Minggu, 09 Mei 2021

Pijar Park, Taman Wisata Hutan Pinus di Lereng Muria

 


BAYANGKAN, makam malam di bawah teduhnya pohon pinus. Disirami cahaya lampu yang tertata indah. Dingin lereng Muria yang menusuk tulang. Ditambah suara-suara hewan penghuni hutan. Cukup bayangkan dulu.

Setelah itu, mari saya ajak anda menikmati semuanya itu di Pijar Park. Taman hutan pinus di lereng muria Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Destinasi wisata keluarga yang kini beralih rupa lebih kekinian.

Pijar adalah akronim Pinus Kajar. Destinasi wisata milik Perhutani yang sebelumya akrab disebut Bumi Perkemahan (Buper) Kajar. Sejak Maret 2020, pengelolaan Buper Kajar diambil alih oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kajar.

Nama Buper Kajar pun diubah menjadi Pijar Park agar lebih kekinian. Dibawah pengelolaan manajemen baru, Pijar Park kini banyak menjadi jujukan warga yang ingin menikmati pemandangan hutan pinus lereng Muria.

Seandainya pandemi tidak melanda negeri, Pijar Park pastilah ramai pengunjung. Karena pandemi kian akrab saat ini, pengelola pun menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat. Jumlah pengunjung dibatas, tempat cuci tangan dengan sabun di pasang di setiap sudut taman hutan pinus.


Direktur Pijar Park Yusuf menuturkan, pihaknya meneken perjanjian kerjasama dengan Perhutani untuk pengelolaan kawasan hutan pinus Kajar selama dua tahun. Pandemi membuat Yusuf dan anggota LMDH untuk merogoh kocek cukup dalam untuk melengkapi fasilitas prokes.

Yusuf bisa menekan anggaran dengan menggandeng pihak swasta yang ingin berpromosi di Pijar Park. Saat ini, Pijak Park terus menggenjot menambah wahana baru seperti spot foto, flyin fox dan rute tracking.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan membangun joglo dan rumah pohon. Rumah-rumah pohon di lereng bukit nantinya terhubung dengan jembatan kayu. Sebanyak 30 kios food court tengah dibangun di areal depan Pijar Park seluas 25 hektare.

Pengelola juga tengah membangun kedai kopi Colo. “Meski ada pandemi, kami yakin potensi Pijar Park. Dalam dua bulan ini sudah ada sekitar lima ribu pengunjung. Kami yakin Pijar Park akan menjadi destinasi wisata baru di lereng Muria pada khususnya dan Kabupaten Kudus pada umumnya,” kata Yusuf.


Saya berkesempatan menikmati buka bersama di Pijar Park bersama rekan-rekan wartawan di Kabupaten Kudus, Minggu (9/5) sore. Begitu Maghrib tiba, hawa dingin menusuk tulang langsung terasa.

Jika saja tidak ada Covid-19, tentu makin betah bersantai di bawah rerimbunan pohon pinus ditamani cahaya lampu yang terasa syahdu. Ketika jarum jam menunjuk angka 20.00 WIB, kami pun bergegas pamit. Meninggalkan pinus beserta hawa dinginnya, dengan alasan tak ingin berkerumun lebih lama.

Tak sulit menjangkau Pijar Park. Lokasinya berada di pinggir jalan rute ziarah menuju Makam Sunan Kudus di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Lokasinya berada di sebelah kiri setelah tanjakan Kajar.




Dari pusat kota Kudus, hanya butuh waktu tak kurang dari 20 menit untuk menuju ke sana. Akses masuk juga mudah. Rute itu kerap dilewati bus-bus besar para peziarah. Untuk masuk ke Pijar Park, pengunjung dikenakan tiket sebesar Rp 5 ribu per orang. Harga tiket rencananya naik menjadi Rp 10 ribu setelah Lebaran nanti.

Jika ingin menikmati Pijar Park, saya sarankan anda datang beramai-rami atau rombongan. Kontak dulu pengelola Pijar Park untuk mendapat paket pelayanan yang memuaskan. Anda juga bisa memesan paket tracking menuju sungai di bawah bukit.

Pengelola juga menyediakan paket edukasi kopi. Untuk cemilanya, ada gethuk goring khas kajar. Sementara menu andalannya pecel pakis, pecel khas Lereng Muria.


Menariknya, semua menu itu dipesan dari warga sekitar Pijar Park. Pengelola sepertinya ingin berbagi “kue” pendapatan pariwisata dengan warga sekitar. Langkah ini sekaligus untuk pemberdayaan warga di sekitar Pijar Park.

Tertarik datang? Pijar Park akan kembali dibuka H+3 Lebaran mendatang. Yang jelas, tetap taati prokes agar wisata tetap aman di masa pandemi Covid-19 saat ini.



0 komentar:

Posting Komentar