Wednesday, June 20, 2018

8 Kedai Kopi Enak Yang Bikin Betah Nongkrong Syantik di Kudus

sumber IG Kopithong

Anda pecinta kopi? Tapi bukan kopi instan lho. Ngopi yang benar-benar kopi yang diseduh dari biji kopi pilihan. Jika iya dan pas kebetulan mampir di Kudus, berikut rekomendasi 8 kedai kopi enak di Kudus.

Selain menyediakan kopi enak dari biji kopi pilihan, pecinta kopi juga bisa nongkrong dan foto syantik untuk menambah koleksi foto di akun instagramnya. Yang menarik, sebagian besar kedai kopi di Kudus akan merekomendasikan kamu untu mencicipi kopi Muria.

Kopi yang diambil dari para petani kopi di Lereng Muria. Sejak para barista Kudus mengangkat potensi kopi muria, mereka berkomitmen untuk menjadikan kopi muria naik kelas. Dari sekedar dijual saat panen, kopi muria sudah hadir di cangkir-cangkir kedai ternama di Kudus.

Oia. Kamu juga bisa membawa pulang oleh-oleh biji kopi yang sudah di-roasting oleh barista kedai berikut. Nah.. ini lah 8 kedai kopi enak rekomendasi omonganem.com bagi anda pecinta kopi yang sedang dolan di Kudus.

1. Kopithong

sumber : IG Kopithong
Coffee house yang satu ini termasuk pioner kedai kopi di Kabupaten Kudus. Menjadikan kopi muria sebagai menu kopi andalan, Kopithong berhasil mengangkat kopi Muria naik kelas. Jika sebelumnya biji kopi hasil panenan petani di lereng Muria langsung dijual ke pedagang, kini kopi riibusta dari muria telah menjadi menu kopi yang banyak dicari pecinta kopi.

Sang barista juga rajin mengenalkan kopi Muria ke berbagai event kopi di luar daerah. Kopithong menjadi Coffe house, sekaligus Brewing class, dan Roastry. Lokasinya di tengah Kota Kudus. Cari aja di google map-mu, arahkan ke Jalan Dr Ramelan Nomor 19 B Kudus.

Kopithong buka setiap Selasa- Minggu pukul 17.00-23.00 WIB. Yang menarik, Kopithong baru saja merilis menu baru yakni Thongcold, varian minuman dingin praktis langsung diminum. Varianya macem-macem mulai black coffee, cafe’ latte, mochaccino, choclatte, frappe’s, grass drink.

Grass dring diolah dari lemon grass, ginger (jahe), lemon, gula, dan air. Thongcold adalah minuman siap saji, karena sudah dikemas dalam botol yang unik. Minuman dingin ini menjadi incaran pecinta kopi sejak dirilis.

Selain ngopi, coba lah pesan menu kuliner ala resto besar hasil kreasi pemilik kedai.

Thongcold. sumber : IG Kopithong

2. No 8 Coffee

Kafe yang satu ini semula merupakan warung milik ibunya si pemilik. Sejak disulap menjadi coffe shop, no 8 coffe menjadi salah satu rujukan tempat nongkrong ngopi syantik di Kudus. Kafe ini buka setiap Senin – Sabtu mulai jam 08.30 – 21.00, Jumat jam 13.00 -18.00, dan Minggu 10.00 – 18.00.

Lokasinya berada di Jalan Menur Nomor 8 Kudus. Mengangkat tema roasting rumahan, No 8 Coffe menjadikan kafe selayaknya ngopi di rumah. Selain ngopi di tempat, coffee shop ini juga menyediakan kopi biji dalam kemasan kecil mulai 100 gram dan juga 200 gram. 

Meski tempatnya hanya warung kecil sederhana, kedai yang satu ini kerap ramai dikunjungi muda-mudi yang gemar menyeruput kopi sembari nongkrong berbincang hangat. Kedai ini juga rajin menggelar kelas menyeduh kopi. Cek instagramnya untuk memantau kapan mereka menggelar event menarik tersebut.

sumber : IG No 8 Coffee

3. Sidji Coffee


Sidji Coffe memiliki dua kedai kopi. Dua-duanya instagramable banget. Tempatnya "cozy" dengan menu cemilan yang enak-enak. Kedai yang pertama di Jalan HM Subchan ZE Nomor 42 Janggalan. Satunya lagi di Jalan Mulya belakang kantor DPRD Kudus

Selain menikmati seduhan kopi yang nikmat, di kedai ini juga ada cemilan dan roti yang sayang jika dilewatkan. Untuk rekomendasi, coba pesan muffin dengan berbagai variasi rasa ala Sidji Coffee.  

sumber : IG Sidji Coffee

4. Kopi Kritink Premium (Kritink Restro)


Lokasinya berada di Jalan Tit Sudono (Gang 4) nomor 302 Kudus. Buka setiap hari mulai jam 12.00-24.00. Selain menyediakan kopi “giling” yang nikmat, tempat nongkrongnya juga luas. Selain itu banyak menu makanan ala resto yang siap menemani kamu ngopi di sini. 

Selain itu, lokasinya juga instagramable banget. Bonus lah bagi yang suka narsis di akun instagram. Bisa ngopi dan makan kenyang, sekaligus foto syantik buat instagramnya. Spageti ala Kritink Resto layak dicoba saat mampir ke tempat ini.

sumber : IG Kriting Resto

5. Wajik Coffee RSTRY


Wajik berada di pusat kuliner Taman Bojana Kudus. Lokasinya tepat di jantung kota, Alun-alun Kota Kudus. tempat nongrong yang mengangkat tema home coffe industry ini buka buka setiap hari sampai pukul 22.00 WIB. Khusus Lebaran tahun ini Wajik buka mulai pukul 16.00 – 22.00

Di Wajik, ada berbagai macam varian kopi Muria dan kopi pilihan dari daerah lain. Ngopi di sini paling nikmat ditemani donat yang juga disediakan sang pemilik kedai. Wajik juga menyediakan biji kopi kemasan yang diroasting sendiri oleh pemilih kedai. 

Meski tempatnya mungil, kedai ini juga menjadi favorit tempat nongkrong anak muda di Kudus. Oia, wajik juga menjual kopi kemasan hasil roasting sendiri. Jadi, kamu-kamu bisa menyeduh sendiri kopi Wajik di rumah.

sumber : IG Wajik Coffee

6. TKP Coffee House

Kedai kopi yang satu ini berada di Jalan HOC Cokroaminoto No 30 Mlati Lor Kudus. Selain menyediakan kopi, kedai ini juga menyediakan berbagai menu makanan yang menggoda selera. 

Di kedai ini, para penikmat kopi juga bisa ngopi syantik di balkon TKP Coffe House yang dijamin membuat betah berlama-lama menyeruput kopi. 

sumber : IG TKP Coffee House

7. Banaran 9 Resto coffee dan Tea Kudus


Lokasinya berada di pinggir jalan Pantura Jendral Sudirman Nomor 285 Rendeng Kudus. Kedai dan resto yang berkonsep klasik ini bakal membuat betah pengunjungnya.

Kedai milik PTPN ini menghadirkan konsep tempo dulu. Kedainya memanfaatkan bangunan peninggalan Belanda yang masih satu areal dengan Pabrik Gula (PG) Rendeng. Di Kedai ini juga ada fasilitas paintball bagi yang suka olahraga tembak-menembak.

sumber : IG Banaran 9 Resto
sumber : IG Banaran 9 Resto

8. Kopi Cilik


Kedai yang menyebut dirinya tukang sangrai lokalan ini berada di Jalan Kyai Telingsing 96/380 Sunggingan Kudus. Buka setiap hari mulai pukul 10.00-22.00 WIB. Selain menyeruput kopi, pecinta kopi juga bisa belajar meyeduh kopi, atau memborong perkakas kopi.

sumber : IG Kopi Cilik








Monday, June 18, 2018

2 Event Syawalan Terbesar di Kudus Yang Wajib Dukunjungi




Setiap perayaan Lebaran, masyarakat di Kabupaten Kudus memiliki perayaan Syawalan yang digelar pada H+7 Idul Fitri. Ada dua event Syawalan terbesar yang selalu digelar setiap tahun, yaitu Parade atau kirab sewu kupat dan tradisi Bulusan.


1. Sewu Kupat


Tradisi Sewu Kupat digelar di lereng Gunung Muria tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Tradisi ini digelar pada H+7 Idul Fitri.

Parade Sewu Kupat dimulai sejak tahun 2008. Meski baru digelar sembilan kali, tahun ini ke sepuluh, tradisi ini selalu ramai pengunjung. Angka sewu atau seribu adalah simbol gotong royong masyarakat di lereng Muria.

Tradisi ini dimulai dengan ziarah ke makam Sunan Muria yang dilanjutkan dengan minum air dan membasuk kaki, tangan, dan wajah, dari air yang berada di gentong peninggalan Sunan Muria.

Setelah ritual itu rampung, masyarakat lantas mengarak sebanyak 18 gunungan yang berasal dari 18 desa di Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Gunungan berisi kupat dan aneka hasil bumi. Pusat keramaian berada di Taman Ria Colo. 

Puncak tradisi ini adalah ketika masyarakat saling berebut isi gunungan, dilanjutkan makan bersama oleh seluruh masyarakat, pengunjung, dan pejabat yang hadir. Suasana guyub di bulan Syawal menjadi inti parade sewu kupat ini.


2. Tradisi Bulusan 



Tradisi Bulusan yang ditandai dengan kirab festival budaya digelar Jumat, 22 Juni 2018. Namun, keramaian tradisi Bulusan sudah berlangsung sejak seminggu sebelumnya.


Lokasi tradisi ini berada di Desa Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Keramaian pasar malamnya mengular hingga jalur Pantura. Pemudik yang melintas di jalur Pantura timur Kabupaten Kudus wajib waspada.

Tradisi bulusan tahun ini ditandai dengan upacara pembukaan pada Kamis, 21 Juni 2018. Panitia menggelar lomba rebana se-Kabupaten Kudus, pentas seni anak, selamatan dan maulid di kompleks kolam Bulusan.

Puncaknya pada hari Jumat, akan digelar kirab festival budaya bulusan. Start kirab akan dimulai di SD 4 Hadipolo. Rombogan akan mengarak gunungan menuju kompleks kolam Bulusan.

Panitia juga akan menggelar wayang kulit, pentas budaya, dan musik akustik untuk meramaian tradisi tahunan tersebut.

Tradisi Bulusan tak lepas dari sosok Mbah Dudo, yang diyakini sebagai seorang alim cikal bakal Dusun Sumber. Banyak versi cerita ihwal asal muasal tradisi Bulusan. Menurut Sirajudin, juru kunci makam dan punden Mbah Dudo, tradisi itu tak lepas dari cerita turun temurun yang mengaitkan Mbah Dudo dan santrinya, dengan Sunan Muria.

Cerita singkatnya, Mbah Dudo memiliki dua orang santri Umara dan Umari. Pada Bulan Ramadan keduanya lembur “ndaut” mencabuti bibit padi hingga malam hari. Pada malam peringatan Nuzulul Quran, Sunan Muria datang hendak menyebarkan Islam.

Mendengar bunyi “kecipak-kecipik” Umara dan Umari yang mencabuti bibit padi, Sunan Muria pun berujar. “Malam Nuzulul Quran tidak mengaji kok malah berendam di sawah seperti bulus saja,”

Syahdan, keduanya pun berubah menjadi bulus. Melihat kejadian itu, Mbah Dudo pun datang meminta maaf atas kesalahan kedua santrinya. Sayang, semua sudah terjadi. Sunan Muria yang membawa tongkat kayu “adem ati” kemudian menancapkannya ke tanah dan muncul sumber.

Sunan pun berujar, kelak akan banyak warga keturunan yang mendatangi sumber itu untuk menghormati bulus tersebut. Sumber itu lah yang saat ini diyakini sebagai Sumber Bulusan tepat di sebelag punden Mbah Dudo.

Versi lain menyebutkan, bulus-bulus tersebut merupakan penjelmaan seorang alim dari Kerajaan Mataram bernama Subakhir (Mbah Dudo) dan pengikutnya. Mereka berubah menjadi bulus setelah Sunan Muria yang dalam sebuah perjalanan, menanyakan malam peringatan nuzulul quran bukannya mengaji malahan “kecipak-kecipik” di sawah mirip bulus.

Dari kisah turun temurun itu, Sunan Muria kembali melanjutkan perjalanan diikuti para bulus, penjelmaan Mbah Dudo dan para santrinya. Sunan beristirahat di sebuah gundukan tanah yang kini disebut warga sebagai Prasman.

Konon Sunan Muria tersenyum (bahasa lokal : mrasman) di tempat itu. Sunan kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan, hingga para kura-kura berhenti sebuah wilayah perbatasan. Mereka takut melanjutkan perjalanan karena sudah melewati batas wilayah orang.

Tempat itu yang kini disebut warga sebagai Togog. Sunan pun mengajak para bulus kembali ke utara. Tiba di suatu tempat, Sunan Muria menancapkan tongkat kayu “adem ati” miliknya, hingga keluar sumber yang kini dikenal sebagai Sumber Bulusan.

Terlepas dari benar tidaknya kisah itu, warga masih setiap melestarikan tradisi Bulusan. Tak hanya menjadi ajang mempererat silaturahmi warga, Tradisi tahunan itu menjadi kegiatan bernilai ekonomi tinggi.

Selain dua event besar tersebut, banyak event lain yang digelar pada perayaan Syawalan di Kudus. Pusat-pusat keramaian antara lain Pesta Lomban di Kesambi, tradisi Ndayung di Tanjungrejo, dan kupatan di Wonosoco dan Sendang Jodoh






Monday, June 11, 2018

222 Puisi Terbaru Jumari HS Panorama Senja



Lewat puisi, penyair buruh asal Kudus Jumari HS tak kesepian di usianya yang menginjak 53 tahun. Karyawan pabrik rokok terbesar di Kudus yang kerap melalang buana dengan puisi ini menyambut usia senjanya dengan menerbitkan antologi puisi “Panorama Senja”.


Panorama Senja merupakan kumpulan atau antologi puisi-puisinya yang mewarnai rubrik sastra media massa di Indonesia. Puisi itu dirangkai dalam sebuah antologi setebal 242 halaman ini.

Ada campur tanga penyair kondang asal Solo Sosiawan Leak dalam Panorama Senja. Antologi Panorama senja akan diluncurkan saat Jumari genap berusia 53 tahun, nanti pada 24 November. Mengapa Jumari tak ingin segera meluncurkan antologi puisi meski bukunya sudah terbit?

Dia punya alasan tersendiri.

Jumari kini tengah sibuk menuntaskan satu lagi antologi puisi-puisinya. Rencananya, buku antologi yang masih dirahasiakan judulnya itu akan diluncurkan bersamaan dengan Panorama Senja. Dua antologi puisi yang layak ditunggu.

Terkait campur tangan Leak, Penyair asal Solo itu tak hanya menjadi editor di Panorama Senja. Leak juga menjadi kurator puisi-puisi Jumari yang semuanya pernah terbit di media massa tersebut. Leak membagi 222 puisi Jumari ke dalam delapan bagian mulai Silhuet Jiwa, Notasi Hati, Relung Renung, Lirik Cinta, Tembang Cinta Sukma Cinta, Bisik Senja, dan Zikir Rindu.

Meski banyak mengumbar kata cinta, jangan harap mendapat cinta-cintaan ala puisi cinta. Di usia senjanya, Jumari mengupas cinta yang universal.

Tengok puisi Sajak Cinta yang secara khusus ditulisnya untuk sang istri tercinta (halaman 121)

Ia menulis

//Kupanggil gerimis di musim kemarau/Ia datang membawa kenang-kenangan tentang masa lalu/Saat kita menyatukan rindu dalam ombak/dan deburnya membuncahkan/Butiran cahaya di rulang rusukku//

//Kupanggil sunyi di puncak malam/ia hadir menyerupai beningnya air yang mengarus lirih ke telaga/Di mana kita pernah saling memandang di depan Tuhan/Dan bersama-sama mengucapkan Cinta//

//Aku tak akan melupakanmu/Aku sudah merasa cukup, kau wanita bagiku/Ijinkan aku menjadi tongkat di usia senjamu//

Panorama Senja banyak bercerita mengenai perjalanan hidup dan spiritual Jumari. Distorsi kematian dan kehidupan, surga, dan neraka, menjadi bumbu dalam setiap puisinya. Puisi “Isyarat Gigi” yang paling dekat dengan Jumari, sedekat ia dengan kematian yang nyaris merenggutnya.


//Di lidahku terasa ada Tuhan/Menghitung gigiku yang tinggal dua batang/Kematian itu menyapa rahasia, kata usia tiba-tiba/Wajahnya berkerut membayangkan ada yang hilang/Di belukar perjalanan//

Puisi yang ditulisnya Mei 2015 itu, lahir dari pengalaman Jumari melawan penyakit gigi yang hampir merenggut nyawanya.
Jumari HS dan Panorama Senja

Sosiawan Leak dalam pengantarnya menilai Jumari cenderung tidak peduli setelah puisi ia tulis, ia publikasikan, dan ia dokumentasikan ala kadarnya. Jumari juga cenderung bersikap kurang seimbang. Apakah puisi yang ditulisnya member manfaat secara khusus dan serius kepada pembacanya atau tidak.

Itu lah mengapa puisi-puisi yang ditulis Jumari lebih terkesan hal yang pribadi. Itu lah yang menjadi penyebab mengapa ia kerap mengangkat tema-tema yang dianggap remeh dan sederhana yang biasa dijumpai sehari-hari. Bukan tema besar atau berat, apalagi rumit yang membuat dahi berkerut.

Diksi dan pola ujarannya pun berasal dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Ia comot diksi polos itu, lantas dikocoknya dalam proses yang seolah sekenanya. Namun berdasarkan kepekaan dan rasa puitika yang unik khas Jumari.

Jik apun ada tema besar dengan perspektif yang seolah pelik, ujung-ujungnya tetaplah mendarat landai dan tenang dalam puisi-puisi Jumari. Hal itu justru menjadi kelebihan Jumari dalam puisinya.







Tuesday, March 20, 2018

Pasar di Kudus ini Tidak Menerima Uang Rupiah



KREATIFITAS memang menular. Setelah Temanggung punya pasar unik di kebun pring (bambu), pelaku UMKM di Kabupaten Kudus tak mau kalah. Mereka menggagas pasar tiban serupa. Tapi bukan di kebun bambu, melainkan di gang rumah warga.


Uang tidak laku dibelanjakan di pasar tiban duit bathok di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, yang hanya buka setiap Hari Minggu ini. Di pasar ini, duit bathok lah yang menjadi mata uang yang sah.

Namanya juga bathok. alat tukar khusus ini dibuat dari tempurung kelapa (bahasa Jawa Bathok). Dibuat berbentuk bundar, mirip uang koin. Satu keping duit bathok ditebus seharga Rp 5.000. Pengunjung bisa membeli duit bathok di pintu masuk pasar tiban.

Gang selebar sekitar empat meter yang biasanya sepi itu, mendadak berubah menjadi pasar tiban, setiap Minggu pagi. Puluhan pedagang menggelar aneka jajanan dan produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Pasar tiban duit bathok itu dibuka setiap Minggu mulai pukul 08.00 - 14.00 WIB. Pasar unik itu digagas pelaku UMKM yang tergabung dalam Forum Pengusaha Mandiri (FPM) Kabupaten Kudus.

Mereka sebelumnya menjual produknya via online. Tak puas hanya berjualan di dunia maya, mereka pun menggagas pasar tiban, dengan kemasan unik. Maskur, salah seorang penggagas Pasar Tiban mengatakan, sengaja menggunakan duit bathok sebagai alat tukar agar ada kesan tersendiri bagi para pengunjung.

Dengan duit bathok itu, pengunjung bisa bebas membeli produk yang dijajakan. Panitia menyediakan 500 keping duit batok pada dua kali digelarnya pasar tiban itu. Tak disangka, antusiasme pengunjung cukup tinggi. 

Duit bathok untuk transaksi

Setelah menukar uang beneran dengan duit bathok, pengunjung bisa membeli aneka produk yang ditawarkan pelaku UMKM. Jangan kuatir jika harga produk di bawah nilai pecahan duit bathok. Pedagang akan memberi kembalian dalam uang rupiah.

Pengunjung yang tidak jadi membeli pun bisa kembali menukar duit bathoknya dengan rupiah, atau menggunakannya di pasar tiban selanjutnya. Meski terkesan agak ribet saat bertransaksi, namun pengunjung justru menikmati membeli barang dengan duit bathok.

Ada sebanyak 40 pedagang di pasar tiban duit bathok. Banyak pelaku UMKM yang ingin ikut bergabung di Pasar Tiban. Namun karena lokasinya masih terbatas, panitia pun hanya mempu memfasilitasi sebanyak 40 orang pedagang saja.

Panitia berencana memperluas pasar tiban dengan memanfaatkan kebun pisang di ujung pasar. Mereka akan mengintegrasikan pasar tiban sebagai kegiatan ekonomi kreatif, pariwisata, dan spiritual,” katanya.


Di kebun pisang itu, nantinya akan dibangun kandang domba, kambing, dan kelinci. Kandang hewan ternak itu akan dimanfaatkan sebagai wahana edukasi bagi pengunjung, khususnya anak-anak kecil. Selain berbelanja, pengunjung akan diajak pupuk kandang maupun kompos.

Perluasan itu diperkirakan mampu menampung hingga 100 orang lebih pelaku UMKM. Pasar tiban memang dikhususkan untuk pelaku UMKM yang telah bergabung di FPM. Muslimin misalnya, pedagang di pasar tiban ini menjajakan produk minuman semacam carica di Wonosobo, namun berbahan buah lokal Kudus. 

produk yang dijajakan di pasar tiban

Minuman itu diambil dari produsen di Desa Pedawang. Dengan konsep yang unik, ia yakin pasar tiban duit bathok akan semakin ramai dikunjungi warga. Pasar tiban bisa menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus.

Sri Rahayu, produsen produk abon ikan juga yakin pasar tiban akan semakin populer. Apalagi pedagang di pasar dadakan itu menjual aneka produknya sendiri. Pasar tiban bisa menjadi etalase untuk mengenalkan produk pelaku UMKM, sekaligus membuat jaringan pemasaran baru. 

transaksi di pasar tiban
Para pengunjung yang datang juga merespons positif kemasan pasar tiban. Mereka berharap semakin banyak produk yang ditawarkan. Mantan Bupati Kudus Muhammad Tamzil yang hadir pada pembukaan perdana pasar tiban mendorong setiap desa menampilkan keunggulan potensinya masing-masing.

Kreatifitas masyatakat itu akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi warga. “Bagus sekali idenya. Ke depan tentunya setiap desa bisa menghadirkan ide-ide bagus seperti ini. Tidak harus sama, karena setiap desa tentunya ada potensi tersendiri yang layak digali dan dikembangkan,” katanya.

Penasaran dengan Pasar Tiban Duit Batok di Kudus? Ini dia Videonya : Cuuuusss

Tuesday, February 27, 2018

Jangan Tanya ini Ke Sedulur Sikep (Samin), Dijamin Menyesal


Komunitas Sedulur sikep atau Samin memiliki kearifan lokal yang unik. Mereka masih memegang teguh ajaran tokoh Samin Surosentiko, hingga saat ini.


Selain masih berbahasa Jawa dalam komunikasi sehari-hari, sebagian dari mereka juga masih menerapkan pendidikan “homeschoolling” ala mereka sendiri. Warga Samin mendidik anak keturunan mereka untuk menjaga adat kebiasaan leluhurnya.

Bagi mereka, yang bertanggung jawab mendidik anak adalah orang tuanya sendiri.


Hanya memang, saat ini ada sebagian Samin yang sudah mulai melek pendidikan modern. Ada beberapa keluarga yang mulai menyekolahkan anak keturunannya di sekolah formal bahkan sampai perguruan tinggi. Meski kenyataannya, mereka kerap kesulitan ketika menghadapi diskriminasi di bangku pendidikan formal.

Salah satu contoh bentuk diskriminasi yang mereka rasakan misalnya, saat si anak harus mengikuti pelajaran pendidikan agama. Lembaga pendidikan formal seperti SD, SMP, maupun SMA negeri belum bisa mengajarkan agama Adam, sesuai keyakinan Samin.

Anak keturunan Samin yang bersekolah, kerap “dipaksa” belajar agama yang diajarkan di sekolahnya. Hal ini kerap memicu kesalahpahaman antara komunitas Samin dengan pengelola sekolah formal.

BACA JUGA :
TUBING EKSTREM ADA DI DESA JURANG
KIRAB TIWUL PALING MERIAH ADA DI DESA INI
DURIAN PELANG, MENYESAL JIKA BELUM PERNAH COBA

Komunitas Samin tersebar di Kabupaten Kudus, Pati, Blora, hingga Bojonegoro, Jawa Timur. Di Kabupaten Kudus, komunitas samin tersebar di sejumlah desa. Paling banyak di wilayah Kecamatan Undaan.

Salah satu tokoh Samin yang masih setia memegang teguh ajaran leluhurnya yakni keluarga Mbah Wargono dan Mbah Niti. Mereka tinggal di sebuah rumah Joglo di Dusun Kaliyoso, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. 

Mbah Wargono

Keluarga Mbah Wargono juga termasuk yang paling getol menolak kehadiran Pabrik Semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Gunretno dan Gunarti adalah dua anak Mbah Wargono yang aktif menyuarakan penolakan pembangunan pabrik semen. Gunarti baru-baru ini bahkan berkampanye anti pabrik semen hingga ke Jerman.

Lihat cara mereka tanpa tedeng aling-aling menagih janji ke seorang calon gubernur di DI SINI

Meski kerap dipandang “aneh” oleh masyarakat awam. Jika mau jujur, justru kesetiaan mereka memegang teguh adat kebiasaan patut dicontoh. Misalnya saja, mereka teguh berbahasa Jawa, mendidik anak-anaknya sendiri, hingga tidak mau mengambil yang bukan haknya.


Mereka juga hidup bersahaja, tulus, dan jujur. Semua dianggap saudara. Jadi jangan pernah merasa sungkan untuk mengutarakan unek-unek.

Meski masih setia dengan adat kebiasaannya, Wong Samin cukup terbuka dengan warga di luar komunitasnya. Mereka membuka pintu lebar-lebar untuk setiap tamunya. Suguhan yang ada di rumahnya, seperti makanan dan minuman, pasti dihadirkan di atas meja ruang tamu.

Namun bagi kamu yang akan dan mungkin berkesempatan berinteraksi dengan mereka, jangan sekali-kali bertanya tiga hal mendasar berikut ini. Saya jamin pasti menyesal telah menanyakanya. Jawaban mereka kerap di luar dugaan. Apa saja pantangan itu?

1. JANGAN TANYA NAMA

Untuk basa-basi, orang yang baru bertemu jamak mengenalkan diri dan menyanyakan nama. Tapi jangan langsung to the point tanya siapa namanya kepada Wong Samin.

Jika Mau tau nama mereka, langsung saja mengenalkan diri. Mereka akan menyebut nama mereka.

2. JANGAN TANYAKAN USIA

Bagi Wong samin, usia itu hanya satu yang dibawa sampai mati. Jadi jangan sekali-kali menanyakan umur ke mereka. “Umurku kan yo mung siji, tak gowo sampe mati (umurku kan satu, tak bawa sampai mati)” begitu jawab mereka.

Triknya, coba tanyakan kapan mereka lahir. Jika beruntung, mereka akan menyebut tahun kelahiran mereka. Itu pun sebatas perkiraaan.

3. JANGAN TANYA ANAK

Khususnya kepada laki-laki samin. Sebab mereka merasa tidak punya anak. Yang manak (melahirkan anak) adalah perempuan samin. Bagi laki-laki Samin, mereka biasa menyebut anak-anak mereka sebagai keturunan. Karena laki-laki yang menurunkan (turunan), dan perempuan yang manak (punya anak)

4. JANGAN SURUH MEREKA MENERKA-NERKA

Jangan pernah tanya hal yang bukan menjadi persoalan mereka. Misalnya saja, jika ditanya jumlah warga samin di luar desanya, atau bagaimana pendapat suatu hal di luar komunitasnya. Mereka pasti menjawab. “Luwih pas ditanyakan ke mereka langsung”.

5. JANGAN MINTA DOA KESELAMATAN

Biasa kan.. kepada orang tua, yang muda selalu minta didoakan, minta agar selamat dalam hal apa pun. Jika diminta hal itu mereka biasa menjawab. “Keselametanku mung siji kok dijaluk (keselamatanku cuma satu kok di minta)”. Untuk mendoakan yang lain, mereka biasa mengucap “Mugo kabeh podo selamete (semoga semua selamat).

Begitu bosqueee....!

Sebenarnya masih banyak jawaban-jawaban unik dari mereka. Kuncinya memang harus banyak mendengar dan sabar memahami bahasa Jawa jika sedang bincang dengan mereka. Wong Samin akan dengan sabar menjelaskan secara runtut, sepanjang apa yang mereka ketahui.

Tanya lah, jika memang ingin bertanya. Tapi siap-siap dengan jawaban yang mungkin membuat kamu shock, atau mungkin justru tertawa karena bisa jadi lucu menurutmu.
omonganem Rumah Mbah Wargono
Rumah Mbah Wargono
Karena keunikannya itu lah. Wong Samin kerap menjadi objek penelitian akademis. Banyak peneliti dari berbagai kampus atau perguruan tinggi di Indonesia yang sudah bertandang ke komunitas tersebut.

Mulai mengulik soal adat kebiasaan, hingga pandangan mereka tentang dunia modern. Siapa tahu, Man Teman semua suatu saat menerima perintah untuk juga bertandang ke komunitas Samin. Bukankah silaturahmi memperpanjang umur dan membuka pintu rezeki? Yang jelas bukan dari Somad saya mendengar kata mutiara itu.