Selasa, 12 November 2019

Mewujudkan Transportasi Massal Yang Berdikari

omonganem transportasi
BRT melintas di Kota Lama Semarang
JIKA bisa memilih, saya akan memilih untuk mengosongkan garasi dari kendaraan bermotor. Untuk apa kendaraan pribadi jika akses kendaraan umum mudah dan banyak pilihan. 

Bagi mereka yang tinggal di kota besar, pilihan itu cukup realistis. Pilihan moda transportasi cukup banyak. Mau yang daring (dalam jaringan) atau yang konvensional. Tinggal pilih untuk mencapai tempat tujuan.

Moda transportasi massal darat, laut, dan udara juga semakin nyaman dengan harga tiket semakin terjangkau. Tinggal pilih. Itu kata kuncinya. Moda transportasi yang bisa beradaptasi sesuai keinginan konsumen, itu lah yang bakal menjadi pilihan.

Kembali ke rencana saya mengosongkan garasi yang muncul setidaknya pada awal tahun ini. Maklum, saat itu moda transportasi ojek online sedang booming di Kudus, tempat tinggal saya. Tarifnya terjangkau. Saat itu, banyak pilihan voucher promo (baca : potongan harga) yang memanjakan setiap konsumen.

Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming tarif Rp 1 sekali jalan? Sempat motor saya menganggur. Ojek Online dengan tarif super murahnya menjadi pilihan utama kemana saja tujuan saya.

Perkara tiket murah dalam dunia transportasi memang bukan barang baru. Bisnis transportasi udara sudah lebih dulu menawaran tiket dengan harga miring kepada konsumen. Namun, urusan tarif memang perlu diatur agar muncul persaingan yang sehat.

Terlepas dari itu, ada ceruk besar potensi bisnis layanan transportasi massal di Indonesia. Publik selalu menantikan gebrakan program baru transportasi massal di Indonesia. Ingat ketika busway kali pertama muncul, langsung diserbu warga. Begitu juga ketika LRT dan MRT dikenalan ke publik.

Itu artinya, masyaraka rindu dengan moda transportasi massal yang aman, nyaman, dengan tarif terjangkau. Ketika Kemenhub mengkaji transportasi baru bernama O-Bahn pun, publik tak sabar menunggunya.

O-Bahn merupakan bentuk transportasi gabungan dari Bus Rapid Transit (BRT) dan Light Rapid Transt (LRT) yang digadang-gadang menjadi alternatif pilihan angkutan massal perkotaan di Indonesia.

Kembali ke soal ceruk besar bisnis transportasi di Indonesia. Pemerintah telah melihat itu dengan menerbitkan berbagai kebijakan untuk menumbuhkan transportasi massal. Salah satunya dengan penggunaan komponen lokal.

Pada tahun 2016, Pemerintah telah meresmikan asosiasi manufaktur dan penunjang perkeretaapian. Ada logam, karet, dengan PT INKA (Persero) sebagai integrator. Dengan dukungan dari IKM di sektor perkeretaapian, diharapkan penyediaan kebutuhan untuk kereta bisa lebih menyerap produk dalam negeri .Mulai rangka hingga body kereta.

sumber foto : IG  jakarta_skylines

Hasilnya, LRT Jabodebek (Jakarta Bogor Depok Bekasi) telah mengandung konten lokal atau yang biasa disebut tingkat komonen dalam negeri (TKDN) hingga 60 persen. Pada Selasa (8/10/2019) telah dilakukan pengiriman kereta LRT dari pabrik INKA di Madiun menuju Cibubur.

Menarik ketika Pemerintah fokus pada kandungan lokal moda transportasi massal kita. Penggunaan konten lokal tak sekedar menekan biaya produksi, namun juga terbukti menggerakkan kegiatan ekonomi baru.

Muncul produsen-produsen baru yang membuat komponen kendaraan. Itu artinya, lapangan pekerjaan terbuka. Penataan transportasi massal pun membawa efek domino untuk ekonomi kerakyatan.

Setelah lima tahun sukses menghadirkan transportasi massal perkotaan dan konektivitas antarpulau melalui tol laut dan udara, kini saatnya Pemerintah turut campur menata moda transportasi massal di daerah.

Kebijakan riil Pemerintah dinantikan untuk menggairahkan kembali moda transportasi massal di daerah yang ibarat hidup segan mati tak mau. Kebijakan penggunaan komponen lokal bisa menjadi pijakan untuk memacu konektivitas untuk pemerataan pembangunan.

Pemerataan konektivitas transportasi bakal menciptakan efisiensi. Biaya distribusi barang semakin murah. Dengan tumbuhnya transportasi massal, penggunaan kendaraan pribadi diharapkan berkurang. Hal ini selaras dengan upaya menekan kemacetan hingga mengurangi polusi udara.

Bus dan angkutan umum dengan tampilan dan layanan modern perlu diperluas hingga daerah. Kendaraan umum dengan sumber bahan bakar ramah lingkungan seperti bahan bakar gas sudah saatnya dikenalkan hingga ke daerah.

Dengan penggunaan komponen lokal dan sistem layanan, serta armada yang modern, maka transportasi yang berdikari bakal terwujud. Masyarakat tentu menanti pilihan yang bakal ditawarkan.

Jika itu terwujud, bisa jadi nanti garasi rumah benar-benar kosong dari kendaraan pribadi. Semoga.... 



omonganem transportasi





Referensi :
“Transportasi Berbasis Kereta Harus Banyak Serap Komponen IKM Lokal”. www.bumn.go.id. diterbitkan 26 Maret 2018.
“Fakta-faka terbaru LRT Jabodebek, Termasuk tarif Rp 12.000”. www.merdeka.com. 15 Oktober 2019.
“Kemenhub Kaji Transportasi Baru Bernama O-Bahn”, www.kompas.com, terbit Jumat 28 Juni 2019.

Kamis, 31 Oktober 2019

Taman Celosia, Bandungan Mini di Pinggiran Kudus


DI pinggiran selatan Kabupaten Kudus, ada tempat wisata baru yang tengah menjadi hits sebulan terakhir. Taman Celosia namanya. Tak begitu luas taman bunga ceolosia di Desa Jati Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus ini.

Mungkin karena warna-warni Celosia cocok untuk tempat ber-selfie ria, taman ini pun ramai dikunjungi. Terutama muda-mudi yang berburu konten instastory.

Datang lah pada Minggu pagi. Jalan depan taman ramaai bak pasar tumpah. Banyak pedagang aneka makanan jadul di tempat ini.

Panas terik tak menyurutkan niat Murtiningsih (46) dan anaknya Devinda Elsa (18) untuk berpose di tengah taman bunga Celosia. Setelah berjalan di tengah taman bunga warna-warni itu, Devinda minta ibunya memotret menggunakan telepon genggamnya.

Dalam hitungan ketiga, Murtiningsih mengabadikan foto anaknya di tengah hamparan celosia yang ditanam di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Belum puas, Devina mengajak ibunya ke jembatan bambu di tengah taman.

“Foto di sana lagi Ma, kelihatannya bagus,” ujar Devinda ke ibunya.

Murtiningsih menuruti kemauan anaknya. Jauh-jauh datang dari Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, ibu dan anak itu ingin memiliki banyak koleksi foto di taman bunga yang sedang viral di Kabupaten Kudus itu.

“Kemarin teman-teman di kantor pamer foto di taman bunga ini. Hari ini (kemarin – Red) saya ajak anak untuk melihat ke sini. Ternyata memang bagus tempatnya,” kata Murtiningsih yang hari itu datang ke taman sekitar pukul 11.00.

Taman bunga seluas sekitar satu hektare itu berada di tanah banda desa Jati Kulon. Lokasinya berada di ujung barat kampung, berbatasan dengan areal persawahan. Di bagian pintu masuk, pengunjung disambut deretan kios pasar desa yang menjual aneka buah dan sayuran.

Buah dan sayuran seperti semangka, blewah, kacang panjang, hingga tomat itu merupakan hasil bumi Desa Jati Kulon. Taman Celosia ini melengkapi “kampung lampion” yang sudah lebih dulu dikembangkan di Jati Kulon.

Berawal dari Pasar Desa

Taman bunga celosia itu digagas Kepala Desa Jati Kulon Sugeng Prasetyo (60). Taman bunga itu sebelumnya dibuat sebagai pelengkap pasar desa. Setelah pasar yang didanai Rp 50 juta dari dana desa itu jadi, Sugeng berinisiatif membuat taman bunga di belakangnya.

Pasar desa itu menjadi program inovasi yang dikembangkan Pemerintah Desa Jati Kulon. “Tahun ini kami membuat inovasi kampung sayur dan pasar desa. Tapi ternyata taman bunga ini yang justru viral di media sosial,” katanya.

Baru-baru ini, ada pengunjung dari Rembang dan Lasem yang jauh datang karena penasaran melihat unggahan foto di media sosial. Taman bunga celosia itu pun mendadak jadi destinasi wisata baru di Kabupaten Kudus.

Di Hari Minggu, jumlah pengunjung tembus hingga 100 orang. Hari biasa pengunjung rata-rata 30 orang – 50 orang. Setiap Minggu pagi, jumlah pengunjung melonjak. Selain menikmati warna-warni celosia, pengunjung bisa mencicipi aneka penganan tradisional seperti nasi jagung, sop besusul, dan kuluban lembayung (daun kacang tolo – Red)

Pengunjung dari luar desa dikenai tiket masuk sebesar Rp 10 ribu per orang. Uang hasil penjualan tiket itu digunakan untuk biaya operasional taman.

Maklum, bunga celosia berwarna merah, kuning, dan merah jambu itu hanya bisa bertahan empat sampai lima bulan. Agar terus ada celosia di taman itu, pengelola pun harus rajin menyemai bunga dan melakukan tambal sulam tanaman yang mulai layu.

Semai Sendiri

Dibalik semarak warna-warni bunga celosia Jati Kulon, ada kerja keras sekitar 15 orang pengelola yang dipimpin langsung oleh Sugeng. Untuk mewujudkan taman bunga, Sugeng membeli lima bungkus biji celosia via lapak online. Satu bungkus berisi sekitar 200 biji bunga. “Karena saat itu minim pengetahuan, penyemaian gagal total,” katanya.

Sugeng kembali berjumpa celosia saat mengajak ibu-ibu PKK dan tokoh masyarakat studi banding pengelolaan wisata ke Dieng. Saat berkunjung itu, ia melihat ada celosia tumbuh subur di pekarangan salah satu rumah warga Dieng.

Setelah bertanya cara menanamnya, Ia dan Eruni (58), istrinya, meminta tiga bunga untuk dibawa pulang. Berbekal ilmu dari Dieng itulah, Eruni mulai menyemai biji celosia. “Dari tiga bunga itu, kami berhasil menyemai 10 ribu bunga,” katanya.

Bunga sebanyak itu tak cukup untuk ditaman di lahan yang ada. Sisa bunga pun dibagikan gratis ke pungunjung yang datang. Tak sulit merawat celosia. Bermodal sumur pantek untuk lahan pertanian, taman disiram dua kali sehari.
Taman Celosia Jati Kulon Kudus
Petani tak protes karena mereka bisa menjual hasil buah dan sayuran di pasar desa. Saat panen tomat baru-baru ini, Sugeng mengundang pelajar untuk panen tomat, untuk menambah pendapatan petani. Sugeng bermimpi menjadikan Jati Kulon sebagai destinasi agro wisata.

“Semacam Bandungan mini di Kudus. Petani bisa menjual langsung buah dan sayuran hasil pertanian di pasar desa. Semarak warna-warni celosia ini sebagai daya tarik utama untuk menarik wisatawan,” katanya.

Jepang Corner

Untuk menarik lebih banyak wisatawan, bapak dua anak bersama tim pengelola kini mengagagas “Jepang Corner” di salah satu sudut taman celosia. Di tempat itu akan dibangun rumah mini ala Jepang, lengkap dengan persewaan kimono.

“Semoga bisa terealisasi dalam waktu dekat. Jika berhasil akan kami rintis sebagai unit usaha BUMDes (Badan Usaha Milik Desa – Red) di Jati Kulon,” katanya.

Kehadiran taman celosia ini disebut Plt Bupati Kudus Hartopo sebagai langkah nyata inovasi pengembangan ekonomi warga berbasis masyarakat desa. Kehadiran pasar desa membuat petani lokal memiliki tempat berjualan hasil bumi.



Minggu, 20 Oktober 2019

Asas Kekeluargaan, Daya Tarik Koperasi Zaman Now

Anggota Koptasku berdiskusi di kantor koperasi

BAGI yang besar di awal 90-an, tentu mengenal betul organisasi ekonomi di tingkat desa ini. Namanya KUD. Koperasi Unit Desa, begitu kepanjangannya. Koperasi ini ada di setiap desa.

KUD menjadi “rumah” bagi para petani. Ibarat keluarga yang semua kebutuhannya tercukupi di rumah itu. Kebutuhan pupuk hingga obat-obatan untuk tanaman tersedia di KUD. Bagi petani yang cekak modal, KUD adalah solusinya. Mereka bisa mengajukan pinjaman pupuk atau obat hama, dibayar ketika panen tiba.

Tak berhenti di situ, KUD melebarkan unit usaha mulai membuka toko kelontong, jasa foto copy, hingga pembayaran rekening listrik. Setidaknya itu yang ada di ingatan saya tentang KUD. Saya menjadi saksi betapa sibuknya pengurus KUD kala itu. Setiap awal bulan, saya pasti antre membayar rekening di KUD.

Tapi itu cerita lama. Sekarang, jejak kebesaran KUD nyaris susah dilacak. Entah karena salah urus, atau dukungan kebijakan pemerintah yang kurang, KUD pelan tapi pasti bergerak mundur hingga gulung tikar.

Setelah KUD bangkrut, koperasi simpan pinjam tumbuh subur menjangkau warga di pelosok desa. Mereka menyediakan kemudahan pinjaman, tapi dengan bunga yang amit-amit. Karena tak ada pilihan lain, warga kampung yang butuh dana segar “lari” ke koperasi ini.

Sulit menemukan organisasi koperasi yang menurut definisinya yakni perserikatan yang bertujuan memenuhi keperluan anggotanya, dengan cara menjual barang keperluan sehari-hari dengan harga murah. Begitu definisi koperasi yang ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Menurut data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia, jumlah koperasi aktif di Indonesia per 31 Desember 2018 sebanyak 126.343 koperasi. Dari jumlah itu, terbanyak terdapat di Jawa Timur, sebanyak 24.024 koperasi.

Total jumlah anggota yang berkecimpung di koperasi mencapai 20.049.995 orang. Jika ditotal, volume usaha mencapai Rp 145,862 triliun lebih. Modal sendiri yang dihimpun mencapai Rp 74,904 triliun lebih, sisanya modal dari luar sebanyak Rp 66,222 triliun lebih. Sisa Hasil Usaha yang tercatat lebih dari Rp 6,112 triliun.

Angka yang cukup fantastis sebagai penggerak ekonomi di zaman now. Setelah kangen melihat koperasi sebagai organisasi ekonomi yang memegang teguh prinsip dari, oleh, dan untuk anggotanya, saya kembali menemukannya saat sedang beburu tas dalam jumlah banyak.

Berjumpa Koptasku

Sebagai warga Kota Kretek yang dekat dengan internet, menjelajah dunia maya menjadi pilihan pertama saya mencari sesuatu. Semua berawal dari informasi di dunia maya. Ketika mencari informasi produsen tas di Kota Kudus melalui layar ponsel, pandangan saya berhenti di website Koptasku.

Tertarik dengan salah satu produknya, saya pun meluncur ke lokasi. Sampai akhirnya saya bertemu dengan anggota Koperasi Tas Kurma (Koptasku) di Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Menarik. Koptasku menjadi “rumah” bersama bagi pelaku usaha kerajinan tas dan dompet di Desa Loram Wetan dan sekitarnya. Seperti dejavu. Seketika memori saya kembali ke era 90-an saat mengenal KUD yang melegenda itu. Kali ini dalam bentuk lain.

Di Kudus, usaha tas berkembang pesat di Desa Loram Wetan, Loram Kulon, dan Getas Pejaten. Di tiga desa tersebut, sudah bermunculan pengusaha besar dengan jaringan pemasaran hingga berbagai daerah di Indonesia.

Namun, banyak perajin tas yang masih kesulitan menembus pasar atau sekedar meningkatkan kualitas produksi. Mereka biasanya perajin baru. Keterbatasan modal menjadi penyebab utamanya. Lewat Koperasi Tas Kurma ini lah, persoalan ketersediaan bahan baku diatasi.

Untuk meningkatkan kualitas, mereka tak segan saling memberikan masukan terkait produk masing-masing. Uniknya lagi, para anggota bisa memperluas jaringan pemasaran melalui koperasi tersebut. Salah satunya melalui fasilitasi pameran yang digelar oleh pemerintah daerah dan website.

Dari website dan pameran itu lah jejaring usaha dibentuk. Tak sedikit order yang datang dari dua pintu tersebut.

Aneka tas produksi perajin anggota Koperasi Tas Kurma (koptasku) 
Dari jumlah anggota sebanyak 21 perajin saat dirintis akhir 2014, jumlah anggota kini bertambah menjadi 39 orang perajin. Mereka membuat aturan untuk melahirkan persaingan yang sehat antar perajin.

Salah satunya dengan mewajibkan setiap anggota membuat desain sendiri tas produknya. Para pengurus dan anggota lainnya akan memberi masukan bagian mana yang harus diperbaiki. Setelah disetujui, tas perajin akan dilabeli dengan merek Cintek.

Cintek merupakan merek bersama, kepanjangan dari Centra Industri Tas Kudus. Setiap tas diberi kode sendiri. Saat ada pesanan untuk tas kode tertentu, koperasi pun tau siapa yang membuatnya.

Dengan aktif di koperasi, para anggota yang rata-rata masih berusia muda mampu menekan biaya produksi. Misalnya dalam pembelian bahan baku. Karena jumlah anggota banyak, koperasi membeli bahan baku dalam jumlah banyak. Harganya pun lebih murah, ketimbang jika para perajin membeli bahan baku sendiri-sendiri.

Selain memasok tas ke koperasi, perajin juga dibebaskan menjual tas produksinya ke pedagang secara langsung. Dengan catatan, desain untuk dijual ke pedagang harus berbeda dengan model yang dijual melalui koperasi.

Koperasi Tas Kurma menjadi bukti kontribusi koperasi zaman now terhadap kesejahteraan bangsa. Koperasi selalu relevan dengan zaman. Bahkan teknologi digital berjasa besar mengenalkan koperasi ke dunia luas. Hingga akhirnya, mampu memberi manfaat bagi anggotanya.

Koperasi ini membuktikan mewujudkan mimpi bersama melalui koperasi bukan hal yang mustahil. Mereka yakin, koperasi sebagai sebuah organisasi ekonomi yang berdasarkan asas kekeluargaan adalah nilai plus di era yang serba cepat ini.

Ibarat rumah tempat berkumpulnya keluarga. Tidak ada atasan atau bawahan. Koperasi dibangun untuk kepentingan bersama. Persis seperti pesan Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia. Pendamping Bung Karno di awal kemerdekaan RI ini pernah berkata :

“Dasar Kekeluargaan itu lah dasar hubungan istimewa pada koperasi. Di sini tidak ada majikan dan buruh, melainkan usaha bersama di antara mereka yang sama kepentingan dan tujuannya,”.

Berkaca dari kondisi sosial zaman kekinian, kekeluargaan dan kesetaraan bakal menjadi dua aspek daya tarik koperasi zaman now. Di tangan milenial, koperasi tentu akan bertransformasi menjadi bentuk yang lebih segar, namun tetap memegang prinsip dan asas koperasi.

Bukankah di Indonesia, sejarah dan tren selalu saja berulang?





Referensi :
-depkop.go.id/data-koperasi
-https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/07/25/berapa-jumlah-koperasi-di-indonesia
-Hatta Jejak Yang Melampaui Zaman, Seri Buku Saku Tempo Bapak Bangsa

Minggu, 08 September 2019

KPAI Jangan Tanggung-Tanggung



Peringatan hari olahraga nasional 9 September tahun ini terasa sangat Istimewa. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan kado termanisnya untuk pecinta bulu tangkis Indonesia.

Apalagi kalau bukan “kekalahan” Perkumpulan Bulu Tangkis (PB) Djarum Kudus yang akhirnya memutuskan mengakhiri audisi umum beasiswa bulu tangkis tahun ini. Pengumuman penghentian audisi umum beasiswa bulu tangkis oleh Djarum jadi headline di mana-mana

Bisa jadi, final Audisi di Kudus 20-22 November 2019 menjadi akhir dari audisi umum beasiswa bulu tangkis PB Djarum yang bergulir sejak 2006.

1-0 untuk KPAI.

Lantas, apakah Djarum benar-benar akan “pamit” dari dunia bulu tangkis? Tenang saja. orang-orang klub Djarum tidak secetek itu. Mereka orang-orang bermental kuat. Sudah kenyang kalah menang di lapangan tepok bulu.

Saya yakin, mereka orang-orang yang tulus mengembangkan bulu tangkis. Menyalakan api semangat bulu tangkis ke pelosok negeri, begitu istilah Program Direktur Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin pada suatu kesempatan.

Sebagai warga aseli Kudus yang memantau audisi sejak 2014, saya yakin PB Djarum tetap akan ngopeni atlet-atletnya.

Jadi.. KPAI Tenang saja.... Kalian sudah bekerja dengan baik.

Urusan pembinaan olahraga sejatinya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Syukur-syukur KPAI mau buat sekolah pembinaan olahraga featuring yayasan Lentera. Apalagi KPAI adalah sekumpulan orang yang paling paham tentang anak-anak agar tidak tereksploitasi. Pasti punya metode dan kurikulum yang lebih pro-anak.

KPAI tenang saja... Kalian sudah bekerja dengan baik.

PB Djarum punya banyak metode merekrut atlet. Selain dari audisi umum, mereka rajin memantau talenta-talenta muda berbakat lewat kejuaraan. Istilah PB Djarum rekrut atlet via “Audisi Khusus”.

Jika dirunut sejak 2006, siapa sih atlet PB Djarum yang sukses di level dunia, yang betul-betul lahir dari audisi umum? Paling cuma Kevin Sanjaya Sukamulyo seorang. Untuk saat ini.

Dari ribuan atlet yang mendaftar audisi umum dari berbagai pelosok daerah, yang betul-betul keterima sampai tahap karantina rata-rata 40-an anak. Yang diterima di tahap selanjutnya, rata-rata tak lebih 24 orang...!

Kemana mereka yang lain. Tenang KPAI, di Indonesia banyak klub bulu tangkis besar lainnya.

Lim Swie King, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Ivana Lie juga bukan jebolan audisi umum. Toh mereka kini jadi legenda bulu tangkis Indonesia asal Klub Djarum Kudus.

Sekali lagi. Jika membaca berita-berita yang beredar, yang dihentikan itu audisi umum. Jika tiba-tiba Djarum “pamit” dari bulu tangkis, itu baru geger. Ada apa dengan Djarum?

KPAI tenang saja... Kerja jangan tanggung-tanggung...!

Jangan berhenti hanya menyoroti audisi umum saja. itu kejuaraan-kejuaraan daerah sampai sekelas sirkuit nasional (sirnas) bulu tangkis banyak disokong Djarum. Sapu saja semua. Bersihkan olahraga dari branding perusahaan pengolah tembakau.

KPAI tenang saja... Kerja jangan tanggung-tanggung...!

Infonya Djarum juga peduli dengan pendidikan. Googling saja. Berapa sekolah yang sudah dibangun, difasilitasi, didampingi. Sebagian lulusan SMK “binaan” Djarum kini sudah merintis kerja di luar negeri. Ada yang kerja di kapal pesiar, koki hotel, hingga desainer. Bayarannya gede. Orang tua mereka bangga bukan main.

Jangan tanggung-tanggung dong KPAI....!

Tau kan program penghijauan Pantura yang diekspose besar-besaran di media cetak, online, hingga televisi. Bahaya lho...! anak-anak kita menghirup udara dari pohon yang ditanam perusahaan rokok. eh..

KPAI jangan tanggung-tanggung...!

Emang hanya bulu tangkis saja yang menikmati manisnya duit rokok. Kita sedang bahas anak-anak kan? Bersihin semua... Bersihin...!


.

Kamis, 22 Agustus 2019

Semangat Perjuangan Film Dokumenter Anak “A Ba Ta Macane”



DESA Piji hujan peluru. Desa di lereng Muria Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, yang semula tenang berubah mencekam. Penjajah Jepang yang menduduki Indonesia mengambil alih desa. Warga melawan. Mereka melancarkan perang gerilya.

Jauh di seberang samudera, tentara Amerika menjatuhkan bom atom Amerika di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, 6 Agustus 1945. Serangan itu membawa angin segar di Tanah Air. Rakyat bangkit. Mereka melucuti tentara Jepang.

Sejumlah tentara Jepang yang masih tersisa menjadi tawanan. Euforia kebangkitan pun dirasakan rakyat bersama para pejuang kemerdekaan di lereng Muria. Ketika para pejuang berhasil melucuti tentara penjajah, suasana desa pun kembali damai. Petani kembali menggarap sawah, anak-anak mulai tenang mengaji.

Indonesia kembali bergejolak saat tentara Sekutu yang dipimpin Jenderal TED Kelly mendarat di Indonesia, 9 Oktober 1945. Tentara NICA yang membonceng Sekutu berusaha merebut kembali senjata yang disita tentara Merah Putih.

Rakyat kembali mengangkat senjata. Di Piji, seorang kiai memimpin rakyat melawan tentara Belanda. Perjuangan rakyat tak sia-sia. Mereka berhasil mengusir tentara penjajah dari desa tanah kelahirannya.

Adegan heroik itu merupakan sekelumit kisah dalam film dokumenter perjuangan “A Ba Ta Macane”, garapan anak-anak Desa Piji. Di bawah arahan Sutradara A Ba Ta Macane M Ulul Azmi (Kak Citul), anak-anak dengan segala keluguannya berakting sebagai tentara merah putih, petani, hingga tentara Belanda.

Film dokumenter dengan durasi sekitar 30 menit itu diputar pada malam tirakatan 17 Agustus lalu di perempatan kampung Piji Wetan RT 4 RW 3 Desa Piji. Semua warga kampung khusyuk menyimak setiap adegan anak-anak. Warga spontan tertawa saat ada adegan lucu, atau ketika ada tokoh yang lupa dialognya.

Film yang dibalut dengan animasi untuk mendramatisasi peperangan itu mendapat samputan hangat dari warga. A Ba Ta Macane ini adalah film kedua. Saat perayaan HUT Kemerdekaan tahun lalu, anak-anak Piji juga membuat film dokumenter dengan tema yang sama. Semua pemainnya juga anak-anak.


Membuat film dokumenter, seolah telah menjadi tradisi tak terlewatkan bagi anak-anak Desa Piji. Azmi, pemuda Desa Piji yang juga pegiat teater di Kudus itu terlihat membebaskan anak asuhnya dalam berakting. Dalam film itu, sejumlah anak yang terlihat tersenyum malu saat seharusnya beradegan serius dibiarkan saja.

Pun dengan gambar-gambar yang “bocor” seperti munculnya sebuah kendaraan bebek keluaran terbaru dalam frame film tak diedit. Meski begitu, pembuatan film indie itu layak diparesiasi.

Film itu dibuat untuk mengenang jasa para pejuang, sekaligus hendak menggugah semangat cinta tanah air bagi anak-anak di desa kami. Karena itu, cerita yang diangkat tak jauh-jauh dari tema nasionalisme dan perjuangan. Setting lokasi yang semuanya di Desa Piji membuat anak-anak lebih dekat dengan semangat perjuangan para pahlawan.


Meski semua pemerannya anak-anak, campur tangan para orang tua tergambar dalam setiap adegan film. Para orang tua secara sukarela menyediakan rumah-rumah mereka untuk pengambilan gambar. Azmi mengatakan, semua warga terlibat dalam penggarapan film ini.

Semua warga teribat karena. Ini sejalan dengan semboyan HUT ke-74 Kemerdekaan yang diusung warga desa, yakni “Sing cilik ngrameni, sing enom nyengkuyungi, sing ibu-ibu njangani, sing bapak nyemanagti, sing sepuh dongani”.

Dalam Bahasa Indonesia, semboyan itu kurang lebih berarti yang kecil (anak-anak) meramaikan, yang muda (remaja) saling membantu, yang ibu-ibu masak menyiapkan makanan, yang bapak memberi semangat, yang tua ikut mendoakan – Red).

Usai diputar perdana dengan menggelar nobar (nonton bareng – Red) pada malam tirakatan, film A Ba Ta Macane itu diunggah Azmi di kanal Youtube “Ruji Pilm” yang dikelolanya. Film-film dokumenter garapan anak-anak Piji Wetan yang sudah dirilis juga diunggah di akun itu.