Senin, 06 Mei 2019

Mei dan Horoisme Pergerakan Mahasiswa 1990-an




BULAN Mei 1998 dicatat dalam tinta sejarah Indonesia bagaimana mahasiswa menjadi bagian gerakan reformasi menumbangkan pemerintah order baru. Gerakan “people power” itu tidak tiba-tiba terjadi. Ada proses panjang yang dirintis oleh kelompok aktivis Mahasiswa dalam menanamkan keberanian rakyat.

Seluk-beluk pergerakan mahasisa itu ditulis secara detail dalam novel sejarah “Lelaki di Tengah Hujan” karya Wenri Wanhar. Novel sejarah itu dibedah dalam Musyawarah Buku pada peluncuran event bulanan Jagong Pelataran di halaman Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Sabtu (4/5/2019) malam.

Lelaki di Tengah Hujan menghadirkan kembali fragmen sejarah heroisme pergerakan mahasiswa 1990-an secara detail. Novel ini relevan diperbincangkan saat ini. Tak hanya bertepatan dengan Bulan Mei, namun karena frasa people power selalu diteriakkan oleh sejumlah elit di Indonesia, belakangan ini.

Musyawarah buku “Jagong pelataran” itu dihadiri oleh penulis “Lelaki di Tengah Hujan” Wenri Wanhar, sejarawan Kudus Edy Supratno, Aktivis PRD Kholid Mawardi, dan pemerhati sejarah Adhitia Armitrianto.

Menurut Wenri, buku ini bermula dari catatan harian yang dia kumpulkan dari keterangan para aktivis yang nyata-nyata meletakkan fondasi keberanian rakyat. Catatan itu kemudian disusunnya menjadi skripsi.

Reformasi 1998, lanjut Wenri, bukan serta merta terjadi. Ibarat membangun candi, ada yang meletakkan fondasi-fondasinya. Uniknya kelompok yang tergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) itu saat bercerita tidak pernah mengklaim yang paling berjasa.

Saat ditanya, mereka justru menyebut nama lain lah yang paling berjasa. Ada kelompok yang saat ditanya selalu lempar bola. Padahal kata orang mereka lah yang paling berjasa. “Saya pikir ini lah orang-orang yang berjuang. Pejuang kan tidak pernah men-daku-daku,” katanya.

Solidaritas sesama “kawan” dalam kelompok itu pun sangat kuat. Mereka memiliki semboyan : Semua yang ada di bumi boleh dimakan, kecuali kawan.

BACA JUGA :
Yang Asing Di Kampung Sendiri
Koran Kami With Lucy In The Sky

Adhitia Armitrianto menuturkan, sebagai partai politik gerakan PRD yang dimotori kelompok mahasiswa, seperti yang ditulis di novel itu, cukup unik. Tahun 1999, mereka ikut sebagai peserta pemilu untuk pertama kalinya. Namun disisi lain mereka juga “menjual” slogan boikot pemilu.

Sejarah yang ditulis dalam genre novel masih sangat sedikit. Novel “Lelaki di Tengah Hujan” ini penting untuk mengingatkan ancaman kembalinya orde baru. Ancaman itu bukan hanya soal keluarga Cendana dengan partainya, tetapi sistem pemerintahan gaya orde baru yang berpotensi muncul lagi

Tanpa memahami sejarah, kata Sejarawan Kudus Edy Supratno, maka kita tidak mengetahui peristiwa apa yang terjadi di masa lalu. Sejarah saat ini kurang diminati karena tulisannya bersifat akademis. Gaya penulisan novel dinilai tepat untuk mengangkat isu sejarah.

Novel-novel sejarah banyak diminati. Parameter sederhananya, novel sejarah seperti itu kerap dicetak ulang.

Wenri Wanhar, penulis Lelaki di Tengah Hujan
Kholid Mawardi menambahkan, buku ini jangan hanya dilihat soal identitas kelompok tokoh-tokohnya saja. Yang lebih menarik adalah bagaimana mempelajari pola pergerakan mahasiswa saat itu.


Pada novel itu secara gamblang ditulis bagaimana pertemuan-pertemuan ilegal digelar, bagaimana mereka menggerakkan organisasi. Ibarat pepatah : Jika tidak pernah bergerak, maka tidak akan pernah sampai.

Sampai saat ini, orang-orang aktivis mahasiswa dan PRD yang bergelut pada era Reformasi masih meyakini apa yang saat itu dilakukannya adalah hal yang benar.




0 komentar:

Posting Komentar