjalan di tengah taman bunga warna-warni itu, Devinda minta ibunya memotret menggunakan telepon genggamnya.

Dalam hitungan ketiga, Murtiningsih mengabadikan foto anaknya di tengah hamparan celosia yang ditanam di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Belum puas, Devina mengajak ibunya ke jembatan bambu di tengah taman.

“Foto di sana lagi Ma, kelihatannya bagus,” ujar Devinda ke ibunya.

Murtiningsih menuruti kemauan anaknya. Jauh-jauh datang dari Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, ibu dan anak itu ingin memiliki banyak koleksi foto di taman bunga yang sedang viral di Kabupaten Kudus itu.

“Kemarin teman-teman di kantor pamer foto di taman bunga ini. Hari ini (kemarin – Red) saya ajak anak untuk melihat ke sini. Ternyata memang bagus tempatnya,” kata Murtiningsih yang hari itu datang ke taman sekitar pukul 11.00.

Taman bunga seluas sekitar satu hektare itu berada di tanah banda desa Jati Kulon. Lokasinya berada di ujung barat kampung, berbatasan dengan areal persawahan. Di bagian pintu masuk, pengunjung disambut deretan kios pasar desa yang menjual aneka buah dan sayuran.

Buah dan sayuran seperti semangka, blewah, kacang panjang, hingga tomat itu merupakan hasil bumi Desa Jati Kulon. Taman Celosia ini melengkapi “kampung lampion” yang sudah lebih dulu dikembangkan di Jati Kulon.

Berawal dari Pasar Desa

Taman bunga celosia itu digagas Kepala Desa Jati Kulon Sugeng Prasetyo (60). Taman bunga itu sebelumnya dibuat sebagai pelengkap pasar desa. Setelah pasar yang didanai Rp 50 juta dari dana desa itu jadi, Sugeng berinisiatif membuat taman bunga di belakangnya.

Pasar desa itu menjadi program inovasi yang dikembangkan Pemerintah Desa Jati Kulon. “Tahun ini kami membuat inovasi kampung sayur dan pasar desa. Tapi ternyata taman bunga ini yang justru viral di media sosial,” katanya.

Baru-baru ini, ada pengunjung dari Rembang dan Lasem yang jauh datang karena penasaran melihat unggahan foto di media sosial. Taman bunga celosia itu pun mendadak jadi destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus.

Di Hari Minggu, jumlah pengunjung tembus hingga 100 orang. Hari biasa pengunjung rata-rata 30 orang – 50 orang. Setiap Minggu pagi, jumlah pengunjung melonjak. Selain menikmati warna-warni celosia, pengunjung bisa mencicipi aneka penganan tradisional seperti nasi jagung, sop besusul, dan kuluban lembayung (daun kacang tolo – Red)

Pengunjung dari luar desa dikenai tiket masuk sebesar Rp 10 ribu per orang. Uang hasil penjualan tiket itu digunakan untuk biaya operasional taman.

Maklum, bunga celosia berwarna merah, kuning, dan merah jambu itu hanya bisa bertahan empat sampai lima bulan. Agar terus ada celosia di taman itu, pengelola pun harus rajin menyemai bunga dan melakukan tambal sulam tanaman yang mulai layu.

Semai Sendiri

Dibalik semarak warna-warni bunga celosia Jati Kulon, ada kerja keras sekitar 15 orang pengelola yang dipimpin langsung oleh Sugeng. Untuk mewujudkan taman bunga, Sugeng membeli lima bungkus biji celosia via lapak online. Satu bungkus berisi sekitar 200 biji bunga. “Karena saat itu minim pengetahuan, penyemaian gagal total,” katanya.

Sugeng kembali berjumpa celosia saat mengajak ibu-ibu PKK dan tokoh masyarakat studi banding pengelolaan wisata ke Dieng. Saat berkunjung itu, ia melihat ada celosia tumbuh subur di pekarangan salah satu rumah warga Dieng.

Setelah bertanya cara menanamnya, Ia dan Eruni (58), istrinya, meminta tiga bunga untuk dibawa pulang. Berbekal ilmu dari Dieng itulah, Eruni mulai menyemai biji celosia. “Dari tiga bunga itu, kami berhasil menyemai 10 ribu bunga,” katanya.

Bunga sebanyak itu tak cukup untuk ditaman di lahan yang ada. Sisa bunga pun dibagikan gratis ke pungunjung yang datang. Tak sulit merawat celosia. Bermodal sumur pantek untuk lahan pertanian, taman disiram dua kali sehari.
Taman Celosia Jati Kulon Kudus
Petani tak protes karena mereka bisa menjual hasil buah dan sayuran di pasar desa. Saat panen tomat baru-baru ini, Sugeng mengundang pelajar untuk panen tomat, untuk menambah pendapatan petani. Sugeng bermimpi menjadikan Jati Kulon sebagai destinasi agro wisata.

“Semacam Bandungan mini di Kudus. Petani bisa menjual langsung buah dan sayuran hasil pertanian di pasar desa. Semarak warna-warni celosia ini sebagai daya tarik utama untuk menarik wisatawan,” katanya.

Jepang Corner

Untuk menarik lebih banyak wisatawan, bapak dua anak bersama tim pengelola kini mengagagas “Jepang Corner” di salah satu sudut taman celosia. Di tempat itu akan dibangun rumah mini ala Jepang, lengkap dengan persewaan kimono.

“Semoga bisa terealisasi dalam waktu dekat. Jika berhasil akan kami rintis sebagai unit usaha BUMDes (Badan Usaha Milik Desa – Red) di Jati Kulon,” katanya.

Kehadiran taman celosia ini disebut Plt Bupati Kudus Hartopo sebagai langkah nyata inovasi pengembangan ekonomi warga berbasis masyarakat desa. Kehadiran pasar desa membuat petani lokal memiliki tempat berjualan hasil bumi.



Minggu, 20 Oktober 2019

Asas Kekeluargaan, Daya Tarik Koperasi Zaman Now

Anggota Koptasku berdiskusi di kantor koperasi

BAGI yang besar di awal 90-an, tentu mengenal betul organisasi ekonomi di tingkat desa ini. Namanya KUD. Koperasi Unit Desa, begitu kepanjangannya. Koperasi ini ada di setiap desa.

KUD menjadi “rumah” bagi para petani. Ibarat keluarga yang semua kebutuhannya tercukupi di rumah itu. Kebutuhan pupuk hingga obat-obatan untuk tanaman tersedia di KUD. Bagi petani yang cekak modal, KUD adalah solusinya. Mereka bisa mengajukan pinjaman pupuk atau obat hama, dibayar ketika panen tiba.

Tak berhenti di situ, KUD melebarkan unit usaha mulai membuka toko kelontong, jasa foto copy, hingga pembayaran rekening listrik. Setidaknya itu yang ada di ingatan saya tentang KUD. Saya menjadi saksi betapa sibuknya pengurus KUD kala itu. Setiap awal bulan, saya pasti antre membayar rekening di KUD.

Tapi itu cerita lama. Sekarang, jejak kebesaran KUD nyaris susah dilacak. Entah karena salah urus, atau dukungan kebijakan pemerintah yang kurang, KUD pelan tapi pasti bergerak mundur hingga gulung tikar.

Setelah KUD bangkrut, koperasi simpan pinjam tumbuh subur menjangkau warga di pelosok desa. Mereka menyediakan kemudahan pinjaman, tapi dengan bunga yang amit-amit. Karena tak ada pilihan lain, warga kampung yang butuh dana segar “lari” ke koperasi ini.

Sulit menemukan organisasi koperasi yang menurut definisinya yakni perserikatan yang bertujuan memenuhi keperluan anggotanya, dengan cara menjual barang keperluan sehari-hari dengan harga murah. Begitu definisi koperasi yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, jumlah koperasi aktif di Indonesia per 31 Desember 2018 sebanyak 126.343 koperasi. Dari jumlah itu, terbanyak terdapat di Jawa Timur, sebanyak 24.024 koperasi.

Total jumlah anggota yang berkecimpung di koperasi mencapai 20.049.995 orang. Jika ditotal, volume usaha mencapai Rp 145,862 triliun lebih. Modal sendiri yang dihimpun mencapai Rp 74,904 triliun lebih, sisanya modal dari luar sebanyak Rp 66,222 triliun lebih. Sisa Hasil Usaha yang tercatat lebih dari Rp 6,112 triliun.

Angka yang cukup fantastis sebagai penggerak ekonomi di zaman now. Setelah kangen melihat koperasi sebagai organisasi ekonomi yang memegang teguh prinsip dari, oleh, dan untuk anggotanya, saya kembali menemukannya saat sedang beburu tas dalam jumlah banyak.

Berjumpa Koptasku

Sebagai warga Kota Kretek yang dekat dengan internet, menjelajah dunia maya menjadi pilihan pertama saya mencari sesuatu. Semua berawal dari informasi di dunia maya. Ketika mencari informasi produsen tas di Kota Kudus melalui layar ponsel, pandangan saya berhenti di website Koptasku.

Tertarik dengan salah satu produknya, saya pun meluncur ke lokasi. Sampai akhirnya saya bertemu dengan anggota Koperasi Tas Kurma (Koptasku) di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Menarik. Koptasku menjadi “rumah” bersama bagi pelaku usaha kerajinan tas dan dompet di Desa Loram Wetan dan sekitarnya. Seperti dejavu. Seketika memori saya kembali ke era 90-an saat mengenal KUD yang melegenda itu. Kali ini dalam bentuk lain.

Di Kudus, usaha tas berkembang pesat di Desa Loram Wetan, Loram Kulon, dan Getas Pejaten. Di tiga desa tersebut, sudah bermunculan pengusaha besar dengan jaringan pemasaran hingga berbagai daerah di Indonesia.

Namun, banyak perajin tas yang masih kesulitan menembus pasar atau sekedar meningkatkan kualitas produksi. Mereka biasanya perajin baru. Keterbatasan modal menjadi penyebab utamanya. Lewat Koperasi Tas Kurma ini lah, persoalan ketersediaan bahan baku diatasi.

Untuk meningkatkan kualitas, mereka tak segan saling memberikan masukan terkait produk masing-masing. Uniknya lagi, para anggota bisa memperluas jaringan pemasaran melalui koperasi tersebut. Salah satunya melalui fasilitasi pameran yang digelar oleh pemerintah daerah dan website.

Dari website dan pameran itu lah jejaring usaha dibentuk. Tak sedikit order yang datang dari dua pintu tersebut.

Aneka tas produksi perajin anggota Koperasi Tas Kurma (koptasku) 
Dari jumlah anggota sebanyak 21 perajin saat dirintis akhir 2014, jumlah anggota kini bertambah menjadi 39 orang perajin. Mereka membuat aturan untuk melahirkan persaingan yang sehat antar perajin.

Salah satunya dengan mewajibkan setiap anggota membuat desain sendiri tas produknya. Para pengurus dan anggota lainnya akan memberi masukan bagian mana yang harus diperbaiki. Setelah disetujui, tas perajin akan dilabeli dengan merek Cintek.

Cintek merupakan merek bersama, kepanjangan dari Centra Industri Tas Kudus. Setiap tas diberi kode sendiri. Saat ada pesanan untuk tas kode tertentu, koperasi pun tau siapa yang membuatnya.

Dengan aktif di koperasi, para anggota yang rata-rata masih berusia muda mampu menekan biaya produksi. Misalnya dalam pembelian bahan baku. Karena jumlah anggota banyak, koperasi membeli bahan baku dalam jumlah banyak. Harganya pun lebih murah, ketimbang jika para perajin membeli bahan baku sendiri-sendiri.

Selain memasok tas ke koperasi, perajin juga dibebaskan menjual tas produksinya ke pedagang secara langsung. Dengan catatan, desain untuk dijual ke pedagang harus berbeda dengan model yang dijual melalui koperasi.

Koperasi Tas Kurma menjadi bukti kontribusi koperasi zaman now terhadap kesejahteraan bangsa. Koperasi selalu relevan dengan zaman. Bahkan teknologi digital berjasa besar mengenalkan koperasi ke dunia luas. Hingga akhirnya, mampu memberi manfaat bagi anggotanya.

Koperasi ini membuktikan mewujudkan mimpi bersama melalui koperasi bukan hal yang mustahil. Mereka yakin, koperasi sebagai sebuah organisasi ekonomi yang berdasarkan asas kekeluargaan adalah nilai plus di era yang serba cepat ini.

Ibarat rumah tempat berkumpulnya keluarga. Tidak ada atasan atau bawahan. Koperasi dibangun untuk kepentingan bersama. Persis seperti pesan Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia. Pendamping Bung Karno di awal kemerdekaan RI ini pernah berkata :

“Dasar Kekeluargaan itu lah dasar hubungan istimewa pada koperasi. Di sini tidak ada majikan dan buruh, melainkan usaha bersama di antara mereka yang sama kepentingan dan tujuannya,”.

Berkaca dari kondisi sosial zaman kekinian, kekeluargaan dan kesetaraan bakal menjadi dua aspek daya tarik koperasi zaman now. Di tangan milenial, koperasi tentu akan bertransformasi menjadi bentuk yang lebih segar, namun tetap memegang prinsip dan asas koperasi.

Bukankah di Indonesia, sejarah dan tren selalu saja berulang?





Referensi :
-depkop.go.id/data-koperasi
-https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/07/25/berapa-jumlah-koperasi-di-indonesia
-Hatta Jejak Yang Melampaui Zaman, Seri Buku Saku Tempo Bapak Bangsa

Jumat, 18 Oktober 2019

Inilah “Nganten Mubeng”, Tradisi Pengantin Baru di Masjid Wali

omonganem.com nganten mubeng

MENIKAH bagi warga Desa Loram Kulon tak cukup hanya dengan prosesi akad dan pesta akbar. Ada ritual yang pantang untuk ditinggalkan. Namanya “Nganten Mubeng”. Tradisi ini turun temurun dilestarikan oleh warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.
Nganten berarti pengantin. Pasangan muda-mudi yang baru mengikrarkan janji sehidup semati. Mubeng berarti berkeliling. Singkatnya, nganten mubeng berarti tradisi yang dilakukan oleh pengantin baru dengan berjalan berkeliling.

Apa yang dikelilingi?

Siang itu cuaca panas terik. Jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB. Empat jam sebelumnya, Budi Santoso (26) mengikat janji suci mempersunting Linda Agustin (23). Budi tinggal bersama keluarganya di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati. Sementara Linda berdomisili di Desa Sunggingan, Kecamatan Kota.

Usai akad nikah sah di depan penghulu, ayah Budi mengingatkan tradisi turun-temurun keluarganya yang berasal dari Loram Kulon. Ya, Nganten Mubeng.

Setelah urusan prosesi akad rampung, tetamu beranjak pulang, Budi dan Linda ditemani keluarganya meluncur ke Masjid At Taqwa Desa Loram Kulon. Gaun putih tebal membuat Linda kegerahan. Keringat mengucur dari keningnya.

Meski panas siang itu terasa menyiksa, Linda menuruti suaminya untuk menjalani tradisi nganten mubeng. Digandeng Budi, Linda berjalan mengelilingi gapura kuno yang berada persis di depan Masjid Wali, sebutan beken Masjid At Taqwa.

Dipandu Afroh Aminuddin, juru pelihara gapura kuno, keduanya berjalan mengitari gapura kuno yang berdiri gagah di depaan masjid. Satu kali putaran rampung, keduanya kemudian berfoto mengabadikan hari bersejarah itu.

“Alhamdulilla lancar,” kata Budi sembari tersenyum kepada keluarganya yang menjadi saksi ritual tersebut.

Nganten mubeng adalah tradisi berjalan mengitari gapura kuno di depan Masjid Wali Loram Kulon yang masih lestari hingga kini. Tradisi itu dijalani oleh pasangan pengantin warga maupun keturunan dari Desa Loram Kulon.

Meski, Linda dan Budi bukan warga asli Loram Kulon, keduanya memegang teguh tradisi keluarga. Jika dirunut, kakek Budi asli Loram Kulon. Memiliki darah dari penduduk desa itu, Budi pun tak ingin meninggalkan tradisi leluhurnya.

Menurut Afroh Aminuddin, tidak hanya pasangan asli Loram Kulon saja yang masih menjalani tradisi ini. Banyak keturunan warga yang kini tinggal di luar desa maupun luar daerah yang tetap menjalankannya.

Baru-baru ini bahkan ada pasangan dari Purwokerto yang datang dengan menyewa bus, khusus untuk menjalani tradisi ini. Setelah ditanya, salah satu di antaranya masih keturunan warga Desa Loram Kulo.

Banyak mitos yang berkembang. Jika warga keturunan Loram Kulon tidak menjalani ritual ini. Mulai dari keluarganya tidak tentram, terkena penyakit aneh, hingga sulit mempunyai keturunan. Afroh enggan mengomentari mitos yang berkembang itu.

Terlepas itu mitos atau bagaimana, dia menyerahkan sepenuhnya pada niat masing-masing yang menjalaninya. “Yang penting niatnya baik,” kata Afroh.

Tradisi nganten mubeng tetap dilestarikan selain karena selain peninggalan leluhur, juga diyakini memiliki nilai-nilai moral. Tradisi itu menanamkan pentingnya kesetiaan dan peran suami sebagai pemimpin keluarga. Itu disimbolkan dengan menggandeng pasangannya keliling gapura.

Tradisi itu diyakini sudah ada sejak era Sultan Hadlirin menyebarkan Islam di wilayah Loram Kulon. Menurut catatan, gapura itu dibangun tahun 1596. Setahun kemudian, masjid di sebalah barat gapura dibangun.

Pembangunan gapura yang lebih dulu, lanjut Afroh, menjadi siasat Sultan Hadlirin dalam menyebarkan Islam di wilayah yang mayoritas warganya saat itu memeluk agama Hindu. Sekilas, gapura itu bentuknya mirip dengan pura. Mungkin karena itu lah, Islam dulu lebih mudah diterima di tempat itu.

Sayang, bangunan Masjid Wali kini sudah tidak lagi sebagaimana bentuk aslinya. Bangunan masjid dipugar dengan bentuk arsitektur yang modern tahun 1990. Gapura sempat dipugar tahun 1996. Namun karena yang memugar adalah Pemerintah Pusat, keaslian bentuknya dipertahankan.

Gapura Masjid Wali At Taqwa kini sudah tercatat sebagai situs benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang. Desa Loram juga telah ditetapkan menjadi desa wisata oleh Pemkab Kudus.



Minggu, 08 September 2019

KPAI Jangan Tanggung-Tanggung



Peringatan hari olahraga nasional 9 September tahun ini terasa sangat Istimewa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan kado termanisnya untuk pecinta bulu tangkis Indonesia.

Apalagi kalau bukan “kekalahan” Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum Kudus yang akhirnya memutuskan mengakhiri audisi umum beasiswa bulu tangkis tahun ini. Pengumuman penghentian audisi umum beasiswa bulu tangkis oleh Djarum jadi headline di mana-mana

Bisa jadi, final Audisi di Kudus 20-22 November 2019 menjadi akhir dari audisi umum beasiswa bulu tangkis PB Djarum yang bergulir sejak 2006.

1-0 untuk KPAI.

Lantas, apakah Djarum benar-benar akan “pamit” dari dunia bulu tangkis? Tenang saja. orang-orang klub Djarum tidak secetek itu. Mereka orang-orang bermental kuat. Sudah kenyang kalah menang di lapangan tepok bulu.

Saya yakin, mereka orang-orang yang tulus mengembangkan bulu tangkis. Menyalakan api semangat bulu tangkis ke pelosok negeri, begitu istilah Program Direktur Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin pada suatu kesempatan.

Sebagai warga aseli Kudus yang memantau audisi sejak 2014, saya yakin PB Djarum tetap akan ngopeni atlet-atletnya.

Jadi.. KPAI Tenang saja.... Kalian sudah bekerja dengan baik.

Urusan pembinaan olahraga sejatinya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Syukur-syukur KPAI mau buat sekolah pembinaan olahraga featuring yayasan Lentera. Apalagi KPAI adalah sekumpulan orang yang paling paham tentang anak-anak agar tidak tereksploitasi. Pasti punya metode dan kurikulum yang lebih pro-anak.

KPAI tenang saja... Kalian sudah bekerja dengan baik.

PB Djarum punya banyak metode merekrut atlet. Selain dari audisi umum, mereka rajin memantau talenta-talenta muda berbakat lewat kejuaraan. Istilah PB Djarum rekrut atlet via “Audisi Khusus”.

Jika dirunut sejak 2006, siapa sih atlet PB Djarum yang sukses di level dunia, yang betul-betul lahir dari audisi umum? Paling cuma Kevin Sanjaya Sukamulyo seorang. Untuk saat ini.

Dari ribuan atlet yang mendaftar audisi umum dari berbagai pelosok daerah, yang betul-betul keterima sampai tahap karantina rata-rata 40-an anak. Yang diterima di tahap selanjutnya, rata-rata tak lebih 24 orang...!

Kemana mereka yang lain. Tenang KPAI, di Indonesia banyak klub bulu tangkis besar lainnya.

Lim Swie King, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Ivana Lie juga bukan jebolan audisi umum. Toh mereka kini jadi legenda bulu tangkis Indonesia asal Klub Djarum Kudus.

Sekali lagi. Jika membaca berita-berita yang beredar, yang dihentikan itu audisi umum. Jika tiba-tiba Djarum “pamit” dari bulu tangkis, itu baru geger. Ada apa dengan Djarum?

KPAI tenang saja... Kerja jangan tanggung-tanggung...!

Jangan berhenti hanya menyoroti audisi umum saja. itu kejuaraan-kejuaraan daerah sampai sekelas sirkuit nasional (sirnas) bulu tangkis banyak disokong Djarum. Sapu saja semua. Bersihkan olahraga dari branding perusahaan pengolah tembakau.

KPAI tenang saja... Kerja jangan tanggung-tanggung...!

Infonya Djarum juga peduli dengan pendidikan. Googling saja. Berapa sekolah yang sudah dibangun, difasilitasi, didampingi. Sebagian lulusan SMK “binaan” Djarum kini sudah merintis kerja di luar negeri. Ada yang kerja di kapal pesiar, koki hotel, hingga desainer. Bayarannya gede. Orang tua mereka bangga bukan main.

Jangan tanggung-tanggung dong KPAI....!

Tau kan program penghijauan Pantura yang diekspose besar-besaran di media cetak, online, hingga televisi. Bahaya lho...! anak-anak kita menghirup udara dari pohon yang ditanam perusahaan rokok. eh..

KPAI jangan tanggung-tanggung...!

Emang hanya bulu tangkis saja yang menikmati manisnya duit rokok. Kita sedang bahas anak-anak kan? Bersihin semua... Bersihin...!


.