Tuesday, March 20, 2018

Pasar di Kudus ini Tidak Menerima Uang Rupiah



KREATIFITAS memang menular. Setelah Temanggung punya pasar unik di kebun pring (bambu), pelaku UMKM di Kabupaten Kudus tak mau kalah. Mereka menggagas pasar tiban serupa. Tapi bukan di kebun bambu, melainkan di gang rumah warga.


Uang tidak laku dibelanjakan di pasar tiban duit bathok di Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, yang hanya buka setiap Hari Minggu ini. Di pasar ini, duit bathok lah yang menjadi mata uang yang sah.

Namanya juga bathok. alat tukar khusus ini dibuat dari tempurung kelapa (bahasa Jawa Bathok). Dibuat berbentuk bundar, mirip uang koin. Satu keping duit bathok ditebus seharga Rp 5.000. Pengunjung bisa membeli duit bathok di pintu masuk pasar tiban.

Gang selebar sekitar empat meter yang biasanya sepi itu, mendadak berubah menjadi pasar tiban, setiap Minggu pagi. Puluhan pedagang menggelar aneka jajanan dan produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Pasar tiban duit bathok itu dibuka setiap Minggu mulai pukul 08.00 - 14.00 WIB. Pasar unik itu digagas pelaku UMKM yang tergabung dalam Forum Pengusaha Mandiri (FPM) Kabupaten Kudus.

Mereka sebelumnya menjual produknya via online. Tak puas hanya berjualan di dunia maya, mereka pun menggagas pasar tiban, dengan kemasan unik. Maskur, salah seorang penggagas Pasar Tiban mengatakan, sengaja menggunakan duit bathok sebagai alat tukar agar ada kesan tersendiri bagi para pengunjung.

Dengan duit bathok itu, pengunjung bisa bebas membeli produk yang dijajakan. Panitia menyediakan 500 keping duit batok pada dua kali digelarnya pasar tiban itu. Tak disangka, antusiasme pengunjung cukup tinggi. 

Duit bathok untuk transaksi

Setelah menukar uang beneran dengan duit bathok, pengunjung bisa membeli aneka produk yang ditawarkan pelaku UMKM. Jangan kuatir jika harga produk di bawah nilai pecahan duit bathok. Pedagang akan memberi kembalian dalam uang rupiah.

Pengunjung yang tidak jadi membeli pun bisa kembali menukar duit bathoknya dengan rupiah, atau menggunakannya di pasar tiban selanjutnya. Meski terkesan agak ribet saat bertransaksi, namun pengunjung justru menikmati membeli barang dengan duit bathok.

Ada sebanyak 40 pedagang di pasar tiban duit bathok. Banyak pelaku UMKM yang ingin ikut bergabung di Pasar Tiban. Namun karena lokasinya masih terbatas, panitia pun hanya mempu memfasilitasi sebanyak 40 orang pedagang saja.

Panitia berencana memperluas pasar tiban dengan memanfaatkan kebun pisang di ujung pasar. Mereka akan mengintegrasikan pasar tiban sebagai kegiatan ekonomi kreatif, pariwisata, dan spiritual,” katanya.


Di kebun pisang itu, nantinya akan dibangun kandang domba, kambing, dan kelinci. Kandang hewan ternak itu akan dimanfaatkan sebagai wahana edukasi bagi pengunjung, khususnya anak-anak kecil. Selain berbelanja, pengunjung akan diajak pupuk kandang maupun kompos.

Perluasan itu diperkirakan mampu menampung hingga 100 orang lebih pelaku UMKM. Pasar tiban memang dikhususkan untuk pelaku UMKM yang telah bergabung di FPM. Muslimin misalnya, pedagang di pasar tiban ini menjajakan produk minuman semacam carica di Wonosobo, namun berbahan buah lokal Kudus. 

produk yang dijajakan di pasar tiban

Minuman itu diambil dari produsen di Desa Pedawang. Dengan konsep yang unik, ia yakin pasar tiban duit bathok akan semakin ramai dikunjungi warga. Pasar tiban bisa menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus.

Sri Rahayu, produsen produk abon ikan juga yakin pasar tiban akan semakin populer. Apalagi pedagang di pasar dadakan itu menjual aneka produknya sendiri. Pasar tiban bisa menjadi etalase untuk mengenalkan produk pelaku UMKM, sekaligus membuat jaringan pemasaran baru. 

transaksi di pasar tiban
Para pengunjung yang datang juga merespons positif kemasan pasar tiban. Mereka berharap semakin banyak produk yang ditawarkan. Mantan Bupati Kudus Muhammad Tamzil yang hadir pada pembukaan perdana pasar tiban mendorong setiap desa menampilkan keunggulan potensinya masing-masing.

Kreatifitas masyatakat itu akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi warga. “Bagus sekali idenya. Ke depan tentunya setiap desa bisa menghadirkan ide-ide bagus seperti ini. Tidak harus sama, karena setiap desa tentunya ada potensi tersendiri yang layak digali dan dikembangkan,” katanya.

Penasaran dengan Pasar Tiban Duit Batok di Kudus? Ini dia Videonya : Cuuuusss

1 comment:

  1. Bisa terjadi kecurangan gak, misalnya bawa uang bathok hasil bikinan sendiri, hehehe, kan biasanya orang Indonesia kreatif menciptakan "peluang bisnis"... Mantap nih patut ditiru, meski pakai uang bathok, tapi pengunjung gak dirugikan ya, karena kalo harga jual di bawah harga uang bathok, bisa dikembaliin pake rupiah, dan kalo gak jadi belanja uang bathoknya bisa ditukerin lagi sama rupiah...

    BTW, mohon dukungan komennya di artikel judulnya QLAPA, GUDANGNYA PRODUK HANMADE LOKAL UNIK DAN KREATIF. Makasih sebelumyan dan sukses selalu...

    ReplyDelete