Wednesday, November 1, 2017

Ketemu Maudy "Zaenab" dan Garin Membincangkan Seni Pertunjukan



Mengorbitkan Kretor (Seniman) Muda Lewat Proyek Ruang Kreatif
Awal Oktober lalu, dua seniman papan atas Indonesia menyapa kreator muda di Kabupaten Kudus. Keduanya yaitu Sutradara Garin Nugroho dan artis Maudy “Zaenab” Koesnaedi. Keduanya berbagi pengalaman, sekaligus menyemangati para kreator muda yang hadir pada “Bincang Kreatif Seni Pertunjukan Indonesia”

Kepada para peserta Garin menuturkan jika seni pertunjukan di Indonesia masih didominasi seniman itu-itu saja. Penontonnya pun sebatas itu-itu saja. Jika tak muncul kreator muda, seni pertunjukan di Indonesia pelan tapi pasti akan kehilangan daya tariknya.

Regenerasi dalam seni pertunjukan mutlak harus dilakukan. Sayangnya, kreator muda di Indonesia masih kesulitan mempresentasikan ide, konsep, dan karyanya dalam bentuk tulisan (proposal).

Padahal dengan kemampuan menulis proposal pertunjukan yang baik, maka semakin mempermudah membuka akses pendanaan, panggung pementasan, hingga membidik penonton yang tepat.

Ia mengisahkan saat terlibat penjurian proposal karya di Jepang, para kreator muda dituntut mampu menjelaskan konsepnya hanya dalam dua lembar tulisan. Yang menarik, konsep itu bisa mentah dalam penjurian para seniman, namun justru menarik minat kalangan industri pertunjukan.

Dihadapan ratusan kreator muda se-eks Karesidenan Pati, Semarang, Solo dan Yogyakarta yang hadir saat itu, Garin menekankan perlunya kejelian kreator muda untuk memetakan kompetisi (pesaing), kemampuan SDM, serta manajemen, hingga latihan menuju pementasan.

Ia berbagi pengalamannya ketika menggarap pementasan Setan Jawa yang sukses dipentaskan di enam negara. Untuk mengangkat mistisme setan-setan di Jawa dalam pertunjukan yang detail dan mampu menembus panggung di luar negeri. Ia pun harus meriset dan melakukan workshop mendalam.

Kesempatan bagi kreator muda untuk menampilkan karyanya terbuka lebar melalui ajang Ruang Kreatif 2017 yang digagas Bakti Budaya Djarum Foundation. Dari Ruang Kreatif ini ia berharap akan lahir para seniman dan kreator muda di seni pertunjukan yang mampu bersaing dengan seniman di dalam maupun luar negeri.

Susahnya membuat proposal pertunjukan juga dirasakan None DKI Jakarta 1993 Maudy Koesnaedi. Maudy kini menjadi pembina Teater Abnon Jakarta Maudy Koesnaedi. Nama besar yang disandangnya belum ampuh untuk menjaring sumber pendanaan maupun penonton.

Harga sewa panggung besar di Jakarta bisa sampai ratusan juta. Yang membuatnya geregetan, teman-temannya sesama artis baru tahu ada pertunjukan setelah pementasan rampung. Rekan sesama artis baru ribut setelah pertunjukkan rampung.

“Kok ada pementasan sebagus ini kami tidak tahu. Kata mereka. Padahal publikasi kami sudah mati-matian. Mungkin perlu bahasa yang lebih menjual agar pentas kami menarik perhatian para penonton,” katanya.

Buru Diskon

Ia pun harus rajin mendatangi koleganya yang memiliki katering, demi menjamin asupan gizi awak teaternya. Urusan kostum pun, pemeran Zaenab dalam serial Si Doel Anak Sekolahan harus melobi pemilik usaha kain batik demi mendapat diskon.

Belum lagi dibenturkan dengan biaya-biaya selama proses produksi. Meriset budaya Betawi pun cukup menyita waktunya. “Rasanya ingin gantung diri saja karena saking setressnya. Suami pun sampai protes,” ujarnya.

BACA JUGA : WAYANG GOKIL KI ENTHUS SUSMONO TEGAL

Teater Abnon memulai debut pementasan “Cinta Dasima” tahun 2009. Dari semula beranggotakan abang none Jakarta Utara, anggotanya bertambah hingga mewadahi abang none se-DKI Jakarta.
Maudy antusias bertemu dengan para seniman muda di Kudus. Semangatnya menggebu. Apalagi sebelum acara digelar, aktris 42 tahun itu sudah berkeringat saat menyantap garang asem Kudus. Walau rasanya pedas menyengat, namun tandas disantap.

“Saat ini kami melobi Ridwan Kamil (Walikota Bandung – Red) agar bisa pentas di Bandung. Meski tema pertunjukan budaya Betawi, namun tak menutup kemungkinan dibawakan di kota-kota lain di Indonesia,” katanya

Program Officer Bakti Budaya Djarum Foundation Billy Gamaliel mengatakan, program ruang kreatif rutin digelar di Galeri Indonesia Kaya (GIK) selama hampir dua tahun ini. Program ini terbuka bagi seniman muda dengan usia maksimal 30 tahun untuk mengirim gagasan pementasan yang dituangkan dalam “Proposal Art Project”.

Nantinya sebanyak 25 peserta terseleksi yang diwakili oleh pimpinan produksi kelompok komunitas seni berhak mengikuti workshop di GIK pada 19-22 November. Sepuluh peserta terbaik nantinya berkesempatan menampilkan karyanya di GIK, setiap akhir pekan mulai Maret hingga April 2018.

0 komentar:

Post a Comment